OPINI ANDI DESFIANDI: Buah Simalakama Listrik (Harus) Murah


DR ANDI DESFIANDI MA | Ketua Yayasan Alfian Husin, pemerhati ekonomi

DUNIA, juga Indonesia, sangat berharap sumber-sumber energi terbarukan bisa segera terealisasi. Tentunya, dengan harga yang murah.

Namun, sepertinya mimpi tersebut masih perlu waktu untuk dapat terealisasi. Pasalnya, pengembangan energi terbarukan masih relatif mahal dibandingkan sumber energi konvensional/fosil.

Perusahaan Listrik Negara (PLN) misalnya, hingga saat ini masih menggunakan sekitar 60% dari bauran energi primer berbahan batu bara. Karena sumbernya batu bara, maka tarif listrik PLN tetap paling murah yaitu 4 sen dollar AS per kWH. Bandingkan dengan sumber tenaga angin senilai 10 sen dollar As per kWH yang dibayar PLN.

Ini buah simalakama sebenarnya. Pemerintah menginginkan Listrik murah tetapi di saat yang sama juga mendorong penggunaan energi terbarukan bagi kebutuhan energi pada masa depan.

Pada akhirnya untuk mempertahankan tarif listrik yang murah pemerintah harus tetap memberikan subsidi. Ini supaya PLN tidak merugi dan masyarakat tetap mendapatkan tarif listrik yang relatif murah.

Permasalahan juga bertambah dengan target pemerintah meningkatkan rasio elektrifikasi secara nasional. Tujuannya, agar terjadi pemerataan listrik di seluruh Indonesia, sekaligus menghilangkan byar pet yang masih kerap terjadi akibat kurangnya pasokan listrik.

Program 35.000 MW listrik dicanangkan pemerintah bukan hanya untuk menaikkan rasio elektrifikasi tetapi juga mengantisipasi kebutuhan listrik di masa depan.

Masalahnya, apabila PLN masih harus meningkatkan penggunaan energi terbarukan dalam bauran sumber energinya, maka otomatis tarif listrik akan meningkat. Apalagi dengan penambahan pasokan listrik, subsidi pemerintah untuk listrik bakal semakin berat.

Beban pemerintah tetap berat meskipun sudah menetapkan harga tertinggi batubara khusus untuk PLN sebesar 70 dollar AS dan harga batu bara saat ini sudah melewati 100 dollar AS. Masih untung, Indonesia surplus produksi batu baranya.

Lantas, apa yang harus dilakukan pemerintah dan PLN dalam menghadapi kondisi buah simalakama ini? Menurut saya, memang tidak ada cara paling jitu selain tetap membiarkan PLN menggunakan batu bara untuk sementara sebagai mayoritas sumber bauran energinya.

Langkah lain melakukan restrukturisasi operasional, termasuk skema pembiayaan agar lebih efisien dan efektif. Selain itu, perlu dilakukan secara simultan penggunaan dan pembangunan pembangkit listrik berbahan baku gas dan panas bumi.

Hal ini mengingat cadangan panas bumi dan gas Indonesia sangat berlimpah dan relatif lebih murah. Upaya tersebut perlu didorong secara optimal dengan melakukan deregulasi yang menyeluruh, baik dalam aspek perizinan, fiskal, dan pembiayaannya.

Barangkali bebrapa langkah tersebut bisa sedikit banyak membantu kinerja operasional dan keuangan PLN. Tentu saja sekaligus mempertahankan tarif listrik yang relatif murah.

Diharapkan juga, pada akhirnya secara perlahan subsidi listrik bisa dihapuskan. Dengan begitu, dana subsidi bisa digunakan untuk kegiatan pembangunan yang produktif dan bernilai tambah, serta rasio elektrifikasi dan pemerataan listrik dapat meningkat tajam. Wallahualam.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Indonesia di Tengah Pusaran Perang Ekonomi Dunia

Dr Andi Desfiandi SE MA | Ketua Yayasan Alfian Husin, Ketua Bravo 5 Lampung KENAIKAN …