Sejarah Pohon Natal


Pohon Natal | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sebentar lagi, umat Kristiani di dunia akan merayakan Natal. Pada Hari Kelahiran Yesus Kristus itu, memasang pohon Natal telah menjadi kebiasaan.

Dikutip dari Wikipedia pada Rabu, 13/12/2017, kebiasaan memasang pohon Natal sebagai dekorasi dimulai dari Jerman. Pemasangan pohon Natal yang umumnya dari pohon cemara, atau mengadaptasi bentuk pohon cemara itu dimulai pada abad ke-16.

Saat penduduk Jerman menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Amerika, mereka pun kerap memasang cemara yang tergolong pohon evergreen untuk dekorasi Natal di dalam rumah. Dari catatan yang ada, orang Jerman di Pennsylvania, Amerika Serikat, memajang pohon Natal untuk pertama kalinya pada 1830-an.

Pohon Natal bukanlah suatu keharusan di gereja maupun di rumah. Sebab, pohon Natal hanya simbol agar kehidupan rohani orang Kristen selalu bertumbuh dan menjadi saksi yang indah bagi orang lain “evergreen“. Pohon Natal (cemara) juga melambangkan “hidup kekal”. Sebab, pada umumnya, saat musim salju hampir semua pohon rontok daunnya. Kecuali,  pohon cemara yang selalu hijau daunnya.

Ada beberapa legenda/cerita yang beredar di kalangan orang Kristen mengenai asal mula pohon Natal. Salah satunya, kisah mengenai Santo Bonifasius. Ia merupakan rohaniawan Inggris yang memimpin beberapa gereja di Jerman dan Perancis. Dalam perjalanannya, Santo Bonifasius bertemu dengan sekelompok orang yang akan mempersembahkan seorang anak kepada dewa Thor di sebuah pohon ek. Untuk menghentikan perbuatan jahat mereka, secara ajaib Santo Bonifasius merobohkan pohon ek tersebut dengan pukulan tangannya. Setelah kejadian yang menakjubkan tersebut, di tempat pohon ek yang roboh tumbuhlah sebuah pohon cemara.

Cerita lain mengisahkan kejadian yang dialami Martin Luther, tokoh Reformasi Gereja. Pada suatu malam, Luther sedang berjalan-jalan di hutan. Ia merasa terkesan dengan keindahan gemerlap jutaan bintang yang sinarnya menembus cabang-cabang pohon cemara di hutan. Luther pun menebang sebuah pohon cemara kecil dan membawanya pulang pada keluarganya di rumah. Untuk menciptakan gemerlap bintang seperti yang dilihatnya di hutan, ia memasang lilin pada tiap cabang pohon cemara tersebut.

Terlepas dari kebenaran kisah tersebut, pemasangan pohon Natal kini menjadi tradisi. Setelah masyarakat Amerika mengikuti jejak Inggris menggunakan pohon cemara pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, industri pun semakin berkembang dan merambah ke berbagai negara. Termasuk industri berbagai hiasan pohon Natal, seperti bola-bola yang digantung, pernak-pernik sinterklas, tinsel, dan lainnya.

Karena penggunaan pohon cemara merupakan tradisi Eropa, ekspresi sukacita yang dilambangkan dengan berbagai dekorasi itu berbeda-beda di setiap negara. Indonesia dan Filipina menjadi negara yang sangat terpengaruh tradisi Eropa. Sampai akhirnya para umat Kristen membeli pohon buatan, tetapi yang penting berbentuk cemara.

Di Afrika Selatan keberadaan pohon Natal bukanlah sesuatu yang umum. Sementara masyarakat India, lebih memilih pohon mangga dan pohon pisang.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

7 Tips Atasi Pegal saat Mudik Naik Motor (1)

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Menjelang Lebaran, banyak orang memilih mudik dengan mengendarai sepeda motor. Namun, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *