DIARY BUNDA FITRI: Arung dan Uang Kembalian


FITRI RESTIANA | Co-founder Tapis Blogger Lampung, pemilik blog www.fitrirestiana.web.id

PANAS sangat terik. Keluar rumah sebenarnya bukan pilihan tepat hari ini. Tapi berhubung di warung tak ada lagi tersisa bahan mentah untuk diolah, maka satu-satunya jalan adalah ke pasar.

Sekalian membeli bahan makanan untuk persediaan selama tiga hari ke depan. Lumayan bisa lebih hemat.

Bukan pasar namanya kalau tak ramai. Bahkan pada tanggal tua sekalipun. Aroma daging mentah, ikan segar, bumbu dapur, ditambah suara deru mesin peggilingan cabai, membuat saya tak ingin berlama-lama di titik itu.

Ditambah lagi si bungsu Arung yang tadi merengek minta ikut, sekarang malah merajuk ingin pulang. Khawatir akan menggoncang seisi pasar dengan tangisannya, lebih baik saya bergegas memilih belanja bahan lauk saja. Yang lainnya bisa besok-besok di warung dekat rumah.

Si bungsu tak mau digendong, tapi juga tak bisa berjalan cepat. Jadilah saya agak gemas-gemas gimana gitu.

“Ayo, Dek! Katanya mau cepat sampai di rumah?” tanya saya meraih tangannya agar tak mengganggu lalu lalang di gang dalam pasar yang lebarnya 1,5 meter.

Sambil berjalan dia rupanya memperhatikan seorang nenek yang terlihat serius menggoyang-goyangkan kain mengusir lalat di atas dagangannya: ikan teri, udang rebon dan lain-lain.

“Beli, Nda,” ujarnya menunjuk ke si nenek.

“Memangnya Adek suka ikan teri?” tanya saya mengernyitkan alis.

Enggak. Beli aja.”

Baiklah. Demi menjaga stabilitas emosinya, saya turuti. Saya beli sebungkus ikan teri. Harganya Rp7 ribu. Saya berikan satu lembar Rp10 ribu disertai senyuman. “Ambil saja kembaliannya, Nek.”

Cah ganteng. Nanti minta Mama gorengin, ya,” ujar nenek terkekeh.

Arung mengangguk sambil tertawa. “Neneknya enggak punya gigi. Lucu, ya, Nda.”

Hush.” Semoga sang penjual ramah tak mendengar. Saya sempat membatin, “Paling juga Arung minta dibelikan teri hanya karena kasihan. Sejak kapan ini bocah suka teri.”

Dan benarlah. Ketika pulang saya bertanya kepadanya kenapa mau membeli ikan teri. “Arung kasihan dengan nenek itu, enggak ada yang beli-beli. Tadi kembaliannya enggak Bunda ambil, ya? Bunda kasihan juga, kan?”

Saya mengangguk sambil mengucek rambutnya.

“Bunda baik!” lanjutnya sambil nyengir dan mengecup saya. Ahh.. anak ini memang paling senang mencium saya bahkan setelah dia marah sekalipun

Apa perasaan saya? Asli meleleh. Uang Rp3 ribu bisa membuatnya semakin ‘jatuh cinta’ kepada sang bunda. Hihihi.

Kejadian berulang saat keesokan harinya kami berkunjung ke rumah seorang sahabat. Ada seorang kakek terseok-seok mendorong sepeda berisi opak, kerupuk, pepaya, rambutan, jagung, singkong dan beberapa buah lainnya.

“Arung sudah lama enggak makan opak. Itu ada yang jual, Nda,” tunjuknya ke arah si pak tua.

Idih, anak ini punya radar apa, ya? Secara saya juga memang ingin menghampiri. Akhirnya tak hanya opak, kami juga membeli pepaya, pisang dan singkong.

“Bayarnya kayak kemaren kan, Nda? Kembaliannya untuk si Mbah? Iya, kan?” bisiknya.

Saya mengangguk mantap. Mata Arung berbinar. Saya lihat dia memperhatikan gigi si mbah. “Ompong seperti nenek kemarin nggak, ya?” Mungkin begitu pikirnya.

*****

Bagi banyak orang, lembaran ribuan mungkin tak begitu berarti. Sekadar sempalan uang saku anak-anak atau untuk jajan permen. Tapi buat pedagang di pasar yang modalnya cuma puluhan ribu dan atau tak punya lapak, uang itu tentu bermakna besar.

Tambahan pendapatan berarti dia bisa membeli lauk yang lebih variatif atau bisa menabung untuk biaya anak sekolah yang makin lama digitnya semakin sulit diterajang akal.

Saya sendiri sengaja tak mengambil uang kembalian bukan bermaksud hendak merusak harga pasaran atau tak menghargai uang, apalagi sombong. Bukan.

Tindakan itu lebih kepada pembelajaran membangun kesadaran diri sendiri dan anak-anak untuk berbagi. Juga sebentuk kekaguman kepada orang-orang yang berjuang walau usia sudah menua, rambut sudah memutih, dan gigi nyaris tanggal semua.

Mereka adalah orang-rang yang luar biasa. Ini terlepas dari apakah mereka bekerja karena kebutuhan atau sekadar mengisi waktu luang. Whatever.

Sederhananya begini, apa yang saya contohkan ke Arung mungkin terlihat sepele. Hanya merelakan uang tiga sampai lima lembar ribuan. Tapi saya berharap kebiasaan itu akan membekas nanti ketika dia dewasa. Punya empati yang baik dan tanggap terhadap lingkungan sekitar.

Kalaupun digitnya masih jauh di bawah harapan, jangan kecil hati. Bukankah amal besar bisa jadi merupakan kumpulan dari amalan-amalan kecil? Bukankah tabungan yang banyak bermula dari yang sedikit? Bukankah utang yang membengkak bisa tersebab karena banyaknya utang kecil di sana-sini? Eh.

Sore ini saya ajak Arung ke mal untuk membeli baju kaos. Tak apalaah sesekali. Harganya Rp70 ribu.  Saya serahkan selembar Rp100 ribu ke kasir. Ketika antre di kasir, Arung berbisik lugu sambil mengernyitkan alis, “Nda, kembaliannya mau dikasih ke Tante itu?”

“Menurut Adek?”

Enggak usah, Nda. Tantenya masih muda. Kita kasih ke yang sudah tua saja. Kalau ke pasar seperti waktu itu,” jawabnya yakin.

Hihihi, saya sih yes. Tiga puluh ribu eeuy. Mal euy.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

CITIZEN REPORTER: Scooter, Fasilitas Baru Penolong Jemaah Haji-Umrah

  Laporan Dr Eng Admi Syarif Dosen FMIPA Universitas Lampung Langsung dari Mekkah, Arab Saudi …