Sikap duajurai.co soal Kabar Penangkapan Cagub Lampung Mustafa oleh KPK


Para pembaca duajurai.co sekalian.

SEJAK sejak Rabu malam, 14/2/2018, beredar luas di media sosial dan grup-grup WhatsApp berita-berita mengenai operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap sejumlah pihak di Kabupaten Lampung Tengah, termasuk Bupati (non aktif) Mustafa.

Sejumlah media online Jakarta menulis berita dimaksud dengan menyebut jabatan dan nama jelas Bupati Lampung Tengah Mustafa. Ada pula yang hanya menyebut jabatan Bupati Lampung Tengah dengan inisial “M”.

Dalam berita-berita dimaksud tertulis ada 11 orang yang ditangkap KPK (berita-berita selanjutnya menjadi 14 orang), termasuk Mustafa. Mereka diduga terlibat kasus suap. Pada Kamis pagi, 15/2/2018, pemberitaan adanya OTT oleh KPK terhadap sejumlah pihak di Kabupaten Lampung Tengah muncul di sejumlah televisi nasional.

Terkait hal ini berikut sikap redaksi duajurai.co yang pada Kamis pagi saya posting di Grup WhatsApp pembaca duajurai.co:

1. Sejak Rabu malam hingga Kamis pagi duajurai.co berusaha memverifikasi atau mencari tahu kebenaran informasi yang beredar, khususnya soal benar tidaknya penangkapan Mustafa.

2. Dalam upaya tersebut, duajurai.co mengacu kepada prinsip-prinsip/standar jurnalisme, salah satunya mencari narasumber dalam titik utama peristiwa (lingkaran konsentris/David Protess). Dalam konteks ini antara lain ialah pihak resmi KPK (komisioner, juru bicara), yang bersangkutan yakni Mustafa, dan keluarga inti Mustafa.

3. Upaya komunikasi kami lakukan via telepon, SMS, dan pesan WhatsApp. Kami tidak memiliki wartawan di Jakarta yang bisa langsung mengecek ke kantor KPK.

4. Hampir semua nomor yang dihubungi tidak aktif. Sementara yang aktif tidak menjawab. Pesan SMS dan WhatsApp pun tidak berbalas.

5. Kami memutuskan untuk tidak mengutip berita dari sejumlah web/portal berita lain. Sebabnya, informasi dalam berita-berita tersebut tidak berasal dari sumber resmi. Jika ada kata “KPK” maka sumbernya bersifat anonim. Dalam hal ini kami mengacu kepada “7 kriteria sumber anonim” – Bill Kovach & Tom Rosenstiel, yang di antaranya mengadopsi “hukum” Benjamin Bradley, eks Pemimpin Redaksi Washington Post. Yang intinya ada syarat sangat ketat sebelum mengutip keterangan sumber anonim.

6. Keterangan sumber dari pihak Partai NasDem Lampung (yang dipimpin Mustafa) atau partai politik lain pendukung/pengusung Mustafa dalam Pilgub Lampung 2018, belum kami jadikan rujukan karena rawan bias, dan karenanya juga kami putuskan tidak diberitakan.

7. Kami memilih untuk sangat berhati-hati dalam menyikapi kasus ini, tentu saja karena skala dan sensitifitas yang tinggi, terkait soal kabar keterlibatan Mustafa.

8. Kita bersama tahu, Mustafa bukan saja bupati, namun juga calon gubernur dalam Pilgub Lampung 2018, yang seperti halnya calon gubernur lain, berpeluang sama untuk menjadi Gubernur Lampung.

9. Kami tidak mau terjebak dalam pusaran membenarkan atau tidak membenarkan, memberitakan atau tidak memberitakan, Mustafa ditangkap KPK sebelum memiliki keyakinan atas fakta yang ada dengan merujuk kepada keterangan sumber-sumber terpercaya dengan kriteria seperti kami jelaskan di poin sebelumnya.

10. Sebagai jurnalis/media massa, rujukan kami dalam konteks ini ialah Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, Kode Etik Jurnalistik, serta Disiplin Dalam Verifikasi–salah satu elemen dalam “9 Elemen Jurnalisme”–Bill Kovach & Tom Rosenstiel. Sebagai muslim kami memedomani Alquran surat Al Hujurat ayat 6 yang memerintahkan untuk melakukan tabayun (memeriksa dengan sungguh-sungguh/verifikasi) informasi yang datang agar tidak merugikan seseorang/suatu pihak.

11. Sejak semalam begitu banyak pihak/kolega yang menghubungi kami menanyakan kebenaran kabar/berita media massa online mengenai penangakapan Mustafa oleh KPK. Sempat muncul “godaan besar” untuk segera memberitakan. Untuk melakukannya cukup mengutip berita web media Jakarta dan tinggal menempelinya dengan kata “diduga”, “dikabarkan”, dan sebagainya di judul berita.

12. Jika hanya berorientasi kepada kecepatan demi eksistensi atau persaingan media semata, mestinya kami dapat melakukan itu sejak Rabu malam. Praktik tersebut secara jurnalistik relatif kecil risikonya, apalagi sejumlah berita sudah muncul di banyak media Jakarta dengan reputasi nasional.

13. Namun, pada akhirnya kami memutuskan untuk tidak/belum memberitakan dengan berbagai pertimbangan di atas. Tentunya dengan kesiapan menerima konsekuensi duajurai.co dinilai tertinggal dalam memberitakan, termasuk kemungkinan kecurigaan terkait faktor pertemanan saya dengan Mustafa.

14. Saya berteman dengan Mustafa sejak sama-sama kuliah di Universitas Lampung (Unila) era 1990-an. Kami sama-sama aktivis. Pada masanya, Mustafa merupakan Gubernur BEM Fakultas Teknik. Saya ketua UKM/Pemimpin Umum SKM Teknokra Unila. Saat era reformasi bergulir kami bersama terlibat dalam sejumlah aksi, juga sama-sama aktif di Posko Reformasi Unila dan Aksi Independen (AI).

15. Akan tetapi di sisi lain saya berprofesi sebagai wartawan, dan masih wartawan hingga saat ini. Sebagai wartawan saya harus menjaga independensi (juga salah satu elemen dari 9 Elemen Jurnalisme). Maka, jika pada akhirnya benar, sekali lagi jika benar, Mustafa ditangkap KPK, saya pastikan duajurai.co akan memberitakannya tanpa keraguan sedikit pun.

16. Elemen terakhir dari 9 Elemen Jurnalisme adalah “Mendengarkan Hati Nurani”. Maka untuk saat ini izinkan kami menggunakan dan menguji elemen tersebut dalam konteks kasus menhebohkan ini. Bagi duajurai.co, cepat itu baik. Terpercaya jauh lebih baik.

Demikian pembaca sekalian yang budiman. Mari kita tunggu dan ikuti perkembangan kasus ini dengan menjunjung asas praduga tidak bersalah, prinsip jurnalisme, dan Kode Etik Jurnalistik. Terima kasih.

Juwendra Asdiansyah – Pemimpin Redaksi duajurai.co

Catatan:

  • Sikap redaksi ini dibuat dan diposting di grup WA Pembaca duajurai.co pada Kamis pagi, sebelum pukul 8 WIB.
  • Beberapa waktu kemudian calon Gubernur Lampung Mustafa menghadiri Apel Gelar Pasukan Pengamanan Pilgub Lampung oleh Polda Lampung di Lapangan Korem 043 Garuda Hitam, Enggal, Bandar Lampung.
  • Kepada awak media seusai acara, Mustafa memberikan keterangan soal kabar dan pemberitaan media yang menyebut dirinya ditangkap KPK
  • Mustafa menepis kabar bahwa dirinya terjaring OTT oleh KPK. Pemberitaan yang beredar luas sejak Rabu malam yang menyebutnya dicocok KPK sama sekali tidak benar.
  • Mustafa menyatakan bahwa pada Rabu sore-malam ia memang berada di Jakarta untuk berobat di sebuah rumah sakit, namun ia langsung pulang ke Lampung agar bisa hadir pada apel pagi ini.
  • duajurai.co memberitakan kehadiran Mustafa dalam apel tersebut serta bantahannya ditangkap oleh KPK.
  • Portal berita Kumparan.com, salah satu media yang awal-awal memberitakan adanya OTT oleh KPK terhadap Mustafa, meralat semua beritanya terkait itu, termasuk yang berjudul “Bupati Lampung Tengah yang di OTT KPK Cagub Lampung Andalan NasDem”.
  • Kumparan.com lewat berita ralatnya juga menyatakan meminta maaf ke Bupati Lampung Tengah Mustafa dan pembaca atas ketidakakuratan yang terjadi.(*)

Komentar

Komentar

Check Also

CITIZEN REPORTER: Scooter, Fasilitas Baru Penolong Jemaah Haji-Umrah

  Laporan Dr Eng Admi Syarif Dosen FMIPA Universitas Lampung Langsung dari Mekkah, Arab Saudi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *