ANALISIS IB ILHAM MALIK: 8 Flyover, Kenapa Bandar Lampung Masih Macet?


SEBANYAK delapan jalan layang atau flyover dibangun dalam beberapa tahun terakhir oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung di bawah kepemimpinan Wali Kota Herman Hasanusi (kini nonaktif).

Meski demikian, kemacetan yang kini menjadi momok warga Kota Tapis Berseri, tak serta merta lenyap. Di banyak titik, termasuk kawasan di sekitar flyover kemacetan lalu lintas tetap rutin terjadi, terutama pada jam-jam sibuk.

Apa yang terjadi? Mengapa flyover seolah tak cukup digjaya mengatasi kemacetan di Bandar Lampung? Sia-siakah proyek-proyek bernilai miliaran rupiah tersebut?

Berikut analisis IB Ilham Malik, ahli transportasi dan tata kota dari Universitas Bandar Lampung (UBL), yang disampaikan kepada duajurai.co via pesan WhatsApp, Senin petang, 19/3/2018.

KEMACETAN lalu lintas disebabkan oleh VC (volume/capacity) ratio jalan yang semakin mendekati nilai 1 (~1). Secara teoritis, jika ingin kemacetan lalu lintas berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali, maka nilai VC ratio harus dijaga berada di bawah 0,6 (< 0,6).

Caranya adalah dengan mengurangi volume (V) kendaraan dan memperbesar kapasitas (C) jalan. Dengan merujuk konsep tersebut, maka ada beberapa opsi untuk mengurangi kemacetan, yaitu:

  • Mengembangkan sistem angkutan umum.
  • Mendorong nonmotorized transportation, dan sejenisnya.
  • Melebarkan jalan.
  • Mengurangi hambatan lalu lintas seperti meniadakan parkir di badan jalan (on street parking), membangun simpang tidak sebidang, dan sebagainya.

Tujuan dibangunnya flyover memang bukan untuk menghilangkan kemacetan lalu lintas. Flyover atau underpass hanya salah satu opsi untuk mengurangi kemacetan.

Jika volume kendaraan terus bertambah, lalu tidak ada sistem angkutan umum massal, dan seterusnya, maka persoalan lalu lintas di Bandar Lampung juga akan semakin kompleks.

Ditambah dengan perkembangan sektor properti (mal, perumahan, pusat hiburan, atau objek wisata) yang tidak dekat dengan fasilitas transportasi publik, maka pergerakan kendaraan akan menumpuk di segmen-segmen jalan tertentu. Pada akhirnya tentu saja kondisi ini menimbulkan kemacetan.

Kesimpulannya, flyover adalah salah satu dari beberapa hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah kemacetan lalu lintas di Kota Bandar Lampung. Jika dalam hal ini Pemerintah Kota Bandar Lampung dibantu oleh Pemerintah Provinsi Lampung, juga Kementerian Perhubungan dan Kementerian Pekerjaan Umum-Perumahan Rakyat (PUPR), maka masalah kemacetan tidak akan semakin kompleks.

Upaya menyelesaikan masalah kemacetam di perkotaan tidak bisa bersifat sektoral. Dibutuhkan program yang banyak dan terintegrasi antarsektor terkait.(*)

IDA BAGUS ILHAM MALIK

  • Mahasiswa Doktoral Bidang Urban Planning di The University of Kitakyushu, Jepang, melalui Beasiswa Monbukagakusho MEXT 2015
  • Dosen Fakultas Teknik Universitas Bandar Lampung (UBL)

Komentar

Komentar

Check Also

OPINI UPI FITRIYANTI: Pilkada dan Komitmen Pelayanan Publik Calon Kepala Daerah

UPI FITRIYANTI | Asisten Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Lampung BESOK 27 Juni 2018 sebanyak 17 …