Wajarnya 50, Kadar Bakteri Coliform Air Sumur Warga Bakung Capai 920


PEGAWAI Balai Laboratoriaun Kesehatan Lampung memperlihatkan hasil laboratorium sampel air sumur warga Lingkungan II, Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Kota Bandar Lampung, kemarin. Berdasar hasil lab, sampel air sumur yang tak jauh dari instalasi pengolahan limbah tinja di TPA Bakung itu mengandung bakteri Coliform yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Kandungan Bakteri Coliform air sumur di Lingkungan (LK) II, Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Kota Bandar Lampung, dipandang melebihi ambang batas. Pasalnya, kadar bakteri yang memproduksi berbagai macam racun itu mencapai 920.

“Berdasar Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990, untuk air nonperpipaan hanya boleh kurang dari 50 kuman per 100 ml, serta 10 ml untuk air perpipaan. Nah, untuk dua sample air sumur yang kami uji ini, hasilnya semua jauh melampaui ambang batas yang dipersyaratkan untuk air bersih,” kata Sutarji, Kasi Pelayanan Laboratorium Klinik UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Lampung, saat ditemui di kantornya, kemarin.

Dia mengatakan, untuk sampel air sumur warga RT 01/LK II, Bakung, memiliki kadar Bakteri Coliform 350. Sedangkan sampel air sumur dari RT 08/LK II, Bakung, memiliki kadar bakteri Coliform lebih besar lagi, yakni 920. “Kalau tidak memenuhi standar air bersih, maka air sumur itu berpotensi menyebabkan berbagai macam gangguan kesehatan. Bisa diare, penyakit kulit, dan lain-lain,” ujarnya.

Menurut Sutarji, Bakteri Coliform adalah bakteri-bakteri yang dihasilkan dari pencernaan manusia. Sehingga, Coliform yang terkandung dalam sampel air sumur tersebut bisa berasal dari tinja manusia. “Kalau dilihat dari hasil pemeriksaan ini, air sumur sudah tercemar. Tapi, perlu diperiksa lebih lanjut untuk memastikan sumber bakterinya,” kata dia.

Sejumlah warga Kelurahan Bakung terkena penyakit kulit setelah mengonsumsi air sumur. Air yang mereka pakai terkadang berbau tak sedap dan berwarna kekuningan. “Anak bungsu saya yang berusia empat bulan, Fani, baru saja sembuh dari sakit kulit. Kasihan badannya merah-merah dan berisi air, seperti nanah. Kata dokter di Puskesmas Bakung sih cacar air, tapi saya gak tahu persis. Yang pasti selama sebulan anak saya menangis terus karena kulitnya bentol,” kata Runah (36), warga setempat.(*)

Baca juga Air Positif Kandung Bakteri Coliform, Warga Bakung Disarankan Beri Kaporit ke Sumur

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Jelang Tahun Baru, Chandra Mal Boemi Kedaton Diskon Snack-Minuman

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Supermarket Chandra Mal Boemi Kedaton (MBK) memberikan harga spesial untuk aneka makanan ringan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *