Soal Siklon Tropis, Berikut Kondisi Atmosfer dan Laut Sebelum Badai


Foto ilustrasi | Ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Badai tropis sering terjadi di lautan tropis yang terletak paling tidak 500 km atau sekitar 5 derajat lintang dari katulistiwa. Badai tropis termasuk gangguan cuaca bersekala besar dengan imbas hingga ratusan kilometer, dan memiliki masa hidup berhari-hari.

Prakirawan Stasiun Meteorologi Raden Intan II Lampung Ramadhan Nurpambudi dalam rilis yang diterima duajurai.co, Jumat, 1/12/2017 mengatakan, badai tropis mampu memindahkan energi yang cukup besar. Bahkan, bisa mencapai 2-6 juta Joule per hari, atau sekitar 5 kali kekuatan bom atom hidrogen.

Menurutnya, badai tropis terbentuk karena lautan memiliki suhu permukaan lebih dari 26,5oC. Suhu tersebut setidaknya mencapai kedalaman 50 meter ke dasar laut. Kondisi inilah yang menjadi bahan bakar utama penguapan air laut.

“Badai bisa terbentuk jika didukung keadaan atmosfer yang tidak stabil, yakni memiliki suhu yang ke atas semakin rendah, dengan laju penurunan hinga 6 oC/km. Kondisi ini akan membuat uap air lebih cepat mengembun. Selain itu, kondisi udara pada ketinggian hingga 5 km juga lembab,” kata dia.

Selanjutnya, perbedaan arah dan kecepatan angin di lapisan bawah dan lapisan atas atmosfer cukup besar, namun masih dibawah 40 km/jam. Kondisi tersebut akan menimbulkan gaya Corioli, yakni gaya yang ditimbulkan oleh perputaran bumi untuk menjaga keseimbangan tekanan. Badai akan terbentuk jika ada gangguan yang memicu peningkatan pusaran angin. Gangguan yang dimaksud misalnya gelombang atmosfer.

Ramadhan menambahkan, badai tropis Dahlia merupakan badai tropis keempat yang terjadi di Indonesia. Pertama, badai tropis Anggrek terjadi di sebelah Barat Daya Pulau Jawa dan juga Pulau Sumatera dengan kecepatan angin maksimum mencapai 65 m/s atau 126 knot, pada akhir Oktober 2010. Badai kedua yakni Bakung, terjadi selama tiga hari di pertengahan Desember 2014 dengan kecepatan 45 m/s atau 87 knot.

Badai ketiga diberi nama Cempaka, terbentuk sangat dekat dengan wilayah daratan terutama Pulau Jawa. Sehingga memberikan dampak yang sangat parah terutama di wilayah Jogjakarta. Yang terakhir, Badai Dahlia di perairan Sumatera dan berdampak hingga Lampung terjadi sejak 29 November 2017.

“Badai dalam skala yang besar sangat jarang bisa terjadi di wilayah Indonesia. Sebab pada dasarnya, pergerakan badai akan menjauhi equator dan wilayah Indonesia berada di equator,” kata Ramadhan.(*)

Baca juga Picu Ombak Setinggi 5 Meter, Siklon Dahlia Bahayakan Transportasi Laut


Komentar

Komentar

Check Also

Penerimaan Siswa Baru, SMAN 2 Bandar Lampung Keluhkan Sistem Zonasi

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – SMA Negeri 2 Bandar Lampung mengeluhkan sistem zonasi dalam penerimaan siswa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *