Gunakan Air Sumur, Warga Bakung Bandar Lampung Kena Penyakit Kulit


Runah memperlihatkan badan anaknya yang bentol setelah menggunakan air sumur dekat kontrakannya di RT 01/LK II, Kelurahan Bakung, Telukbetung Barat, Bandar Lampung, Sabtu, 2/12/2017. Air sumur itu terkadang berbau tak sedap dan berwarna kekuningan. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sejumlah warga Kelurahan Bakung, Kecamatan Telukbetung Barat, Kota Bandar Lampung, terkena penyakit kulit setelah mengonsumsi air sumur. Air yang mereka pakai terkadang berbau tak sedap dan berwarna kekuningan.

“Anak bungsu saya yang berusia empat bulan, Fani, baru saja sembuh dari sakit kulit. Kasihan badannya merah-merah dan berisi air, seperti nanah. Kata dokter di Puskesmas Bakung sih cacar air, tapi saya gak tahu persis. Yang pasti selama sebulan anak saya nangis terus karena kulitnya bentol,” kata Runah (36), warga setempat, Sabtu, 2/12/2017.

Menurut ibu enam anak itu, tak hanya si bungsu yang merasakan dampak kotornya air lingkungan di sana. Anak keempat dan kelimanya yang juga masih kecil sering menceret. “Sering sekali menceret. Kalau si Okta, anak kelima, sekarang lagi menceret,” ujarnya.

Runah mengaku baru dua tahun tinggal di RT 01/LK II, Bakung. Selama itu, dia tinggal di rumah geribik dan menggunakan air sumur milik tetangga yang letaknya sekitar 8 meter dari pintu rumahnya. Runah memakai air sumur itu untuk mandi, mencuci, dan buang air. Suaminya bekerja sebagai buruh bangunan, sehingga tak mampu berlangganan air PAM maupun membuat sumur sendiri. “Kalau minum memang saya tak berani pakai air sumur itu. Saya beli galon. Airnya kan kadang bau dan keruh. Kalau untuk cuci beras dan sayur tetap pake air sumur itu,” kata dia.

Hal senada disampaikan Emit Rianti (26), warga lainnya. Dia mengaku tubuhnya gatal-gatal saat menggunakan air sumur. Emit terpaksa memakai air sumur karena hanya itu air yang tersedia di kontrakan. “Airnya kelihatan bening. Tapi, kalau didiamkan beberapa saat, nanti kelihatan ada lumpur yang mengendap. Untuk mandi gatal saja di badan. Tapi, mau gimana lagi, adanya air itu,” ujarnya.

Pantauan duajurai.co, tak banyak warga yang menggunakan air sumur di RT 01/LK II. Sebab, kebanyakan memakai air PDAM bantuan dari Pemerintah Kota Bandar Lampung. Sehingga, sumur-sumur warga memang hanya digunakan ketika air PDAM tidak mengalir.

Sebelumnya, instalasi pengolahan limbah tinja di TPA Bakung tak berfungsi maksimal lagi. Sehingga, mobil tinja membuang limbah kotoran manusia itu ke tempat pembuangan sampah tanpa pengolahan terlebih dahulu. Hal tersebut disayangkan aktivis dan pemerhati lingkungan. Sebab, pembuangan limbah itu dapat mencemari air permukaan dan berimbas ke sumur warga sekitar Bakung.(*)

Baca juga Sumur Instalasi Penuh, Tinja di TPA Bakung Bandar Lampung Cuma Dibuang ke Lubang Galian

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

SNV-Pemkot Bandar Lampung-Metro Gelar Pertemuan Kick Off

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – SNV Netherlands Development Organisation bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung dan Pemkot Metro …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *