Edisi 28, Malam Ini Komunitas Maiyah Ambengan Lampung Timur Ngaji “Tolak Balak”


MAJELIS Maiyah Ambengan Lampung Timur edisi 28 dengan tema Tolak Balak | ist

MARGOTOTO, duajurai.co –  Majelis Maiyah Dusun Ambengan pada Sabtu malam ini, 16/12/2017, kembali menggelar diskusi/kajian sinau kebudayaan. Seperti gelaran-gelaran sebelumnya, pada edisi ke-28 ini, kegiatan rutin tersebut juga berlangsung di Rumah Hati Lampung, Desa Margototo, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur.

Syamsul Arifien, pendiri sekaligus tuan rumah Komunitas Maiyah Ambengan, mengatakan, dengan mengangkat tema Tolak Balak, akan hadir KH Muzamil, pemimpin Pondok Pesantren Rohmatul Umam, Yogyakarta.

“Mari melingkar, ngaji dan bergembira bersama di Rumah Hati Lampung, malam ini mulai pukul 19.30 WIB,” kata Syamsul kepada duajurai.co via pesan WhatsApp.

Terkait tema Tolak Balak, Syamsul menjelaskan, “balak” dalam bahasa Lampung berarti besar. Jika bersanding dengan kata “tolak”, balak/bala biasanya berarti musibah. Maka tolak bala adalah upaya untuk mencegah atau terhindar dari musibah.

“Namun demikian, jika berbasis ayat-ayat Alquran, bala memiliki makna ujian yaitu cobaan dari Allah untuk meningkatkan level keimanan seseorang. Landasan utama yang sering dipakai adalah Alquran surat Alankabut ayat 2 yang artinya, ‘Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman’ sedangkan mereka tidak diuji lagi?” beber pria yang akrab disapa Cak Sul ini.

Dipilihnya tema tolak balak ini, terus Syamsuk, bukan untuk menolak ujian yang notabene penting untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Ini merupakan refleksi atas berbagai permenungan dan nasehat-nasehat dalam Daur 286, terutama pada proses di mana kita semua seolah sedang terombang-ambing.

Terombang-ambing dalam arus besar pertentangan antara kebenaran yang dipelajarinya selama ini dengan keadaan di sekelilingnya. Secara bertahap ia bersama teman- temannya belajar memahami zaman, melalui berbagai metode dan terminologi yang berasal dari berbagai macam sumber.

“Bala di sini berarti bisa sebagai titik awal memulai keimanan, dapat juga memerosokkan diri kepada kesesatan,” sambung pria berambut gondrong ini.(*)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top