Pemred duajurai.co: Aktivis-Pejuang HAM Harus Bisa Menulis dan Optimalkan Medsos


PEMRED duajurai.co Juwendra Asdiansyah dan Direktur LBH Bandar Lampung Alian Setiadi berfoto bersama peserta dan panitia Pendidikan Paralegal 2018 di Wisma Unila, Minggu, 15/4/2018 | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Para aktivis atau lembaga yang melakukan kegiatan advokasi, memperjuangkan kepentingan orang banyak dan hak asasi manusia (HAM) perlu memanfaatkan media sosial (medsos). Dengan mengoptimalkan medsos, kampanye dapat dilakukan lebih efektif, mudah melibatkan masyarakat luas, dan jitu membangun opini publik.

Hal itu disampaikan Pemimpin Redaksi duajurai.co Juwendra Asdiansyah saat menjadi narasumber dalam Pendidikan Paralegal 2018 yang dihelat Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, Minggu, 15/4/2018. Acara yang berlangsung selama empat hari di Wisma Universitas Lampung, diikuti sekitar 50 orang peserta.

“Dengan memaksimalkan medsos, isu-isu perjuangan dapat lebih masif disebarkan ke khalayak luas. Dengan begitu upaya membangun opini publik juga semakin efektif. Dalam banyak kasus, dorongan opini publik membuat tingkat keberhasilan advokasi atau kampanye lebih besar,” beber Juwendra.

Memanfaatkan medsos dapat dilakukan dengan memposting foto-foto berikut caption kegiatan advokasi/kampanye, pernyataan sikap, data-data tentang kasus, laporan perkembangan penanganan kasus, dan sebagainya.

“Buat fanspage di Facebook, karena yang like/follow bisa tak terbatas. Beda dengan akun pribadi yang paling banyak cuma 5 ribu pertemanan,” saran mantan ketua AJI Bandar Lampung saat memberi materi “Pendokumentasan Kasus dan Kampanye Media Massa”.

Selain memaksimalkan medsos, yang juga perlu dilakukan para aktivis atau lembaga antara lain mendokumentasikan berbagai aktivitas, membuat dan mengirim rilis ke media, menggelar konferensi pers dan/atau diskusi publik, berteman dengan wartawan/media massa, serta menulis artikel di media massa.

“Untuk itu penting bagi para aktivis memiliki kemampuan menulis. Lihatlah para pendiri bangsa ini seperti Bung Karno, Bung Hatta, Syahrir dan lain-lain, selain diplomat ulung, negosiator dan orator andal, mereka juga merupakan penulis-penulis yang hebat,” ujar Juwe.

“Masalah klasik bangsa atau kelompok yang sedang berjuang adalah lupa atau tak sempat mencatat/menulis. Padahal tulisan atau catatan itu sangat penting bagi perjuangan dan kelompok itu sendiri, pihak luar, maupun generasi yang akan datang,” sambung mantan aktivis pers kampus Teknokra Unila ini.

Selain Juwendra, LBH Bandar Lampung menghadirkan sejumlah narasumber lain di antaranya Direktur YLBHI Asfinawati, Ketua Eksekutif Nasional Walhi Nur Hidayati, dan Ketua Persatuan Tuna Netra Indonesia Sukron Rodisno.

Kemudian, aktivis Perhimpunan Pendidikan Demokrasi Ivan Coff, akademisi Fakultas Hukum Unila Wahyu Sasongko, sosiolog Rocky Gerung, dan mantan Direktur LBH Bandar Lampung Wahrul Fauzi Silalahi.

Paralegal dapat diartikan sebagai orang yang melakukan pendampingan dan advokasi untuk memperjuangkan keadilan dalam masyarakat. Kerja-kerja dilakukan dari dan untuk masyarakat dengan menggunakan peraturan yang ada, atau terobosan hukum lainnya.

Peran dan fungsi kedudukan paralegal dikaitkan dengan Undang Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat juncto UU 16/2011 mengenai Bantuan Hukum.(*)

Baca juga LBH Bandar Lampung Buka Pendidikan Paralegal 2018


Komentar

Komentar

Check Also

Warga Lampung Timur Serahkan Senpi Rakitan Beserta Amunisi

 BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Seorang warga Kabupaten Lampung Timur secara sukarela menyerahkan satu pucuk …