Kafe Juwe Bahas Pilgub, Eko Kuswanto: Parpol Tetapkan Calon Last Minute Bikin Sakit Perut


(Dari kiri) Cendekiawan Jauhari Zailani, Pemimpin Redaksi duajurai.co Juwendra Asdiansyah, Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal, dan Direktur Eksekutif Rakata Institue Eko Kuswanto sesuai acara Kafe Juwe di Radio andlas, Bandar Lampung, Kamis 11/1/2018 | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Direktur Eksekutif lembaga survei Rakata Insitute Dr Eko Kuswanto mengkritisi langkah sejumlah partai politik yang baru menetapkan pasangan calon yang diusung dalam pemilihan gubernur-wakil gubernur (pilgub) Lampung 2018 pada saat-saat terakhir masa pendaftaran di KPU. Selain tampak tidak konsisten, manuver tersebut menciptakan suasana politik yang tidak nyaman..

“Penetapan calon pada last minute yang menunjukkan ketidakkonsistenan partai politik mendukung siapa, bikin kita sakit perut. Kita butuh kepastian, bukan sebaliknya,” kata Eko saat menjadi nara sumber acara Kafe Juwe di Radio Andalas 102,7 FM, Kamis, 11/1/2018.

Dipandu Pemimpin Redaksi duajurai.co Juwendra Asdiansyah, talkshow mingguan ini membincang tema “Pilgub Lampung Ngeri-Ngeri Sedap”. Selain Eko, hadir pula sebagai nara sumber Ketua DPRD Lampung Dedi Afrizal dan mantan Dekan FISIP Universitas Bandar Lampung (UBL) Jauhari Zailani.

Menurut Eko, alangkah ideal dan baik jika calon yang akan diusung sudah disiapkan, bahkan diumumkan jauh hari oleh partai politik. Dengan begitu, entitas poltik dan masyarakat pemilih mendapat kepastian lebih awal soal figur-figur yang bakal mengikuti ajang kontestasi politik lima tahunan tersebut.

“Urusan persaingan setelah mendaftar tidak ada masalah, it’s okay. Tapi mestinya dari awal partai sudah mantap mengenai siapa calon yang diusung. Calon yang disiapkan jauh hari saja belum tentu menang, apalagi yang mendadak dipasangkan atau diusung,” sesal dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan ini.

“Tapi tampaknya elite parpol lebih senang model suasana dinamis dan mendebarkan seperti ini. Sebaliknya, masyarakat berpikir, kok gini ya,” lanjutnya.

Dalam kaca mata Jauhari Zailani, masa perjodohan calon kepala daerah dan wakilnya yang sangat singkat tak ubahnya kawin paksa. Ini terjadi tak terlepas dari sistem pemilu yang mensyaratkan calon kepala daerah maju melalui partai politik, meski memang ada jalur perseorangan.

Selain itu, pasangan atau calon wakil umumnya ditentukan oleh partai politik. “Akan jauh lebih sehat jika yang memilih pasangan (wakil) adalah calon nomor satu (kepala daerah). Ini kawin jangka panjang namanya, pakai pacaran. Yang banyak sekarang terjadi kan dijodohkan secara paksa. Bagi rakyat ini kecelakaan,” kata Jauhari yang juga mantan dosen Uinversitas Muhammadiyah Lampung (UML) ini.

Hingga masa pendaftaran ditutup pada Rabu 10 Januari kemarin, empat pasangan calon mendaftar ke KPU Lampung untuk mengikuti pilgub. Mereka ialah pasangan gubernur-wakil gubernur petahana Muhammad Ridho Ficardo dan Bachtiar Basri, lalu duet Wali Kota Bandar Lampung Herman Hasanusi dan mantan Sekretaris Provinsi Lampung Sutono.

Selanjutnya, pasangan Bupati Lampung Tengah Mustafa dan anggota DPD RI Ahmad Jajuli, serta mantan Sekretaris Provinsi Lampung Arinal Djunaidi dan Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Daftarkan Bacaleg ke KPU Lampung, NasDem Lampaui Kuota 30% Perempuan

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Lampung mendaftarkan sebanyak 85 bakal …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *