BMKG: Transisi Musim, Waspada Hujan Es dan Puting Beliung


ANGIN puting beliung | ilustrasi/ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan saat ini wilayah Indonesia tengah memasuki transisi dari musim hujan ke musim kemarau. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi dan peluang terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan es dan puting beliung.

Dalam siaran pers yang diterima duajurai.co, Senin, 16/4/2018, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menerangkan, pantauan BMKG dan beberapa lembaga internasional terhadap kondisi Samudera Pasifik dan Samudera Hindia mengindikasikan bahwa hingga awal April ini kondisi La Nina kategori lemah sudah berakhir  Selanjutnya, menuju kondisi normal pada Mei hingga September 2018.

“Sementara itu, tidak ada indikasi anomali iklim yang terjadi di Samudera Hindia bagian barat Sumatera. BMKG memprediksi, Samudera Hindia tetap dalam kondisi normal pada periode April hingga September 2018,” beber Dwikorita.

Ia meneruskan, sirkulasi angin regional sudah didominasi angin Monsun Australia (angin timuran) di hampir di sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan katulistiwa. Angin timuran membawa massa udara kering dari benua Australia. Kondisi ini selaras dengan awal periode musim kemarau di Indonesia.

Meski demikian, di beberapa wilayah terutama di bagian barat, masih terdapat massa udara basah yang cukup lembap (> 65%), terutama di atmosfer lapisan menengah (ketinggian 3.000 meter). Kondisi ini dapat mendukung tumbuhnya awan-awan konvektif sehingga hujan sporadis masih berpeluang terjadi di beberapa wilayah.

Wilayah dimaksud ialah Sumatera bagian selatan, Jawa bagian tengah dan timur, Kalimantan bagian utara dan selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi bagian barat dan selatan, serta Maluku bagian utara.

“Pada musim transisi, potensi dan peluang cuaca ekstrem seperti hujan es dan puting beliung dapat terjadi,” ujar Dwikorita.

Lebih jauh dia menjelaskan, analisis hari tanpa hujan hingga dasarian I April menunjukkan panjang kekeringan meteorologis akibat ketiadaan hari hujan berturut-turut. Beberapa daerah telah mengalami hari tanpa hujan kategori sangat panjang (> 30 hari) yaitu Aceh utara (35 hari), serta kategori panjang (>20-30 hari) di Batuta, Nusa Tenggara Timur (30 hari), dan di Sumatera Utara (26 hari).

“Sementara itu, beberapa daerah di Jawa Timur dan NTB sudah mengalami ketiadaan hari hujan berturut-turut atau kategori menengah (11–20 hari),” urainya.

Sebelumnya, BMKG telah memprediksi sebagian wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau awal April ini. Awal musim kemarau tidak seragam di tiap daerah.

Hingga awal April, daerah yang sudah memasuki kemarau ialah Provinsi NTT, NTB, DIY, Riau, Sumatera Utara, dan Aceh. Kemudian merambat perlahan ke arah barat dan utara ke Pulau Jawa, sebagian Sulawesi, sebagian Kalimantan, dan Sumatera yang memasuki awal kemarau secara umum pada bulan Mei. Demikian juga untuk sebagian Papua.

Prospek curah hujan 10 harian ke depan, beberapa daerah diprediksi mendapatkan akumulasi curah hujan kategori rendah (< 50 mm dalam 10 hari) di antaranya NTT, NTB, dan sebagian Jawa Timur. Sementara wilayah lain, umumnya masih berpeluang mendapat akumulasi curah hujan dengan tingkat menengah (50–150 mm dalam 10 hari).

Menghadapi musim kemarau tahun ini, perlu diwaspadai daerah-daerah yang rentan terjadi kebakaran lahan dan hutan di antaranya Aceh dan Sumatera Utara bagian timur, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Selanjutnya, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, Gorontalo, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, serta sebagian Papua bagian selatan.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Hari Kartini, Nita Susanti: Seorang Ibu Harus Biasakan Anak Lakukan Hal Benar

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Aktivis Giving Friday Lampung Nita Susanti menyatakan, menjadi perempuan tangguh tidak cukup hanya …