Pemkab Pesawaran-Desindo Bahas Kerja Sama Digitalisasi Desa  


 

Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesawaran membutuhkan sinergi untuk melakukan terobosan stimulasi program, deregulasi, musyawarah antardesa, serta pemberlakuan fit and proper test bagi pelaksana program Gerakan Desa Ikut Sejahtera (Gadis). Hal tersebut sebagai prevensi praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan perwujudan tata kelola pemerintahan yang baik.

Demikian disampaikan Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona saat audiensi dengan Yayasan Desapolitan Indonesia (YDI-Desindo). Audiensi itu membahas potensi dan peluang kerja sama sistem digitalisasi desa melalui platform aplikasi Sistem Informasi Desa (SIDesa), dukungan infrastuktur Open BTS, dan penguatan BUMDes. Pertemuan tersebut bertempat di ruang rapat Kantor Pemkab Pesawaran, Lampung, beberapa waktu lalu.

Kendala ini harus dipecahkan bersama. Mengingat pengabdian membangun desa agar mandiri dan bermartabat sesuai tagline Desindo, “desa berubah”. Butuh konsistensi dan solusi tepat dengan skema kolaborasi serius antarlembaga, baik itu lembaga jasa keuangan, lembaga pemberdayaan, dunia usaha, investor, dan yang terpenting masyarakat desa itu sendiri sebagai subjek pembangunan desa,” kata Dendi dalam surat elektronik yang diterima duajurai.co, kemarin.

Sementara, Ketua Dewan Pengurus Desindo Zaidirina mengatakan, Desindo hadir menawarkan skema kerja sama strategis yang inovatif. Kerja sama dimaksud berskala business to business (B to B) tanpa menganggu alur kerja program Dana Desa (DD), Alokasi Dana Desa (ADD), dan program Gadis. Hal tersebut sebagai back up mempercepat pembangunan, demokratisasi, perkuatan ekonomi dan digitalisasi sebagai ruh otonomi desa.

Berdasar pengamatan Desindo, gambaran umum desa di Pesawaran hampir serupa desa-desa di kabupaten lain di Indonesia. Secara inklusi, keuangan desa, potensi sumber daya alam dan manusia notabene kaya. Sehingga, relatif feasible sebagai basis ekonomi. “Namun, pada sisi lain, secara kelembagaan ekonomi relatif masih miskin inovasi dan terganjal mata rantai makro ekonomi. Sehingga, tak jarang ditemukan potensi ini dalam upaya memperluas skala ekonomi desa menjadi tidak bankable,” ujarnya.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

AYA Dance Theater Belanda Mentas, Ini Harapan Sekretaris DKL Bagus Pribadi

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Malam ini, Sabtu, 20/10/2018, pertunjukan tari kontemporer bertajuk “VEIL” akan dipentaskan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *