Perjuangan Odapus Lampung Merli Susanti (2-habis)


Dari kiri ke kanan: dr Hotmen Sijabat, Pemred duajurai.co Juwendra Asdiansyah, Tri Nuratika, dan Merli Susanti foto bersama usai mengisi Kafe Juwe di Studio Radio Andalas, Way Halim, Kota Bandar Lampung, Kamis, 22/2/2018. Kali ini, Kafe Juwe membincangkan lupus dan perjuangan para Orang dengan Lupus (Odapus) menjalani hidupnya. | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Beberapa bulan sebelum didiagnosis lupus, lanjut Merli, dirinya pernah browsing tentang Odapus. Dia membaca artikel tentang salah seorang pejuang Odapus.

“Jadi saya kaget ketika didiagnosis lupus. Kenapa juga menimpa saya?,” ujarnya.

Pada kurun 2011-2013, hampir tiap bulan ia dirawat di Rumah Sakit. Karena mengalami komplikasi, lupus menyerang jantung, ginjal, mata, dan sejumlah organ tubuh lainnya. Beruntung akhirnya ada program BPJS Kesehatan. Ia merasa terbantu dari sisi pembiayaan. Kala itu, Merli bisa berobat di Rumah Sakit Natar Medika menggunakan kartu BPJS. “Sampai akhirnya intensitas ke rumah sakitnya berkurang,” kata Merli.

Selain merasakan sakit secara fisik, perempuan berjilbab itu juga mengalami tekanan secara psikologis awal terkena lupus. Saat itu, orang-orang di sekelilingnya, termasuk orang tua masih belum paham terhadap penyakit lupus.

Mereka kebingungan dengan kondisi Merli yang harus bolak-balik ke rumah sakit. Pada sisi lain, ada tetangganya yang juga menderita lupus, tapi terlihat sehat saja. “Saya sendiri kebingungan dan terheran-heran dengan kondisi saya, apalagi orang lain,” ujarnya.

Akan tetapi, semua itu telah dilaluinya. Sekarang, ia bisa mengerjakan apa yang bisa dikerjakan orang-orang normal lainnya. “Semua itu proses. Pertama harus menerima dahulu kondisi diri. Untuk membangun kepercayaan diri saya itu, tak bisa mengandalkan orang lain. Entah itu orang tua atau pasangan hidup. Saat itu, saya browsing sendiri untuk memotivasi diri, mendengarkan para motivator, tausiah ustaz, dan lain-lain,” kata Merli.

Dia berpikir bahwa semua orang hidup punya ujian masing-masing. Mungkin ini fase ujian hidup berat dirinya. Ada dua pilihan, yaitu bangkit atau terpuruk.  “Alhamdulillah, dukungan datang dari keluarga. Ibu dan suami yang mengurus saya saat sakit,” ucapnya.(*)

Baca juga Atika Oktakevina, Asisten Ombudsman Lampung Odapus (1)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Nunik Sidak Kapal Asing di Keramba Jaring Apung Pulau Siuncal

PESAWARAN, duajurai.co – Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim didampingi Penjabat (Pj) Sekretaris Provinsi (Sekprov) Lampung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *