Atika Oktakevina, Asisten Ombudsman Lampung Odapus (2-habis)


Dari kiri ke kanan: Produser Radio Andalas Billy Faturahman, Pemred duajurai.co Juwendra Asdiansyah, dr Hotmen Sijabat, Atika Mutiara Oktakevina, Tri Nuratika, dan Merli Susanti saat siaran Kafe Juwe di Studio Radio Andalas, Way Halim, Kota Bandar Lampung, Kamis, 22/2/2018. Kali ini, talkshow yang merupakan kerja bareng duajurai.co dan Radio Andalas itu membincangkan lupus dan perjuangan para Odapus (Orang dengan Lupus) menjalani hidupnya. | Atika Mutiara Oktakevina

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Atika Oktakevina hampir 15 tahun menjalani hidup sebagai Orang dengan Lupus (Odapus). Meski demikian, dia tak pernah menyerah dengan keadaan.

Justru, penyakitnya itu dijadikan sebagai motivasi untuk terus berbuat yang terbaik. Desember 2017, dia resmi menikah dengan rekan kerjanya. Hal itu semakin menambah kepercayaan diri Atika. Sebab, dia sempat merasa tak percaya diri saat berada dalam kondisi yang buruk.

Sikap terbukanya itulah yang justru menyelamatkan Atika dari rasa tak percaya diri. Ketika mengatakan kepada orang bahwa dirinya seorang Odapus, maka akan membuka peluang dialog. Dengan demikian, memberinya kesempatan untuk menjelaskan tentang lupus. Termasuk menghapus stigma negatif orang terhadap lupus, yakni anggapan lupus itu menular, dan lain-lain.

Hal itu pula yang terjadi saat dirinya bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya. Atika tak menutup-nutupi penyakitnya itu. “Alhamdulillah, suami saya adalah orang yang sangat bijak dan bisa menerima kekurangan saya,” ujarnya.

Belakangan, dia sudah bisa hidup maksimal lagi. Atika beraktifitas seperti biasa, namun mesti tetap mengenali dirinya sendiri. Ketika tubuhnya mulai terasa lelah, maka dia akan beristirahat. “Saya sekarang semaksimal mungkin mensyukuri apa yang diberikan Allah. Saya lakukan bekerja, berbisnis semaksimal mungkin. Orang yang tak sakit saja bisa meninggal kapan saja, apalagi saya yang sudah punya tiket gratis,” kata dia.

Atika ingin memberikan motivasi bagi banyak orang bahwa sebagai Odapus tak berarti mati gaya dan tak berdaya. Dia meminta menjadikan lupus sebagai pelecut semangat. Sebab, harapan itu masih dan selalu ada. “Kita tak tahu bagaimana cara kita mati, tapi kita bisa memilih bagaimana cara menjalani hidup,” ucapnya.(*)

Baca juga Kafe Juwe Bahas Lupus, Ini Penjelasan Dokter Hotmen Sijabat

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Junaidi Auly Ajak Masyarakat Lampung Timur Hasilkan Produk Unggulan Desa

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Anggota Komisi XI DPR Ahmad Junaidi Auly mengajak masyarakat desa, khususnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *