DIARY BUNDA FITRI: Arti Kepemilikan


FITRI RESTIANA | Co-founder Tapis Blogger Lampung, pemilik blog www.fitrirestiana.web.id

SELESAI khitan, anak pertama saya yang berusia 10 tahun minta dibelikan “tablet”. Saya dan suami butuh diskusi panjang untuk memenuhi keinginannya.

Bujukan pertama yang keluar dari mulut si sulung adalah, “Jadi beli, ya, Nda. Aku sudah menabung dari uang saku dan amplop waktu khitan. Bunda tinggal nambahin aja.”

Kami pancing dengan pertanyaan standar, semisal masalah uang, bagaimana perawatannya, game apa saja, hingga meruncing kepada satu simpulan. “Kenapa?”

“Karena aku mau main game! Seru! Aku janji bisa ngatur waktu main, ngerjain tugas rumah, belajar, main dengan teman-teman, murojaah, jaga adek. Pokoknya aku janji!”

Kami penuhi? Akhirnya, ya, dengan berbagai kesepakatan. Antara lain:

  1. Tetap menjalankan tugas sebagaimana biasanya. Tugas ini akan bertambah seiring usia. Dari membuang sampah, menyapu teras, cuci piring setelah makan, mengajak adek main, dan lain-lain (walau pada kenyataannya lebih banyak ngajak nangis daripada ngajak main)
  2. Segala pekerjaan wajib dijalankan dengan ketekunan dan tanpa paksaan (Butuh tenaga ekstra untuk terus mengingatkan. Bila perlu ditambah delikan sayang dan tarikan napas yang panjaaaaaang banget)
  3. Salat tepat waktu.
  4. Murojaah tanpa diperintah.
  5. Bermain gadget maksimal 2 jam per hari yaitu di waktu siang sepulang sekolah dan sore. Pagi dilarang memegang gadget, bahkan menyalakan televisi.
  6. Menjaga dan memelihara (terutama) mainan dan barang-barang pribadi miliknya.

Well, sekian waktu berjalan, konsistensi ananda semakin mengendur. Beberapa kesepakatan dilanggar. Tugas-tugasnya diabaikan, terutama poin 6.

Sering kami menemukan tabletnya tergeletak di mana tempat dan segera kami amankan. Sepertinya dia merasa nyaman saja. “Toh ada Bunda dan Bapak yang akan mengamankan.” Mungkin begitu yang ada di pikirannya.

Jadilah setiap habis main game, si tablet digeletakkan begitu saja dan dia langsung mengambil sepeda lalu melaju ke lapangan. Apalagi jika teman-temannya sudah memanggil-manggil. Duuh, cepat banget menyahutnya.

Sementara kalau emaknya yang memanggil, jawabnya, “Sebentar, Nda!”, “Tanggung, Nda!”, “Sabar, ya, Bunda cantiiiik.”. Hadeewh… pengen jewer kok ya nggak tega. Secara doi sudah sedikit menghibur emaknya dengan kalimat yang terkadang bikin semringah.

Kecewa? Ya. Menyerah? Tentu saja tidak. Bukankah selain mendidik dan menuntun, tugas orangtua adalah memahamkan kepada anak supaya mengerti dan menumbuhkan kesadaran atas kepemilikan pribadi, juga bagaimana caranya bersyukur dan berjuang?

Baiklah. Solusi dari kami adalah terapi gadget. Kami melakukan reschedule waktu bermain, menekankan lagi bahwa dia harus bertanggung jawab atas barang-barang miliknya yang dibeli dengan susah payah, serta memahamkan arti menghargai pemberian.

Fix. Langkah itu akan direalisasikan. ASAP (as soon as possible)

Tapi hulala, pada suatu sore, si tablet hilang! “Tadi aku letakkan di teras, Nda,” ujarnya gusar.

Walau kecewa dan tak tahu bagaimana tablet itu bisa raib, tapi kami ambil ibrah dari kejadian ini. Bahwasanya dia harus belajar menghargai apa yang sudah dia punya, berdamai, dan say goodbye dengan tab-nya.

Awalnya anak usia 10 tahun itu terlihat sedih dan uring-uringan, bahkan minta dibelikan tablet yang baru. Ooow, tentu saja itu tak bisa dipenuhi.

“Ini adalah risiko atas keteledoranmu,” sahut saya singkat sambil merengkuh pundaknya.

Tak ada marah ataupun delikan mata. Kehilangan sudah sukup membuatnya berduka, tak perlulah kami menambahnya dengan kemarahan yang meluap-luap.

Kami mengajaknya beraktivitas seperti saat dia belum memiliki tablet dan lebih banyak bermain dengan teman-temannya. Anggap saja ini terapi. Hemat dan tidak perlu pakai usaha yang memusingkan kepala.

Memahamkan ‘kepemilikan’ kepada anak adalah sebentuk pembelajaran agar mereka mengerti kata berjuang, bersyukur, pemanfaatan, dan ikhlas. Berjuang untuk mendapatkan sesuatu, bersyukur ketika memilikinya, memanfaatkan, dan menjaganya dengan baik.

Terakhir, ikhlas jika suatu saat ‘sesuatu’ itu hilang atau rusak. Kedengarannya sederhana, tapi bagi kami itu adalah sebagian nilai penting yang harus dipelajari dalam kehidupan.

Kami berharap, kelak dewasa nanti, dia dapat mengejewantahkan nilai-nilai tersebut saat menghadapi semesta, yang entah kami masih bisa membersamainya atau tidak.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Indonesia di Tengah Pusaran Perang Ekonomi Dunia

Dr Andi Desfiandi SE MA | Ketua Yayasan Alfian Husin, Ketua Bravo 5 Lampung KENAIKAN …