Inilah 4 Kandungan Berbahaya dari Tinja


SEBUAH truk tangki tinja sedang membuang muatannya di lokasi pembuangan sampah TPA Bakung, Telukbetung Barat, Bandar Lampung, Minggu lalu, 26/11/2017. Setidaknya ada 20 truk yang membuang tinja di sana setiap hari. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Penanganan masalah tinja tidak bisa dianggap sepele. Sebab, pembuangan tinja manusia yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan pencemaran terhadap permukaan tanah serta air tanah, yang berpotensi menjadi penyebab penularan berbagai macam penyakit saluran pencernaan.

Dikutip dari berbagai sumber pada Sabtu, 2/12/2017, selain dapat mengakibatkan kontaminasi pada air, tanah, juga dapat menjadi sumber infeksi, dan akan mendatangkan bahaya bagi kesehatan. Sebab, penyakit yang tergolong water borne diseases akan mudah terjangkit. Bahaya terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah pencemaran tanah, pencemaran air, kontaminasi makanan, dan perkembangbiakan lalat.

Tak hanya itu, tinja juga memiliki potensi berbahaya dari keempat kandungan yang ada di dalamnya. Berikut permasalahan yang mungkin ditimbulkan akibat buruknya penanganan pembuangan tinja:

  1. Mikroba

Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri koli-tinja. Sebagian di antaranya tergolong sebagai mikroba patogen, seperti bakteri Salmonela typhi penyebab demam tifus, bakteri Vibrio cholerae penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A, dan virus penyebab polio. Tingkat penyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia sangat tinggi. Bappenas menyebutkan, tifus mencapai 800 kasus per 100.000 penduduk. Sedangkan polio masih dijumpai, walaupun di negara lain sudah sangat jarang.

  1. Materi Organik

Kotoran manusia (tinja) merupakan sisi dan ampas makanan yang tidak tercerna. Ia dapat berbentuk karbohidrat, dapat pula protein, enzim, lemak, mikroba dan sel-sel mati. Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200-300 mg BODS (kandungan bahan organik).

Sekitar 75% sungai di Jawa, Sumatra, Bali dan Sulawesi tercemar berat oleh materi organik dari buangan rumah penduduk. Air Sungai ciliwung memiliki BODS hampir 40 mg/L (empat kali lipat dari batas maksimum 10 mg/L). Kandungan BOD yang tinggi itu mengakibatkan air mengeluarkan bau tak sedap dan berwarna kehitaman.

  1. Telur Cacing

Seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut manusia. Sebut saja, cacing cambuk, cacing gelang, cacing tambang, dan keremi. Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak diperut orang lain. Anak cacingan adalah kejadian yang biasa di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan karena cacing cambuk dan cacing gelang. Prevalensinya bisa mencapai 70% dari balita.

  1. Nutrien

Umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfor (P) yang dibawa sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedangkan fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 gram dan fosfat seberat 30 mg.

Senyawa nutrien memacu pertumbuhan ganggang (algae). Akibatnya, warna air menjadi hijau. Ganggang menghabiskan oksigen dalam air, sehingga ikan dan hewan lainnya mati.(*)

Baca juga Warga Bakung Keluhkan Limbah Tinja Mengalir ke Permukiman


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top