ADVERTORIAL: Mustafa Targetkan Lampung Tengah Lumbung Ternak Terbesar di Sumatera


BUPATI Lampung Mustafa panen rumput odot, Senin, 4/12/2017 | ist

GUNUNGSUGIH, duajurai.co – Bupati Lampung Tengah Mustafa menargetkan Lampung Tengah sebagai lumbung ternak terbesar di Sumatera. Tak hanya mengembangkan budidaya ternak sapi, Bupati Ronda ini juga mendorong Lamteng memproduksi pakan ternak secara mandiri.

Pengembangan pakan ternak dilakukan dengan budidaya tanaman rumput odot di kampung Dusun Dadi Makmur, Kampung Bandarsakti, Kecamatan Terusan Nunyai. Sejumlah petani dan warga diarahkan untuk menanam odot yang nutrisinya sangat baik untuk hewan ternak.

“Kita punya target besar di sektor peternakan. Targetnya Lamteng menjadi lumbung ternak, kalau bisa se-Sumatera. Tentunya ini harus ditunjang dengan pakan yang memadai. Di sini kita mencoba membuat inovasi membuat pakan mandiri dengan memanfaatkan tanaman odot,” ungkap Mustafa saat panen raya perdana odot di Kampung Bandarsakti, Senin, 4/12/2017.

Pengembangan tanaman odot ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pakan ternak di Lampung Tengah. Nutrisi yang baik pada odot juga diharapkan semakin menunjang potensi peternakan di kampung-kampung.

“Odot adalah tanaman dari varietas rumput gajah. Ini merupakan pakan alternatif dengan nutrisi terbaik. Jika ini dikembangkan maksimal, tentunya memberikan keuntungan bagi semua pihak, baik petani, peternak maupun pemerintah. Tak hanya memenuhi kebutuhan pakan ternak lokal, mudah-mudahan bisa dipasarkan secara luas,” imbuh dia dilansir ruangmustafa.com.

BUPATI Mustafa saat panen perdana rumput odot, Senin, 4/12/2017 | ist

Ketua Gapoktan Dusun RKD Sutrisno menerangkan, budidaya tanaman odot sebagai pakan ternak merupakan masih percobaan. Di Kampung Dadi Makmur ada 6-7 hektare lahan masyarakat yang sudah ditanami odot.

Banyaknya permintaan rumput gajah super ini, ke depan petani dan masyarakat akan diarahkan untuk menanam odot. Menurutnya budidaya odot sangat mudah dan menguntungkan. Selain perawatan mudah, masa panen odot juga tidak lama.

“Dalam 2,5 bulan odot sudah bisa dipanen. Setelah itu batang kita potong-potong 17-19 cm. Per batang bisa dijual dengan harga Rp300. Permintaan per hari bisa mencapai 40-50 ton. Namun karena produksi masih terbatas, permintaan belum bisa dipenuhi. Karenanya ke depan kita konsen mengembangkan tanaman odot ini,” jelasnya.

“Perawatannya mudah. Penanaman pertama menggunakan pupuk organik, selanjutnya cukup urea. Satu pohon nantinya bisa menghadilkan hingga 60 tunas. Daunnya juga bisa langsung dikonsumsi ternak,” katanya.

Terkait pemasaran, menurut Sutrisno, tidak perlu khawatir karena permintaan sangat tinggi. Sejauh ini odot sudah dipasarkan di sejumlah kabupaten yakni Lampung Utara, Lampung Selatan, Pringsewu, Pesisir Barat, dan Mesuji. Permintaan mencakup petani perseorangan, kelompok tani, dan perusahaan.

Dengan program One Zona One Product, Ia berharap semakin meningkatkan potensi peternakan di Lampung Tengah, serta meningkatkan perekonomian pembudidaya rumput odot. “Sejauh ini odot masih belum terlalu familiar di kalangan petani. Dengan adanya support dari bupati, saya harap semakin banyak petani yang beralih menanam rumput odot,” pungkasnya.(*adv/12/2017)


Komentar

Komentar

Check Also

Tarahan Kembali Terendam Banjir, Pemkab Lampung Selatan Lakukan Pendataan

KATIBUNG, duajurai.co – Desa Tarahan, Kecamatan Katibung, Kabupaten Lampung Selatan, kembali terendam banjir, Rabu, 12/12/2018. Sebelumnya, kawasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *