DIARY BUNDA FITRI: 6 Tips agar Anak Semangat Berpuasa


FITRI RESTIANA | Penulis, pemilik blog www.fitrirestiana.web.id

SETIAP orangtua memiliki aneka cara agar anak-anaknya siap menjalankan puasa. Ada yang mudah, ada juga yang harus melalui jalan berliku. Berputar dulu hingga pada akhirnya sampai di titik dasar, ‘mau’.

Tak apa. Bukankah menghargai proses, walau berjalan pelan, lebih baik daripada memaksa anak melakukan tapi abai memberikan pemahaman? Dalam konteks pembelajaran di usia anak-anak, ya. Bukan praremaja, remaja, terlebih dewasa.

Bagi kami, kakak beradik, 7 anak yang menjadi yatim di usia 1 hingga 13 tahun, Ramadan selalu memiliki banyak cerita. Tentang menu sahur dan berbuka, jeduman, rebutan kembang api, salat tarawih, jalan sehat usai subuhan, baju baru, minuman plus kue lebaran, ngaji, dan banyak lainnya.

Semua berkesan hingga sekarang. Mama, sang perempuan hebat itu selalu memiliki tips khusus agar kami mampu melewati puasa dengan apa adanya. Tentu disertai tawa, cemberut, bahkan airmata.

Berikut ini enam tips agar anak semangat menjalani puasa yang diterapkan Mama semasa kami kecil. Sebagian besar saya aplikasikan kepada dua anak lelaki saya dan insya Allah berhasil.

Tips pertama.

Medekati Ramadan, jelaskan makna puasa dengan bahasa yang sesuai dengan usia anak. Bahwa selain merupakan rukun Islam ketiga yang wajib dijalani setiap muslim, puasa mengajarkan banyak hal.

Merasakan bagaimana menahan lapar, haus, dan emosi. Bersyukur atas rezeki yang didapat dan supaya kita mau berbagi dengan para saudara yang kurang mampu.

Biasanya mama bercerita saat ngobrol santai dan jika ada yang bertanya. Bisa juga membuat tulisan-tulisan penyemangat yang ditempel di dinding. “Aku Anak Soleh/Solehah”, “Selamat Datang Ya Ramadan”, “Kami Siap Berpuasa”, dan sebagainya.

Tips kedua.

Sejak TK kami semua sudah diajarkan berpuasa walaupun tidak setiap hari dan full. Pola yang diterapkan adalah menambah jam puasa sedikit demi sedikit.

Misalkan hari pertama hingga keempat sampai pukul 10, hari kelima jadi pukul 11, dan begitu seterusnya. Sepertinya selama TK saya cuma mampu bertahan sampai angka 14 WIB.

Pas kelas 3 SD baru bisa full satu hari. Itu pun tak sebulan penuh. Mama cukup permisif mengingat saya anak satu-satunya yang mendapat ‘warisan’ penyakit asma.

Tips ketiga.

Memenuhi keinginan buah hati. Supaya puasanya tambah semangat, Mama mengabulkan permintaan saya, yaitu minta dibelikan mainan tas belanja dari plastik (sangkek).

Bentuknya persis seperti yang biasa dipakai ibu-ibu ke pasar, cuma ukurannya mini. Saya suka banget, karena lucu dan unik.

Kata mama, “Fifi bisa simpan jajanan di sangkek ini untuk buka puasa nanti. Kalau bisa lebih lama dan nggak rewel, nanti Mama tambah jajanannya,” bujuk mama sambil mengedipkan mata.

Woow, tentu saja saya lebih semangat. Jadilah setiap menjelang zuhur saya ke warung Mbah lalu mengisinya dengan susu, permen cicak, roti es, cokelat jago dan Chiki Balls (makanan ngetop era 1980-an).

Bahagia sekali kalau berhasil lolos puasa setengah hari atau lebih. Intinya, kabulkan permintaan anak selagi orangtua mampu dan kuat.

Tips keempat.

Membuat menu request anak. Walau mama asli Minang, tapi beliau tak melulu masak dengan bumbu tajam dan pedas. Selera kami menengah.

Menu standar adalah telur sambal. Atau kalau lagi darurat, mama membuat telur dadar tebal berisi kentang dan wortel yang sampai sekarang saya belum lulus meraciknya. Dari aroma, bentuk sampai rasa, masih zonk. Hehehe.

Sesekali kami minta dibuatkan menu khusus. Yang laki-laki senang gulai usus atau cumi, saya tempe manis udang rebon. Mama dengan senang hati memasaknya walau dari dua menu itu tak satu pun yang benar-benar beliau suka.

Tips kelima.

Berbagi dengan anak yatim piatu. Tradisi ini berlangsung hanya beberapa kali setelah Papa wafat.  Tapi tentu saja kami masih mengenangnya dengan baik.

Sebuah kebahagiaan melihat binar mata mereka ketika berselawat, melantunkan ayat suci, menerima amplop dan menatap kami malu-malu. Kata mama, kami semua bersaudara dengan mereka.

Jadi, bagaimanapun keadaannya, semua saudara harus saling menyayangi. Itu selalu kami ingat. Sampai sekarang.

Tips keenam

Memberi hadiah untuk puasa dan hafalan surat pendek. Biasanya ini dilakukan bersamaan dengan pemberian THR dan memakai baju baru plus aksesorinya. Waah, pokoknya tiap Lebaran kami merasa jadi orang kaya deh, hahaha.

So, selamat berbahagia menyambut Ramadan bersama ananda dan seluruh anggota keluarga tercinta lainnya.(*)

 


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB ILHAM MALIK: Jungkir Balik Perencanaan Pembangunan, Perebutan Kekuasaan dan Keadilan

UNTUK para urban planner dan regional planner BANYAK yang mengatakan bahwa pekerjaan urban planning itu …