OPINI ADMI SYARIF: Magang di Jepang, Siapa Takut (2)


PEKERJA di Jepang | ilustrasi/ist

Baca OPINI ADMI SYARIF: Magang di Jepang, Siapa Takut (1)

JEPANG yang dikenal sebagai negara industri dalam beberapa tahun terakhir memang menghadapi masalah terkait menurunnya jumlah angkatan kerja. Hal ini tidak terlepas dari menurunnya angka kelahiran di negara tersebut secara signifikan.

Penduduk Jepang saat ini banyak yang memilih tidak menikah atau tidak memiliki anak dengan pertimbangan mahalnya biaya hidup dan pendidikan. Karenanya, tidak heran melahirkan di negara ini sangat difasilitasi pemerintah.

Selain insentif, pemerintah juga memberikan bantuan makanan dan susu. Dengan tingkat harapan hidup yang tinggi, banyak penduduk Jepang berusia lanjut. Dengan kondisi yang demikian tentu saja industri dan usaha di Jepang sangat membutuhkan tenaga kerja dari negara lain.

Dengan banyaknya perusahaan dan industri, tidak mengherankan saat ini Jepang dijejali ribuan tenaga kerja asing. Ada berbagai kelompok pekerjaan yang diominasi kenkyusei. Pertama adalah tenaga perawat, baik untuk panti jompo maupun rumah sakit.

Kategori ini banyak didominasi tenaga kerja dari Filipina. Hal ini memang terkait kemampuan bahasa asing yang cukup baik dari tenaga kerja Filipina. Saya melihat masih sangat sedikit tenaga kerja kita bekerja untuk kategori ini.

Potensi Indonesia untuk mengirimkan tenaga kerja perawat ke Jepang saya pikir sangat terbuka lebar. Meskipun demikian, pemerintah harus bekerja lebih keras meningkatkan kemampuan teknis dan bahasa untuk perawat-perawat kita.

Kelompok pekerja magang kedua adalah pekerja sektor industri. Tenaga kerja sektor ini memang banyak dari Indonesia, Bangladesh, Pakistan, Brasil, dan Argentina. Ada ribuan kenkyusei bekerja di sektor Industri di Jepang.

Menurut saya, hal utama yang perlu dipersiapkan tenaga kerja Indonesia adalah kedisiplinan dan fisik. Hal ini tidak terlepas dari budaya disiplin dan kerja keras bangsa Jepang.

Jepang dikenal sebagai negara dengan biaya hidup tertinggi di Asia. Dengan gaji sekitar 120.000 Yen atau sekitar Rp 15 juta kenkyusei tetap harus hidup berhemat ala anak kos. Ini bisa dilakukan dengan pergi dan pulang kerja naik sepeda, membawa bento atau bontot dan masak sendiri.

Baca Magang ke Jepang Gaji Capai Rp11 Juta, Berikut Persyaratan Pendaftaran

Sayangnya banyak kenkyusei kita yang kurang cerdas dalam mengelola keuangan dengan sibuk membeli berbagai ponsel, peralatan elektronik dan pakaian. Padahal, kalau mampu berhemat, katakanlah bisa menabung separuh saja dari gaji, lalu dikali 36 bulan, seorang pemagang bisa membawa pulang ke Tanah Air uang hampir Rp300 juta!

Apalagi kalau mereka rajin bekerja lembur, maka uang yang didapat bisa lebih besar. Jumlahnya tentu sangat lumayan sebagai modal untuk memulai usaha nantinya setelah kembali ke Tanah Air.

Baca Tiga Tahun Magang di Jepang, Peserta akan Dapat Dana Usaha Rp71,6 Juta

Selain gaji dan bonus, bekerja di Jepang juga dapat memberikan pembelajaran kepada pemagang tentang spirit budaya bekerja keras (gambatte). Saya melihat, hal ini menjadi poin penting yang dapat memgubah cara berpikir, semangat, dan budaya kerja kenkyusei untuk nantinya sukses berusaha sekembalinya ke Indonesia.

Kesempatan berkeja di Jepang juga memberikan peluang untuk mengunjungi berbagai tempat terkenal di sana misalnya Tokyo, Gunung n Fujiyama, Akihabara dan lain-lain secara gratis. Anggap saja bekerja sambil berwisata gratis. Bahasa Lampungnya, “sai lapah wo keno.” (bersambung)

Dr Eng Admi Syarif | Dosen Fakultas MIPA Universitas Lampung


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top