OPINI SAFARI DAUD: NU Lampung dan Kesinambungan


Dr. SAFARI DAUD

  • Dosen Sejarah Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung
  • Tulisan ini sebagai fefleksi Konferwil X PWNU Lampung, 8-10 Maret 2018

STUDI historiografi (penulisan sejarah) telah menunjukkan bahwa sebuah bangsa atau komunitas dalam menulis sejarah berkecenderungan menulis hal-hal baik tentang dirinya. Kebaikan masa lalu ini tentu dibutuhkan untuk mengatakan sebuah bangsa layak melanjutkan perjalanan dirinya.

Sejarah resmi cenderung meninggalkan “under cover history“. Hal ini dibutuhkan untuk menjembatani warisan baik masa lalu dengan kekinian.

Filsuf sejarawan Barat, Toynbee memberikan dua tabulasi dalam kesinambungan sebuah bangsa. Tantangan (challenge) dan respons. Menurut Toynbee, kemajuan peradaban sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kemampuan bangsa tersebut merespons tantangan.

Respons ini kemudian menjadi roda yang tidak terputus (sustainable). Kesinambungan dalam spiral waktu, keadaan masuk berkonsekuensi logis untuk tidak terbuang.

Terkait ini, seorang pemimpin terpilih yang cerdas adalah mereka yang mencoba melihat celah kemajuan dari pemimpin terdahulu. Sebaliknya, pemimpin yang membangun kejayaannya dari kesalahan masa lalu pada dasarnya adalah pemimpin yang tidak kapabel, tidak cerdas menyambungkan kekinian dengan masa lalu.

Konferensi Wilayah X Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Lampung, 8-10 Maret 2018, telah menerima laporan pertanggungjawaban (LPJ) pengurus sebelumnya. Ada beberapa sisi positif menurut saya yang terlihat dari PWNU masa khidmat 2013-2018 tersebut.

Pertama, PWNU Lampung 2013-2018 tidak meninggalkan saldo utang. Alih-alih berutang, KH Soleh Bajuri dan jajarannya bahkan menyisakan cukup banyak uang dan aset untuk generasi selanjutnya. Ini sebuah prestasi yang luar biasa.

Kedua, nahdliyin di Lampung yang aktif mengurusi NU semakin heterogen. Dari komunitas pesantren, intelektual, aktivis hingga politisi. Heterogenitas pasti membutuhkan manajemen yang tepat dalam hal sosiologi massa.

Dari dua ‘warisan’ di atas, PWNU masa khidmat 2018-2023, yang dinakhodai duet Rais Syuriah KH Muhsin Abdillah yang bertradisi pesantren dan Ketua Tanfidziyah Prof Dr H Mohammad Mukri MAg yang berlatar kampus, mempunyai dua tugas yang berkesinambungan dengan pengurus terdahulu

Pertama, kecerdasan politik warga NU di Lampung sudah menyejarah. Karenanya, sinergi pemahaman sangat dibutuhkan dalam hal ini. Secara alamiah, hal-hal yang bisa ditemukan dalam kepentingan warga NU perlu diberikan tempat. Hal-hal yang bersifat perbedaan, perlu diberi sentuhaan manajemen konflik untuk menghindari benturan sesama warga.

Kedua, kegelisahan penting warga NU saat ini dan ke depan ialah perbaikan bidang pendidikan dan kesehatan. PWNU periode ini perlu fokus kepada penyediaan rumah sakit dan perbaikan manajemun perguruan tinggi.

Dua pokok ini diharapkan mampu membangun kemandirian warga NU. Ke depan, jika kedua hal tersebut berhasil dibangun oleh PWNU sekarang. NU akan memiliki kekuatan ekonomi yang sangat kuat.

Selamat bertugas KH Muhsin Abdillah dan Prof Dr H Mohammad Mukri MAg. Sukses selalu. Amin.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI AHMAD SALEH DAVID FARANTO: Jembatan Timbang, Seberapa Gereget Tak Ada Pungli? (2-habis)

SELAMA kurun waktu beroperasinya jembatan timbang pada 2015, Ombudsman juga mencatat bahwa Dishub Lampung telah …