Kafe Juwe Besok: Asa Odapus Memupus Stigma Lupus


Karina Lin, odapus penulis buku “Lampungisme” | imelda astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Semua orang ingin sehat. Tidak ada yang mau sakit, apalagi sakit yang berat. Sayangnya, tidak semua hal dalam hidup berjalan seperti apa yang kita mau. Tuhan punya kuasa mutlak untuk menentukan jalan takdir makhluk ciptaannya.

Salah satu penyakit yang oleh awam dinilai cukup berat adalah lupus. Apa itu lupus? Merujuk Wikipedia, lupus merupakan penyakit yang terkait dengan kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit autoimun.

Lupus terjadi apabila terjadi anomali dalam sistem dan kerja sel pertahanan tubuh manusia. Sel pertahanan tubuh yang seharusnya melindungi tubuh dari masuknya kuman atau gangguan eksternal lainnya justru berbalik menyerang tubuh pemiliknya.

Lupus menjadi salah satu penyakit mematikan pada jenis eritematosus sistemik atau biasa disebut systemic lupus erythematosus (SLE). Lupus jenis SLE lebih dikenal dan sering digunakan untuk menyederhanakan penyebutan dan pemahaman tentang penyakit ini di kalangan masyarakat.

Selain SLE, terdapat beberapa jenis penyakit lupus lainnya, seperti neonatal yakni lupus yang terjadi pada bayi, dan drug inducted lupus atau lupus yang disebabkan oleh penggunaan obat.

Buat banyak orang, penyakit lupus bisa jadi tak begitu asing di telinga. Namun, yang didengar, seringkali lebih sedikit daripada yang diketahui.

Realitanya, masih banyak orang keliru dalam memahami lupus dan memberi stigma negatif penderitanya. Akibatnya, masih kerap terjadi penderita lupus alias odapus (orang dengan lupus) mendapatkan diskriminasi dalam kehidupan.

Beberapa waktu lalu misalnya, di grup WhatsApp Pembaca duajurai.co, seorang anggota mengabarkan ada penderita lupus yang langsung diberhentikan pada hari pertama bekerja ketika atasannya mengetahui dia pengidap lupus.  Anggapan lupus merupakan penyakit menular menjadi musabab.

Padahal, tak sedikit penderita lupus yang bisa berkiprah hebat di bidang masing-masing. Di Lampung dua nama yang bisa disebut ialah Karina Lin, jurnalis freelance yang baru saja menerbitkan buku berjudul “Lampungisme”, dan Atika Mutiara Oktakevina, asisten Ombudsman RI Perwakilan Lampung.

Benarkah lupus menular? Apa penyebab penyakit ini? Kenapa banyak penderitanya perempuan? Dapatkah lupus disembuhkan? Dapatkah penderita lupus hidup “normal” tanpa diskriminasi layaknya orang sehat?

Untuk menjawab serentet pertanyaan tersebut, “Kafe Juwe” besok pagi, Kamis, 22/2/2018, akan membincangkannya bersama empat tamu istimewa. Mereka ialah dr Hotmen Sijabat SpPD Finasim, dokter yang biasa menjadi rujukan penderita lupus di Lampung; Merli Susanti, Sekretaris Umum Komunitas Odapus Lampung, serta dua penyintas lupus (odapus), Atika Mutiara Oktakevina dan Tri Nuratika.

Dipandu Pemimpin Redaksi duajurai.co Juwendra Asdiansyah, Kafe Juwe akan mengudara secara live di Radio Andalas 102,7 FM mulai pukul 10 hingga 11 WIB. Talkshow mingguan di terselenggara berkat kerjasama Radio Andalas dan duajurai.co, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya.(*)

3. Merli Susanti (Sekretaris Umum Komunitas Odapus Lampung)


Komentar

Komentar

Check Also

Unik, Alasan Sejumlah Warga Kunjungi Bukit Sakura Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Bukit Sakura di Jalan Raden Imba Kesuma Ratu, Kemiling, Bandar Lampung, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *