Lupus Tak Halangi Karina Lin Telurkan Buku Lampungisme


Karina Lin, penulis Lampung memegang buku perdananya yang segera diluncurkan | Imelda Astari / duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Masih ingat dengan Karina Eka Dewi Salim atau akrab disapa Karina Lin, seorang odapus (orang dengan lupus) yang tinggal di Bandar Lampung? Setelah cukup lama tak terdengar, ia mengabarkan akan segera meluncurkan buku.

“Rencananya buku saya hendak diluncurkan pada bulan Februari 2018 mendatang, mungkin awal Februari. Ini merupakan buku pertama saya,” kata Karin kepada duajurai.co, Jumat 26/1/2018.

Buku berjudul Lampungisme Sosiokultur, Alam, dan Infrastruktur Bumi Ruwa Jurai itu memuat berbagai tulisannya mengenai Lampung. Ia menjelaskan, sebenarnya buku yang akan terbit merupakan sebuah bunga rampai (kumpulan tulisan kolomnya) yang sebelumnya pernah dipublikasi di beberapa media cetak lokal.

“Tulisan-tulisan dalam buku merupakan kumpulan tulisan saya sejak 2012-2017. Membahas berbagai hal tentang dinamika Lampung beserta polemiknya,” terangnya.

Wanita keturunan Tionghoa itu mengaku sangat mencintai Lampung, tanah kelahirannya. Bagaimana menunjukkan kecintaannya itu, menurutnya salah satunya bisa dilakukan melalui tulisan.

“Saya orang Lampung. Sejak lahir, sekolah hingga sekarang saya selalu bersentuhan dengan tanah Lampung. Daerah ini telah memberi banyak terhadap saya. Tapi apa yang sudah saya lakukan untuk Lampung?” ujar wanita yang sejak 2014 berjuang melawan penyakit lupusnya itu.

Dia juga menerangkan alasan dipilihnya judul menggunakan kata Lampungisme. Dikatakannya yang memilih judul ialah sang editor buku Udo Z Karzi. Ia juga menjelaskan bahwa Lampungisme yang digunakan sebagai judul buku bukanlah Lampungisme untuk mendefinisikan suatu aliran.

“Lampungisme di sini bukan sebuah aliran, namun sebagai tolak ukur kita sebagai orang Lampung, tentang seberapa besar kecintaan kita dan seberapa tahu tentang Lampung,” jelas wanita kelahiran Tanjung Karang, 17 April 1983 itu.

Meskipun kumpulan tulisan, buku ini tidaklah mudah direalisasikan olehnya. Mengingat, kondisi Karin yang harus mondar-mandir Lampung-Jakarta untuk menjalani pengobatan lupusnya, seorang diri. “Saya menulis karena ingin memanfaatkan waktu dengan baik. Meskipun banyak keterbatasan, tapi bukan berarti saya harus berdiam diri saja,” ujarnya.

Selain itu, dia juga sempat mengalami koma lebih dari dua pekan di Rumah Sakit Kramat 128, Jakarta, pada Januari 2017 lalu. Karin melewati masa-masa sulit, dan tetap berjuang untuk bangkit. “Karya ini sebagai ucapan terimakasih saya kepada Tuhan karena masih memberikan kesempatan kepada saya untuk hidup,” ungkap Karin.

Laporan Yulia Ayu Puspita

 


Komentar

Komentar

Check Also

Pindah Tugas, Mantan Sekda Lamsel Fredy Jadi Kepala Bappeda Lampung

KALIANDA, duajurai.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan (Lamsel) mengadakan acara pelepasan mantan Sekretaris Daerah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *