ESAI BUDI HUTASUHUT: Warga Jabung dan Perusahaan di Lingkungannya


Budi Hutasuhut 

  • Jurnalis, penyair asal Lampung. Kini bermukim di Padang Sidempuan, Sumatera Utara
  • Status Facebook, Selasa, 20 Maret 2018

Di JABUNG, Kabupaten Lampung Timur, kau bisa menemukan hamparan lahan jagung seakan-akan sedang berada di negeri jagung. Tapi kau tidak akan bahagia di sana, apalagi bila kau menjadi salah seorang warganya. Sebab, begitu lahan jagung itu panen, harga jagung pipilan akan jatuh.

Jika kau pengusaha, ada banyak analisis yang bisa kau lakukan untuk membela diri kenapa harga jagung hasil panen petani Jabung bisa anjlok. Kau beralasan, perusahaanmu memiliki standar kualitas mutu produk jagung.

Standar itu kau buat dalam selembar kertas, lalu kau berikan kepada para pengumpul atau kau tempel di perusahaanmu. Lantaran itu, kau tidak membeli jagung petani Jabung.

Kau putuskan memilih jagung yang standar, jagung yang dikumpulkan oleh agen-agen pembeli yang sudah kau bekali pengetahuan soal standar mutu. Kalau tidak, kau bisa impor jagung dari negeri lain–harganya murah, kualitasnya bagus.

Begitulah pengusaha, apalagi bila kau bergerak di bidang produsen pakan ternak, atau kalau kau punya perusahaan penggemukan ternak potong seperti sapi. Soal penggemukan ternak potong, kau bisa menambahi analisis usaha hanya untuk “lebih kejam” menolak produksi jagung petani Jabung.

Kau sebutkan kalau ternak-ternak di perusahaanmu harus mengonsumsi jagung yang terpilih karena daging dari hewan yang kau pelihara untuk ekspor. Jagung terpilih yang kau maksud adalah jagung yang dikirim oleh para pengesub, perusahaan lain yang menjadi mitramu.

Para pengelola perusahaan itu, entah dari mana mereka mendapatkan jagung, kau tidak mau tahu. Yang penting, kebutuhan jagung untuk ternak-ternakmu bisa terpenuhi.

Kau tidak mempersoalkan, apakah karena ulah para pengesub jagung itu membuat jagung para petani Jabung tidak laku. Kau tidak memikirkan soal petani Jabung, meskipun tempat usahamu ada di lingkungan mereka.

Seperti juga sebagian besar pengusaha yang selalu ingin untung besar, bagimu yang terpenting aman dan nyaman berusaha dengan keuntungan yang besar. Soal warga di sekitarmu, kau bisa berkilah telah mengambil beberapa orang dari mereka sebagai tenaga kerja.

Mereka bekerja di level bawah, dan kau tidak mau tahu kalau warga tidak ingin jadi buruh. Warga hanya ingin jadi mitra perusahaan, yakni sebagai pemasok kebutuhan jagung untuk perusahaanmu.

Warga hanya ingin agar mereka juga diuntungkan oleh sumber daya alam yang ada di sekitarnya, dan jangan hanya orang lain yang diuntungkan. Berapalah kebutuhan warga. Sangat sedikit. Bisa menyekolahkan anak, itu sudah cukup.

Tapi jumlah warga Jabung yang menjadi petani jagung sangat banyak. Perusahaan tidak mungkin menampung semuanya.

Ya, tapi perusahaan bisa transparan soal kebutuhan jagung tiap tahun. Petani pasti bisa memahaminya. Dengan tingkat kebutuhan yang sudah jelas, petani jagung dari semua desa di Kecamatan Jabung pasti punya mekanisme juga.

Mereka bersedia, perusahaan mengajak bermitra. Bergantian dengan petani jagung di desa-desa, sehingga semua petani akhirnya kebagian.

Cuma, persoalannya, perusahaan tidak ingin. Perusahaan punya mekanisme sendiri. Perusahaan merasa punya modal, dan merasa berhak mempergunakan uangnya.

Jangan heran jika warga protes, lalu meminta pemerintah mempertanyakan keberadaan perusahaan itu di lingkungan mereka. Tidak ada manfaatnya. Tidak ada manfaatnya.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI IB ILHAM MALIK: Kerusakan Flyover Pramuka dan Urgensi Uji Teknis

IB ILHAM MALIK | Dosen Teknik Sipil Universitas Bandar Lampung (UBL) KERUSAKAN berupa keretakan yang …