OPINI ICHWAN ADJI WIBOWO: Nge-NU Hingga Kepayang


ICHWAN ADJI WIBOWO

  • Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bandar Lampung
  • Tulisan ini dalam rangka menyongsong Konferwil X PWNU Lampung, 8-10 Maret 2018

MEMBINCANGKAN Nahdlatul Ulama (NU) itu praktis, tidak pernah menemui titik akhir, apalagi dikaitkan dengan tema keagamaan dan kebangsaan. Jika Indonesia diandaikan sebagai perahu, maka NU barangkali adalah layarnya.

Atau jika republik ini dianggap nyanyian, maka NU adalah notasi iramanya. Bisa jadi juga jika Indonesia adalah gunung berapi, maka NU adalah magmanya. Jika negeri ini taman, boleh jadi NU adalah kicau burungnya, dan seterusnya.

Menelusuri sisi keunikan NU mungkin menyerupai nikmatnya nyruput kopi, yang tentu kadar kenikmatannya berbeda-beda untuk ukuran penyuka, penikmat, dan pecandunya. Persis sama ukuran kadar penghayatan orang kepada NU, akan sangat ditentukan seberapa nahdliyin -kah sang penghayat.

Seperti juga kopi, NU itu multidimensi. Khazanah, keluhuran, dan kearifannya tak lekang diresapi dari zaman ke zaman. Idiom- idiom ke-NU-an begitu banyak, begitu khas, dan sulit dicari kesepadanannya di organisasi lain di Indonesia.

Idiom itu tidak sekadar identifikasi ke-NU an, namun juga secara simbolik menyediakan ruang atau wadah bagi spiritualitas keberagamaan ala Islam Nusantara. Sebut saja beberapa frase seperti pesantren dan kitab kuning, kiai dan santri, sarung dan peci, syuriyah dan tandfiziyah, bathsul masaail, dan halakah, tahlilan dan yasinan, maulud dan salawatan, barzanji, marhaban dan diba’an, haul dan ziarah, dan seterusnya.

NU memang surplus, berlimpah ruah ritual amaliah. Hampir seluruh perjalanan kehidupan manusia NU selalu bersentuhan dengan rirual-ritual keagamaan yang secara simbolik sarat makna, filosofi, serta keluhuran akhlak dan budaya.

Namun ber-NU tidak melulu hanya secara sadar mengakrabi ritual amaliah ala aswaja annahdiyah. Lebih dari itu, setiap nahdliyin juga harus melewati fase penghayatan ber-NU. Juga harus mampu menghadirkan ekspresi sikap washatiyah.

Nahdliyin yang sesungguhnya pasti moderat. Ia selalu menjaga dan mengendalikan diri, tidak ekstrem, dan berusaha berada di tengah. Nahdliiyin selalu di tengah untuk menjaga pendulum agar selalu mengayun, tidak condong ke kanan atau terkadang ajek di kiri.

Menjadi NU juga berarti menjadi manusia beragama yang tidak membuat jidatnya berkerut-kerut, terlampau serius, tegang, sehingga tak menyediakan kegembiraan. Namun, ber-NU juga memberi banyak jalan dan metode untuk menangkap setiap pesan spiritualitas keluhuran ajaran Tuhan, termasuk dengan keriangkegembiraan, dengan canda, humor, juga guyonan sekalipun.

Maka personafikasi kiai NU sebagai patron nahdliyin pada umumnya kerap disyaratkan dengan kemampuannya untuk ngelawak, nge-joke, membuat orang tertawa terpingkal-pingkal, bahkan terkadang ngakak tiada henti.

Betapa nikmatnya ber-NU. Sama persis nikmatnya ber-Indonesia. Silakan bersarung, sambil ngerokok dan sesekali nyruput kopi. Maka, menjadi NU yang sesungguhnya sama halnya menjadi Indonesia lahir batin.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Indonesia di Tengah Pusaran Perang Ekonomi Dunia

Dr Andi Desfiandi SE MA | Ketua Yayasan Alfian Husin, Ketua Bravo 5 Lampung KENAIKAN …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *