7 Tips agar Nikmatnya Ngopi Tak Rusak Gara-Gara Hoax


Juwendra Asdiansyah | Wartawan duajurai.co

AGAR akal sehat tetap terjaga mari membiasakan mengonsumsi informasi yang baik, informasi bermutu. Bukan hoax, kabar bohong, apalagi fitnah. Pagi ini suasana ngupi saya yang syahdu berubah jadi pahit dan kecut gara-gara mata keserimpet berita hoax di sebuah WhatsApp grup (WAG).

Supaya Anda tidak merasakan apes seperti saya, atau bahkan tidak jadi pelaku yang bikin kecut suasana ngupi orang lain, berikut beberapa tips sederhana untuk mendeteksi sebuah konten di dunia maya hoax atau bukan.

1. Lihat medianya

  • Situs/website lembaga resmi atau bukan, media arus utama atau bukan. Jika medianya tidak jelas, lembaga penaung website-nya meragukan, konten yang disajikan sulit dipercaya kebenarannya.
  • Jika blogspot/blog pribadi lihat profil pemilik/pengelola/penulisnya.
  • Ada tim redaksinya tidak, alamat tercantum atau tidak. Jika tidak ada, hampir pasti media abal-abal.

2. Siapa sumber berita

Dalam Islam, hadis itu ada tingkatannya. Dari yang sahih hingga yang dhoif/dhaif. Level itu terutama ditentukan oleh siapa perawinya. Kalau perawinya tidak jelas, kapasitas atau rekam jejaknya meragukan, apalagi cacat moral, atau terputus rantai periwayatannya (sanad) maka ia tergolong hadis dhaif/dhoif.

Demikian pula sebuah konten berita/artikel di internet. Lihat siapa sumber informasinya, siapa yang mengatakan, kredibel atau tidak. Jika tidak jelas identitas, rekam jejak, kapasitasnya abaikan. Apalagi kalau sumbernya anonim, ada deh, atau sebut saja kumbang, patut diduga itu info ngawur tak bertepi.

Jika disebut sebuah hasil penelitian, kapan penelitiannya, lembaga apa yang meneliti, siapa yang bicara mewakili lembaga tersebut, kapan informasi hasil penelitian dirilis, dalam momen apa (konferensi pers, wawancara wartawan, seminar, diskusi, dan sebagainya).

Dalam hal ini berlaku hukum “lihat siapa yg mengatakan, bukan cuma apa yang dikatakan”.

Analoginya begini:
Jika datang ke rumah Anda orang yang tidak Anda kenal dengan tampilan yang aneh mengatakan sekarang ada pembagian sembako gratis dan uang Rp1 juta di kelurahan, apa serta merta Anda berlari keluar rumah?

3. Lihat judulnya

Berita/artikel yang baik akan menggunakan judul dengan bahasa yan baik, tata bahasa merujuk KBBI dan EYD, tidak bernada menghina, mengejek, sadis, cabul, dan sebagainya.

Ibuuuuuu Bapakkkkkk Saudara-Saudarakuuuuuu”!! Miris Bacanya, Ternyata Indonesia Dibodohkan Dengan Air Mineral..Brikut Penjelasannya : Bantu sebarluas Kan Ini sangat Penting

Perhatikan judul di atas. Hanya melihat beberapa kata sudah bisa dipastikan pembuatnya tidak cakap berbahasa Indonesia, dan bukan wartawan/penulis profesional.

  • Tertulis dibodohkan seharusnya dibodohi.
  • Tertulis brikut seharusnya berikut.
  • Tertulis sebarluas kan seharusnya sebar luaskan.
  • Penggunaan tanda baca (titik, koma, tanda seru, tanda petik) kacau/tidak pada tempatnya.

4. Periksa bahasa dalam tubuh berita/artikel
Penjelasan sama dengan poin 3.

5. Periksa logika

Masuk akal atau tidak. Berita tidak masuk akal cenderung lebay/berlebihan.

Contoh:

  • Alhamdulillah, akhirnya Donald Trump masuk Islam.
  • Ternyata Pangeran Diponegoro masih hidup, begini penampakannya.
  • Astagaaaa… ditemukan gurita sebesar kapal Titanic, ini fotonya.
  • Harta Soekarno bernilai ribuan triliun tersimpan di Istana Bogor, Jokowi berencana membagi rata ke seluruh rakyat Indonesia.

6. Jangan terkecoh kata SEBARKAN

Konten berita/artikel yang bagus dan terpercaya akan mendorong orang dengan suka rela menyebarkan. Konten bagus tidak perlu diembel-embeli kata “sebarkan”.

7. Bisakah masuk surga hanya karena “mengaminkan”, ” like” atau “bagikan” konten di medsos?

Sering kita berjumpa sebuah konten di medsos dengan foto memilukan hati yang ditambahi narasi untuk mendukung/menjelaskan foto tersebut. Lalu pada bagian akhir tertulis kalimat semacam ini:

  • Yang mengaminkan akan terbebas dari utang.
  • Sebarkan, insya Allah semua doa diijabah.
  • Kasih like ya, semoga yang like masuk surga.

Pertanyaannya:

  • Apa iya utang lunas hanya gara-gara mengetik amin padahal belum dibayar?
  • Apa iya doa terkabul cuma lantaran share konten di Facebook?
  • Gampang amat masuk surga cuma karena jempol mencet tombol like di medsos.

Demikian saudaraku. Semoga bermanfaat bagi kita semua yang masih mau waras. Pelihara akal sehat. Hidup sudah berat, jangan ditambah berat dengan informasi sesat.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

CITIZEN REPORTER: Scooter, Fasilitas Baru Penolong Jemaah Haji-Umrah

  Laporan Dr Eng Admi Syarif Dosen FMIPA Universitas Lampung Langsung dari Mekkah, Arab Saudi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *