OPINI FAJAR SIDIK: Strategi Menggeliatkan Literasi di Sekolah


RATUSAN anak memperingati Hari Aksara Internasional di area kamping Rumah Baca Akar, Pasuruan, Kabupaten Lampung Selatan, kemarin. Dalam peringatan itu, mereka diajak menulis selama 15 menit dengan didahului membaca selama 15 menit. | ist

Fajar Sidik | Pendiri Sembilan Rumah Baca Andalusia

HASIL penelitian UNESCO pada 2012 menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya bernilai 0,001. Artinya, dari 1.000 orang, hanya satu orang yang gemar membaca. Kemudian, pada Maret 2016, Most Literate Nations in the World merilis pemeringkatan literasi internasional yang menempatkan Indonesia berada pada urutan ke-60 di antara total 61 negara. Kondisi yang sama juga terjadi pada pemeringkatan tingkat pendidikan Indonesia di dunia yang memang dari tahun ke tahun belum beranjak dari papan bawah dalam berbagai survei internasional. Salah satunya World Education Forum di bawah naungan PBB menempatkan Indonesia pada posisi 69 dari 76 negara.

Miris. Itulah fakta minat baca bangsa kita. Negara yang memiliki limpahan karunia tak terhingga, namun terpuruk dalam hal kecintaan membaca. Luka bangsa ini akan semakin panjang menganga, jika anak-anak muda, siswa, dan seluruh elemen bangsa meninggalkan jendela dunia. Padahal, dari buku, mereka memiliki bayangan tentang seluruh dunia. Bahkan, pelosok bumi yang sekalipun tidak pernah mereka injakkan kaki. Inilah kemuliaan membaca. Seperti pesan Illahi pada salah satu ayat nya “Iqro”. Baca nak, bacalah! Dengan menyebut Tuhanmu yang maha tinggi.

Membangun dunia literasi bukan perkara mudah. Makin diperparah dengan kehadiran gadget yang menawarkan segala kenikmatan instan. Ahhh…. seperti tidak ada peluang lagi, bukan?

Menyerah bukanlah pilihan para pejuang. Menyerah hanya untuk mereka yang berputus asa pada keberadaan Tuhan. Menyerah hanya mendekap jiwa yang lelah pada berkah. Menyerah hanya sikap kerdil yang mendahulukan keputusasaan dibandingkan perbuatan.

Hari ini, kebangkitan literasi efektif bangkit dari sekolah. Segenap elemen pendidik, perlu menyatukan langkah dan menyusun gerakan membangkitkan literasi sekolah. Dari gedung-gedung sekolah, dari suara-suara siswa, literasi di Indonesia akan membahana. Membungkam data-data hari ini yang belum bersahabat dengan kita. Memang itu butuh kerja keras, butuh kerja bersama yang efektif dan terukur. Banyak hal yang dapat dilakukan di sekolah, di antaranya sebagai berikut:

  1. Gerakan 10 menit membaca pada awal waktu sekolah

Gerakan ini menjadi tonggak awal agar siswa mencintai membaca. Untuk membunuh kejenuhan, maka buku yang dibaca dapat disesuaikan dengan minat dan kesukaan siswa. Lebih khusus, jangan pernah membaca buku pelajaran karena akan membentuk image bahwa gerakan membaca ini bagian dari pelajaran.

Gerakan ini pada dasarnya merupakan tahapan pembiasaan membaca. Sehingga, yang paling penting pada tahap ini adalah siswa memiliki kebiasaan baru yang disukai, yakni membaca. Agar lebih disukai, sesekali guru-guru memimpin membaca bersama selayaknya mendongeng untuk membangkitkan antusiasme siswa. Bisa juga sekolah bekerja sama dengan rumah-rumah baca untuk mendirikan kantin membaca, di mana anak-anak dapat membaca sambil ngemil.

Pada prinsipnya, ubah persepsi siswa bahwa membaca itu hal yang membosankan. Ganti dengan persepsi baru bahwa membaca itu asyik, nikmat, dan menyenangkan.

  1. Pohon Buku

Konsep ini mengambil dari konsep pohon sedekah. Mereka yang telah bersedekah akan mendapatkan satu daun dan ditempelkan pada ranting pohon. Semakin rimbun pohon, berarti semakin subur sedekah

Begitu pula dengan Pohon buku. Siswa-siswa dirangsang untuk masuk pada tahap berikutnya, yakni mencintai membaca. Siswa yang telah membaca buku diminta untuk menulis judul buku yang dibacanya beserta sinopsis singkat. Semakin rimbun pohon, semakin subur minat baca siswa.

Agar lebih menarik, maka antarkelas di sekolah memiliki pohon bukunya masing masing, ditetapkan pimpinan kelas untuk kemudian menyusun strategi merimbunkan pohon buku di kelasnya. Setiap pekan, para guru menjadi juri yang menilai pohon yang paling rimbun dan mendapatkan reward berupa ”Pin Prioritas”. Siswa-siswa yang mendapatkan pin tersebut dapat meminjam buku-buku perpustakaan lebih lama dan lebih banyak dibandingkan siswa lainnya

Kompetisi ini diharapkan dapat meningkatkan minat baca siswa. Shingga, waktu-waktu menunggu kelas atau istirahat sambil mengudap makanan, dapat diisi dengan membaca dan membaca.

  1. Sinergi dengan kegiatan ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakurikuler siswa dapat dioptimalkan dengan aktivitas membaca. Misal, lacak jejak pramuka dapat diisi dengan membaca buku-buku tumbuhan. Kemudian, siswa diberi tugas mencari sebanyak mungkin tumbuhan di alam sekitarnya. Aktivitas ini akan membuat siswa lebih bersemangat membaca. Sebab, mereka diberi challenge untuk mencari hal-hal yang dibacanya di alam secara nyata. Dengan reward tertentu yang menyenangkan, maka kompetisi ini akan lebih menarik dan menyenangkan.

Selain itu, kegiatan lainnya seperti bela diri, maka siswa diminta membaca jurus-jurus terkait, mempraktikkannya dan diperbaiki secara teknis oleh pelatih. Semua aktivitas ekstrakurikuler siswa dapat menjadi sarana membaca yang asyik dan menyenangkan. Mereka tidak merasa membaca karena aktivitas intinya justru berupa kegiatan terkait.

  1. Hukuman mendidik

Sekolah bukan hanya sarana belajar meningkatkan ilmu pengetahuan siswa, tapi juga untuk melatih kedisiplinan dan jiwa sosial siswa. Karena itu, pelanggaran atas kedisiplinan yang telah ditetapkan sekolah, dapat diberlakukan hukuman-hukuman tertentu. Lebih lanjut, hukuman-hukuman terhadap pelanggaran tersebut dapat disesuaikan dengan tujuan penguatan literasi sekolah.

Misal, siswa yang terlambat masuk sekolah, atau lupa mengerjakan tugas dan pelanggaran terhadap kedisplinan lainnya, dapat diberi hukuman dengan membaca buku dan menceritakan buku yang dibacanya di hadapan kelas. Selain mendidik, hukuman ini akan meningkatkan minat baca dan pengetahuan siswa, termasuk siswa lainnya.

  1. Desain Ceria Perpusatakaan

Tanya siswa bagaimana pendapatnya tentang perpustakaan? Gelap, tempat yang tidak asyik, membuat jenuh dan sebagainya. Seandainya perpustakaan disulap menjadi tempat yang ceria, enak dilihat dan menyenangkan, maka akan banyak siswa yang mengunjungi perpustakaan. Ini akan mendukung terwujudnya gerakan literasi di sekolah.

  1. Angka Kredit Membaca Buku

Ini menjadi opsional aktivitas peningkatan minat baca siswa. Mempersyaratkan jumlah buku yang dibaca oleh siswa sebagai prasyarat naik kelas atau salah satu pertimbangan pemilihan siswa berprestasi. Hal ini akan mendorong siswa untuk memenuhi angka kredit tersebut dengan mengisi waktu-waktu luangnya dengan membaca. Tentunya, yang perlu juga dipertimbangkan bahwa beban membaca tersebut tidak menghabiskan waktu mereka untuk bermain dan bersosialisasi.

  1. Proyek Membaca Bersama Orang Tua

Proyek bersama orang tua ini dapat berupa kegiatan membeli buku bersama, mengunjungi perpustakaan bersama, ataupun membaca dan saling menceritakan isinya. Sekolah memang menjadi sarana belajar siswa. Namun, tanpa dukungan orang tua di rumah, maka cita-cita terwujudnya geliat literasi di sekolah hanya akan menjadi mimpi belaka. Karena itu, orang tua perlu menjadi pendamping utama dalam meningkatkan minat baca anak-anaknya. Aktivitas-aktivitas bersama seyogianya dapat dioptimalkan dengan aktivitas membaca. Tentu tidak seluruh waktu, hanya sebagian kecil saja. Dukungan orang tua, komitmen sekolah, kerja keras guru dan lingkungan sosial yang mendukung akan semakin mendorong geliat literasi di sekolah.

Hal-hal di atas dapat dijalankan seluruh sekolah di Indonesia, lebih khusus di Lampung. Harapannya, literasi sekolah akan terwujud dalam 2-3 tahun ke depan dan akan menjadi budaya yang berkelanjutan. Bahkan, menjadi bagian dari karakter siswa di manapun. Selamat mencoba!(*)


Komentar

Komentar

Check Also

CITIZEN REPORTER: Scooter, Fasilitas Baru Penolong Jemaah Haji-Umrah

  Laporan Dr Eng Admi Syarif Dosen FMIPA Universitas Lampung Langsung dari Mekkah, Arab Saudi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *