OPINI MUZZAMIL: Fitri Wahyuningsih, Potret Perempuan Milenial Pejuang


Fitri Wahyuningsih | Akun Facebook Fitri Wahyuningsih

 

Muzzamil | Koordinator Tim Publikasi dan Kampanye Panja FGD DKI Lampung

NAMANYA Fitri Wahyuningsih. Alumni Teknik Geofisika Universitas Lampung yang terakhir kami kenal sebagai salah satu ‘juru masak’ di dapur redaksi portal daring duajurai.co, empunya ‘Uda Koki’ Juwendra Asdiansyah, “bartender” Kafe Juwe Radio Andalas FM, Bandar Lampung.

Perempuan berhijab ini sosok periang dan rendah hati. Namun, jika mencermati reportase demi reportase liputannya, bisa dibilang ‘Koki Juwe’ sukses lakukan tugasnya dengan baik sebagai mentor, salah satunya bagi Fitri, si ‘koki junior’.

Cukup kaget samar terdengar, Fitri resign. Tambah kaget sekaget-kagetnya dengan penuh kekagetan yang mengagetkan, ia putuskan tinggalkan zona nyaman dan coba ladang bakti sarat narasi kemanusiaan, terjun bergabung sebagai Relawan Tatar Nusantara (Retanu) dari Yayasan Sekolah Relawan Depok, Jawa Barat. Retanu merupakan lembaga pemberdaya swadaya masyarakat yang telah banyak berkontribusi bagi upaya revitalisasi entitas sosial ekonomi lokal, terutama di daerah-daerah terpencil, terluar, dan tertinggal.

Tepat 12 Januari lalu, Fitri mulai menjalani penugasan perdana hingga setahun ke depan, di Desa Lamahala Jaya, satu dari 21 desa/kelurahan di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur. Ia akan fokus bersinergi dengan Lembaga Wathan Lamahala untuk membantu pemerintah desa setempat dalam membangun masyarakat yang lebih berdaya saing, kreatif, inovatif, cerdas, berkarakter kuat dan beriman. Mantap!

Beberapa hari pertama setelah bersosialisasi dengan lingkungan barunya, dengan didampingi Hawa Sangadji, guru IPA Terpadu SMP Negeri Satap Bilal Adonara, Fitri diperkenalkan sekaligus meminta izin menetap di Lewo Salam Lamahala kepada Ahmad Daud Boli Malakalu (pemangku adat Bella Malakalu), dan Haji Saleh Atapukan (pemangku adat Bella Atapukan atau Bella Tello) di Bale Adat Desa.

Sebagai bentuk penghormatan, Fitri tak lupa diperkenankan melihat seluruh Bale Adat yang terletak di Dusun 3 ini, persis di samping rumah adat Suku Atapukan. Bale Adat ikonik ini satu tempat yang kerap digunakan dalam berbagai kegiatan adat istiadat dan kegiatan terkait semua aspek kehidupan Lewotana Lamahala.

Kini, keseharian dara jebolan SMA Negeri 1 Gadingrejo, Pringsewu, Lampung, ini sarat pesan sosial. Turut aktif mendampingi 44 anak asuh Yatim Bright dari Yayasan Sekolah Relawan yang bersinergi dengan Pondok Baca Wathan Lamahala, Yayasan Adil Center Jakarta dan Lembaga Silaturahim Komunikasi Wathan Lamahala, mendorong terbuka luasnya akses literasi anak sesuai minat bakat dan program pendidikan karakter lainnya.

Warga setempat sungguh bersahabat, menyambut hangat tangan Fitri terjabat. Tak cukup kata mengungkapkannya di sini. Demi tak bikin Anda penasaran, ini salah satunya: “Inilah Adonara, Ade Fitri Wahyuningsih.. Semoga setahun ke depan bisa betah, bisa menikmati segala yang ada di Adonara. Masih banyak lagi “surga-surga” tersembunyi dari pulau kecil ini De. Biar betah, biar kerasan ni hari baru permulaan jelajah alam Adonaranya yaa.. Lain waktu masih ada ade-ade yang bakalan temani jalan-jalan seputaran Adonara dan bisa keliling Flores Timur ke depannya.”

“Semoga setahun jauh dari kampung halaman nun jauh di mata tidak membuat Ade Fitri sedih ya. Anak-anak Lembaga Wathan Lamahala dan semua masyarakat Lamahala bakalan jadi teman-teman yang seru selama setahun ke depan, dan pastinya bisa berenang sebelum pulang ke Lampung ya De..”

Ups, Fitri harus bisa jamin nih, pulang kampung nanti udah jago berenang, ya?

Sosok Fitri, mewakili sosok generasi milenial era bonus demografi Indonesia hari ini yang tak larut gemerlap hedonisme penghamba kapital. Yakin, masih banyak Fitri lain di luar sana, yang terus asah talenta mudanya untuk di suatu saat kelak nanti pantas jadi bekal.

Dan hari ini, bertepatan peringatan Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2018, di akun Instagram yang dipautkan pula di laman Facebook-nya sekira pukul 8.36 WITA, Fitri menulis status, yang demi membacanya tadi pagi, istri saya lumayan berurai air mata, haru bangga. Berikut seutuhnya:

“Selamat Hari Wanita Internasional untuk para #perempuanpenyala di seluruh Indonesia. Selamat untuk para perempuan Adonara yang menakjubkan. Sejak pertama datang ke Adonara, saya banyak bertemu dengan wanita-wanita hebat di sini. Sampai-sampai saya bilang, “Jadi perempuan di sini berat” karena perjuangannya yang hebat. Wanita di sini bekerja banyak sekali. Tidak hanya mengurus keluarga, mereka juga membantu mencari nafkah. Berjualan sayur, ikan, jagung titi, apapun, keliling kampung. Ada yang dari dusun terdekat, ada dari desa tetangga, bahkan dari kecamatan sebelah. Ada juga yang sampai rela melajang seumur hidupnya, untuk memperjuangkan pendidikan adik-adiknya. Bidadari-bidadari surga Adonara. Merekalah lentera sesungguhnya. Dan tentu saja, mamaku tercinta di Lampung sana jadi wanita terhebat yang penah ada.

Selamat Hari Wanita Internasional. Cita-cita terbesarku sebagai wanita adalah menjadi ibu rumah tangga, yang cerdas dan bermanfaat. Karena saya percaya, satu wanita baik akan melahirkan banyak generasi baik. Selamat pagi.. #tatarnusantara #sekolahrelawan”

Hadeuh, speechless..

Saya ingat Fitri, adalah perempuan pertama yang secara kebetulan kami temui sekaligus kami pamiti saat kami mampir ke kantor redaksi duajurai.co, 4 November 2017. Waktu itu, kami mengantar T-shirt “Lampung Ibu Kota Pemerintahan RI” untuk kado pernikahan Imelda Astari, jurnalis sejawatnya kala itu, jelang keberangkatan “Empat Sekawan” delegasi Panitia Kerja (Panja) Focus Group Discussion (FGD) DKI Lampung –panitia ad hoc pengusulan kajian ilmiah Provinsi Lampung sebagai salah satu calon alternatif lokasi pemindahan ibu kota pusat pemerintahan RI pengganti DKI Jakarta– menghadiri pernikahan putri dan menantu Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu-Muhammad Bobby Afif Nasution di Solo, 8 November 2017.

Tulisan ini dibuat tanpa sepengetahuannya. Agar Fitri usah bawa perasaan (baper), dan meminjam istilah Fitri, bersama “bidadari-bidadari surga Adonara”, ia tetap dan makin super. Untuk Fitri, juga untuk istriku, Dedek Aisha putriku, untuk para perempuan yang luka, hilang, dan mati, dan seluruh perempuan pejuang dan pejuang perempuan di seluruh penjuru belahan bumi, Selamat Hari Perempuan Internasional.

Untuk kalian, hanya ada satu kata: hormat!(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI AHMAD SALEH DAVID FARANTO: Jembatan Timbang, Seberapa Gereget Tak Ada Pungli? (2-habis)

SELAMA kurun waktu beroperasinya jembatan timbang pada 2015, Ombudsman juga mencatat bahwa Dishub Lampung telah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *