Lampung Digital Creative, Andi Desfiandi: Perbankan Konvensional akan Redup


PEMRED duajurai.co Juwendra Asdiansyah (kaus hitam) memandu diskusi pada acara Lampung Digital Creative (L’Dive) di Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampung, Rabu, 22/11/2017. Diskusi panel itu menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Ketua Yayasan Alfian Husin Andi Desfiandi (pegang mikorofon) dan Abdur Rohim Boy Berawi (tiga dari kanan), Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Bekraf. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pengamat ekonomi kreatif Andi Desfiandi memperkirakan perbankan konvensional akan meredup. Sebab, dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, berbagai hal kini bisa dilakukan lewat gadget.

“Saya rasa tak lama lagi perbankan yang konvensional akan meredup. Sebab, kini semua bisa dilakukan melalui gadget. Pembayaran bisa menggunakan E-money. Nah, ini peluang bagi adik-adik semua untuk mengembangkan ekonomi kreatif berbasis digital,” kata Andi saat diskusi pada acara Lampung Digital Creative (L’Dive) di Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Lampung, Rabu, 22/11/2017.

Ketua Yayasan Alfian Husin itu mengatakan, saat teknologi berkembang pesat, maka prospek bisnis berbasis digital sangat luas. Sebab, nilai saham perusahaan e-commerce (perdagangan elektronik) jauh lebih besar dari perusahaan konvensional. “Jangan sekadar jadi penonton, harus jadi pemain. Apalagi beberapa negara luar sudah banyak masuk berinvestasi pada ekonomi berbasis digital,” ujarnya.

Narasumber lainnya, Abdur Rohim Boy Berawi, Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), menyatakan, saat ini, seringkali kompetensi di dunia kerja tidak sesuai dengan kurikulum dunia pendidikan. Sehingga, banyak sarjana yang tidak terserap di dunia kerja, dan bekerja tidak sesuai dengan titelnya.

“Misal, lulusan hukum jadi kontraktor, dan banyak lagi contoh lainnya. Belum lagi, jika bicara tentang lembaga lembaga pendidikan. Sekarang ini, kalau mau belajar fashion harus ke Pulau Jawa, atau mau belajar bidang lainnya masih banyak lembaga itu di Jawa. Makanya, inti dari ekonomi kreatif adalah kreativitas,” ujarnya.

Sementara itu, Budi Martha Utama dari Diskominfotik Provinsi Lampung mengatakan, pihaknya mempunyai kewenangan sentral, yaitu mendukung smart province dan smart city. “Namun sayangnya, saat ini jembatan antara Pemda Lampung dengan komunitas digital masih minim. Makanya, kami membuka jembatan itu agar lebih besar dan banyak. Sehingga, pemda bisa menjawab tugasnya dalam mendukung kebutuhan ekosistem digital,” kata Budi.(*)

Baca juga Krakatau Digital Movement Gelar Lampung Digital Creative

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Pertemuan Tahunan BI, Fahrizal Ajak Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Lampung 2020 

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sekretaris Provinsi (Sekprov) Lampung Fahrizal Darminto mengajak semua pihak meningkatkan pertumbuhan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *