Kafe Juwe Besok: Woiii Udah Pada Ngopi Belom!


GUBERNUR Lampung M Ridho Ficardo sedang menyeduh kopi dalam materi promosi acara Hari Kopi Internasional akhir 2017 lalu . | Humas Pemprov Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – “Woii udah pada ngopi belom. Diem diem bae. Ngopi napa ngopi.” Sebagian kita mungkin hari-hari belakangan merasa dekat dengan kalimat ini.

Betapa tidak, beragam video singkat yang berisi ujaran kecintaan kepada kopi dan aktivitas minum kopi ini muncul dan meruyak cepat di smartphone kita via grup-grup WhatsApp dan berbagai platform media sosial (medsos) lainnya. Dari anak-anak, embah-embah, hingga muli-muli cantik jadi “model video dadakan” dengan ajakan dan pertanyaan yang sama: udah pada ngopi belum!

Video-video tersebut sejatinya merupakan kemasan lain dari tren minum kopi atau ngopi yang tengah melanda Nusantara. Bak pengantin pada musim haji, kedai-kedai dan kafe-kafe bermunculan secara masif dalam beberapa warsa terakhir. Coffee shop di hotel-hotel kembali bergairah. Berbagai tempat ngopi bertebaran di sudut-sudut kota.

Minum kopi di kedai atau kafe menjelma menjadi gaya hidup. Di medsos, foto-foto ketawa-ketiwi ngopi bersama kolega di kafe, kilar-kilir saban hari.

Tren ini juga menjalar di Lampung. Padahal, sejatinya budaya atau kebiasaan ngopi bukan barang anyar. Ngopi atau ngupi/ngupei demikian lekat dengan masyarakat Bumi Ruwa Jurai sejak lampau.

Daerah ini merupakan surganya kopi sejak zaman old. Lampung merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia. Kopi Lampung itu uenak. Rasanya makjleb.

Tak perlu kopi-kopi bermerek dengan harga sebungkusnya puluhan hingga ratusan ribu. Cukup kopi-kopi kelas warung yang harga sebungkus kecilnya kurang dari Rp5.000, dijamin maknyus.

Jika main ke Lampung, Dilan rasanya tidak akan sanggup bilang, “Ngopi Lampung itu berat, kamu tidak akan kuat, cukup aku saja!”

Saat membuka peringatan Hari Kopi Internasional di Bandar Lampung, akhir September 2017 lalu, Gubernur M Ridho Ficardo menyatakan, lebih dari 50% ekspor kopi Indonesia berasal dari Lampung. “Banyak industri besar di Indonesia yang mengandalkan produksi kopi dari petani kopi robusta Lampung,” katanya.

“Penikmat kopi di berbagai belahan dunia, terutama Eropa, menyukai kopi Lampung. Bahkan, Italia yang umumnya senang kopi arabika mencampurnya dengan kopi robusta Lampung,” lanjut Gubernur.

Khusus jenis robusta, Lampung merupakan produsen terbesar di Indonesia. Ini seperti disampaikan Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Willem Petrus Riwu pada acara wisata kebun kopi di Talangpadang, Tanggamus, 30/9/2017. Ia mengatakan, 72% produksi kopi nasional berasal dari kopi robusta Lampung.

Almarhum Adeham, saat menjabat Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekprov Lampung mengatakan, luas perkebunan kopi di Lampung sekarang mencapai 160 ribu hektare. Jumlah ini setara dengan sekitar 12,9% total luas areal kopi nasional.

Kebun kopi Lampung tersebar di Kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, Lampung Utara, Pesisir Barat, dan Way Kanan. Hasil produksinya, sebagian diekspor ke beberapa negara di Eropa, Jepang, Timur Tengah, dan Australia.

“Ada 147 ribu kepala keluarga petani yang menggantungkan hidup dari perkebunan kopi. Mereka mampu menghasilkan kopi hingga 120 ribu ton per tahun,” kata Adeham, 30/9/2017.

Pertanyaannya, mengapa kopi dan ngopi yang merupakan “barang” dan “gaya” lawas kini mendadak tren? Apakah tren ngopi yang beranjak dari beranda rumah ke ruang-ruang kafe memberi manfaat signifikan bagi pelaku perkopian di Bumi Ruwa Jurai, khususnya petani di daerah-daerah?

Apakah nasib petani kopi di Lampung zaman now sama gurihnya dengan biji-biji kopi yang lahir dari tangan dan keringat mereka? Atau malah kecut dan sepet layaknya kopi basi bekas kemarin?

Setelah setahun mengudara dan 30 episode terlewati sejak Januari 2017, untuk kali pertama “Kafe Juwe” akhirnya benar-benar membincang soal kopi. Talkshow mingguan di Radio Andalas 102,7 FM tersebut, besok pagi, Kamis, 8/2/2018, akan mengundang empat tamu istimewa untuk “mengggoreng” kopi Lampung sekaligus berikhtiar menjawab segala pertanyaan di atas.

Keempatnya ialah Mukhlis Basri, mantan Bupati Lampung Barat—daerah yang merupakan sentra kopi terbesar di Lampung; Dr Unang Mulkan, dosen Adminitrasi Bisnis FISIP Unila, Direktur Eksekutif Edelweiss Center for Sustainable Development; Fahuri Wherlian, pecinta dan pemerhati kopi; serta Karjo Matajat, ahli kopi (grader, cupping tester).

Dipandu Pemimpin Redaksi duajurai.co Juwendra Asdiansyah, Kafe Juwe akan mengudara secara live di Radio Andalas 102,7 FM mulai pukul 10 hingga 11 WIB. Acara ini terselenggara berkat kerjasama Radio Andalas dan duajurai.co, Portal Berita Lampung Terkini Terpercaya.(*)

Juwendra Asdiansyah | wartawan duajurai.co


Komentar

Komentar

Check Also

Kelola Perairan, Pemprov Lampung Terbitkan Pergub Zonasi Wilayah Pesisir

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung segera menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) tentang Rencana …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *