Ketua DPRD Dedi Afrizal: Gubernur Terpilih Harus Independen, Jangan Berpihak kepada Korporat


Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal | Imelda Astari/duajurai.co

Pemimpin Lampung ke depan harus independen. Jangan karena saat pilgub didorong oleh kekuatan eksternal korporat tertentu akhirnya setelah menjabat kebijakannya condong memihak kekuatan korporat tersebut.

  • Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal meminta pemenang pemilihan gubernur-wakil gubernur (pilgub) Lampung 2018 kelak bisa menjaga independensinya. Sikap independen ini terutama dari kepentingan pihak entitas bisnis yang mensponsori atau menopangnya secara finansial dalam kontestasi perebutan kursi BE 1 dan BE 2.

Hal ini disampaikan Dedi Afrizal saat menjadi nara sumber acara Kafe Juwe di Radio Andalas 102,7 FM, Kamis, 11/1/2018. Dipandu Pemimpin Redaksi duajurai.co Juwendra Asdiansyah, talkshow mingguan ini membincang tema “Pilgub Lampung Ngeri-Ngeri Sedap”.

“Pemimpin Lampung ke depan harus independen. Jangan karena saat pilgub didorong oleh kekuatan eksternal korporat tertentu akhirnya setelah menjabat kebijakannya condong memihak kekuatan korporat tersebut,” katanya tegas.

Dedi melanjutkan, gubernur-wakil gubernur terpilih harus kembali kepada tujuan utama pilgub digelar yakni menghasilkan pemimpin yang dapat memajukan Provinsi Lampung.

“Mereka dipilih untuk menyejahterakan masyarakat dan membangun Lampung lebih baik ke depan,” ujar Bendahara PDI Perjuangan Lampung ini.

Soal adanya kekuatan eksternal yang memengaruhi konstelasi pilgub juga disoroti nara sumber lainnya, Jauhari Zailani. Cendekiawan senior ini menilai ada sejumlah permainan di belakang panggung pilgub yang menarik dicermati.

Hal ini di antaranya terlihat dari proses pencalonan dan perjodohan calon yang sangat singkat, sikap tidak konsisten sejumlah partai terkait calon yang diusung, serta perbedaan calon yang didukung pengurus partai tingkat daerah dengan pusat. .

“Partai politik bukan lagi aktor utama dalam sandiwara politik ini. Ada aktor lain, ada skenario lain, sutradara lain di luar partai yang lebih besar dalam drama pilgub,” terang mantan Dekan FISIP Universitas Bandar Lampung (UBL) ini.

“Maka tidak aneh kita melihat partai pecah belah. Fenomena (calon yang didukung) DPD (aerah) beda dengan DPP (pusat), pecah kongsi dalam internal partai, itu fenomena yang sublim, kulit-kulitnya saja. Ada permainan lain di balik panggung,” sambungnya.

Hingga masa pendaftaran ditutup pada Rabu 10 Januari, empat pasangan calon mendaftar ke KPU Lampung untuk mengikuti pilgub. Mereka ialah pasangan gubernur-wakil gubernur petahana Muhammad Ridho Ficardo dan Bachtiar Basri, lalu duet Wali Kota Bandar Lampung Herman Hasanusi dan mantan Sekretaris Provinsi Lampung Sutono.

Selanjutnya, pasangan Bupati Lampung Tengah Mustafa dan anggota DPD RI Ahmad Jajuli, serta mantan Sekretaris Provinsi Lampung Arinal Djunaidi dan Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim.(*)

 


Komentar

Komentar

Check Also

Bravo 5 Lampung Beri Ucapan Selamat kepada Erick Thohir

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Relawan Bravo 5 Lampung mengucapkan selamat kepada Erick Thohir sebagai Ketua …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *