Roller Coaster Senin-Rabu Pilgub Lampung


(Dari kiri) M Ridho Ficardo, Herman Hasanusi, Mustafa, dan Arinal Djunaidi | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Jika semua kandidat memenuhi persyaratan, pemilihan gubernur-wakil gubernur (pilgub) Lampung 2018 akan diikuti oleh empat pasangan calon. Untuk calon gubernur (cagub), praktis tak ada kejutan berarti.

Empat tokoh yang sedari awal digadang-gadang bakal maju sebagai cagub akhirnya benar bakal masuk gelanggang perebutan kursi orang nomor satu dan dua di Bumi Ruwa Jurai. Mereka ialah gubernur petahana Muhammad Ridho Ficardo, Wali Kota Bandar Lampung Herman Hasanusi, Bupati Lampung Tengah Mustafa, dan mantan Sekretaris Provinsi Lampung Arinal Djunaidi.

Mengarungi jalan berliku dan cukup mendebarkan bagai film India era 80-90 an, mereka akhirnya mampu meraih tiket partai pengusung dan/atau mitra koalisi partai politik sehingga memenuhi syarat mendaftar ke KPU Lampung pada 8-10 Januari.

Mustafa yang juga Ketua Partai NasDem Lampung mendaftar pertama pada hari pertama pendaftaran, Senin pagi, 8/1/2018. Ia berduet dengan Ahmad Jajuli, anggota DPD RI dua periode asal Lampung. Jajuli merupakan mantan Ketua DPW PKS Lampung dan anggota DPRD Lampung 2004-2009.

Menunggangi gajah, pasangan ini tampak riang gembira mendatangi kantor KPU. Mereka menatap pilgub dengan dipanggul koalisi tiga partai yakni NasDem, PKS, dan Hanura dengan modal 18 kursi di DPRD Lampung.

Siangnya, giliran Herman HN yang mendaftar. Ia diusung PDI Perjuangan, satu-satunya partai yang dia ikuti penjaringannya. Herman diduetkan dengan Sutono yang saat dideklarasikan pada 4 Januari masih menjabat Sekretaris Provinsi Lampung. Dengan modal 17 kursi di DPRD Lampung yang memenuhi syarat minimal pencalonan, PDIP percaya diri maju tanpa koalisi.

Munculnya Sutono menjadi salah satu kejutan pilgub kali ini. Nama mantan Kepala Dinas Kehutanan Lampung ini praktis tidak muncul sebelumnya dalam radar pemerhati belantikan politik Lampung bakal masuk bursa pencalonan.

Di mata publik, dua sosok elite PDIP Lampung, Mukhlis Basri (mantan Bupati Lampung Barat) dan Dedi Afrizal (Ketua DPRD Lampung), justru yang dikira bakal dipilih Megawati Soekarnoputri menjadi bacawagub sebagai representasi partai banteng di pencalonan.

Selasa, 9/1, tak ada pasangan yang mengetuk pintu kantor KPU Lampung. Meski demikian, bukan berarti suhu politik hari itu adem ayem. Justru sepanjang kemarin jagad politik Lampung gaduh bukan kepalang.

Ibarat pertandingan sepakbola, mulai dari pemain, manajer, official, penonton, hingga tukang sobek karcis, jantungnya empot-empotan. Bagai menunggang roller coaster, turun naik, deg-degan tak habis-habis.

Apa pasal? Ada dua sebab utama. Pertama, berembus kabar rekomendasi Golkar untuk Arinal dan pasangannya Chusnunia Chalim (Nunik), Bupati Lampung Timur, bakal dicabut. Jika benar, maka duet ini bakal zonk. Menyisakan PKB yang cuma punya 7 kursi di DPRD Lampung, syarat pencalonan minimal 17 kursi, jelas tak cukup.

Tapi ini belum seberapa menegangkan dibanding sebab kedua. Petahana Ridho Ficardo yang pada 7 Januari sempat dipastikan maju bersama Helmi Hasan, Wali Kota Bengkulu, dan bakal diusung koalisi empat partai, tiba-tiba nasibnya mak jelas.

Helmi Hasan, ujug-ujug mundur. PAN yang semula disebut masuk koalisi “kapal pesiar” pun ikut mlayu. Partai pimpinan Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI, itu malah balik badan kembali berlabuh ke Arinal-Nunik.

Patah tumbuh, hilang berganti. Ini kejutan lainnya. Helmi pergi, Ridho meminang tandem lamanya pada Pilgub 2014, Bachtiar Basri, Wakil Gubernur Lampung dan Wakil Ketua Umum DPP PAN.

Masalah mestinya selesai. Wakil sudah dapat. Partai pengusung juga masih sisa tiga, Demokrat, PPP, dan Gerindra dengan modal 25 kursi di DPRD Lampung.

Namun, drama rupanya belum usai. Pada Selasa siang hingga sore, beredar kabar rekomendasi Gerindra belum final. Bahkan di sejumlah grup WhatsApp muncul rumor Gerindra akan bergabung dengan PAN mengusung Zainudin Hasan dan Gunadi Ibrahim.

Ketua DPD Partai Gerindra Lampung Gunadi Ibrahim pada Selasa sore bahkan menyatakan partainya belum memberikan rekomendasi untuk pasangan Ridho-Bachtiar.”Belum ada koalisi, dari mana? Kadang-kadang sudah bikin keputusan mendahului dari yang mengambil keputusan,” ujar Gunadi.

Baca Duet Ridho-Helmi Urung, Sumber: Ada Kekuatan Besar di Luar Partai Pengaruhi Pencalonan

Sampai di sini pencalonan Ridho memasuki fase krusial. Jika Gerindra batal bergabung, niatnya kembali maju pilgub bakal karam. Hanya ditemani PPP, modalnya maju cuma tersisa 15 kursi alias kurang 2 kursi dari syarat minimal pencalonan.

Dalam situasi itu, Selasa petang beredar via WhatsApp foto surat rekomendasi DPP Partai Gerindra yang isinya mengusung Ridho dan Bachtiari. Tak sedikit yang ragu kesahihan surat yang tampak diteken Prabowo Subianto tersebut.

Namun sumber di Demokrat Lampung memastikan surat tersebut asli. Ia juga memastikan, pada Rabu, 10/1, Ridho-Bachtiar akan mendaftar ke KPU.

Dan, akhirnya pada Rabu semua misteri terjawab. Rabu pagi, Arinal-Nunik dan pendukungnya mantap melangkahkan kaki ke kantor KPU di Jalan Gadjah Mada, Bandar Lampung.

Golkar tak pindah ke lain hati. Sementara PAN, rupanya benar bergeser perahunya ke arah duet Arinal-Nunik. Bersama PKB, Golkar dan PAN, Ketua Golkar Lampung dan Wakil Sekjen PKB tersebut sumringah mengantongi tiket 25 kursi di DPRD Lampung..

Siangnya, giliran Ridho dan para pendukungnya yang tersenyum lebar. Sang petahana berhasil kembali melenggang ke ajang pilgub. Bachtiar Basri digandeng mesra. Duet Ridho-Berbhakti Jiilid II meletup-letup dari Villa Citra (rumah Ridho) hingga Jalan Gadjah Mada (kantor KPU).

Tiket Gerindra yang masuk terakhir, bergabung dengan Demokrat dan PPP menghasilkan total dukungan 25 kursi, sama dengan modal Arinal-Nunik.

Kini, publik Lampung tinggal menunggu penetapan pasangan calon oleh KPU pada 12 Februari. Jika keempat pasangan lolos semua proses, mereka akan bertarung meraih suara 6 juta lebih pemilih di Bumi Ruwa Jurai pada 27 Juni 2018.

Siapa pun pemenangnya kelak, kita berharap mereka adalah yang terbaik bagi provinsi di ujung Pulau Andalas ini.

  • Ikan belida tersangkut bubu. Ikan sepat mengayun selera.
  • Jangan tergoda lima puluh ribu. Nikmat sesaat lima tahun sengsara.(*)

Juwendra Asdiansyah | wartawan duajurai.co


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top