Frieda Amran, Penulis Sejarah Lampung dari Bahasa Belanda (2-habis)


Frieda Amran | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Penulis sejarah Lampung Frieda Amran menguasai Bahasa Belanda Kuno. Hal itulah yang menjadi poin lebih darinya. Ia ke Belanda untuk menjalani kuliah program magister (S-2). Tujuannya, agar bisa mengolah data-data berbahasa Belanda untuk kepentingan ilmu sosial, atau antropolgi.

Jadi, Frieda memang dilatih untuk mempelajari Bahasa Belanda kuno. “Seandainya saya masih dalam antropologi sesuai jalurnya, harusnya saya kembali ke Indonesia, dan mengajar di Universitas Indonesia (UI),” kata Frieda usai acara peluncuran bukunya “Meniti Jejak Tumbai di Lampung: Zollinger, Kohler, dan PJ Veth-Lampung Tumbai 2015” di Pusat Dokumentasi Lampung (PDL), Bandar Lampung, beberapa waktu lalu.

Baca Frieda Amran Luncurkan Buku Meniti Jejak Tumbai di Lampung

Frieda mengatakan, ketika membaca berbagai tulisan Belanda kuno itu, mestinya ia menjadikan satu tulisan. Memasukkan interpretasi, lalu membuat suatu tulisan yang diolahnya sendiri. “Jadi, saya tak membuat sendiri suatu tulisan khusus. Misal, saya tidak menulis detail tentang adat perkawinan Lampung, saya tak lakukan itu. Saya hanya menuliskan dari cerita orang Belanda mengenai perkawinan Lampung. Selebihnya, penelitian itu harus dilakukan oleh orang Lampung sendiri,” ujarnya.

“Bukan saya tidak mau, tapi saya pikir lebih penting membuka akses untuk generasi muda Lampung dan peneliti-peneliti Lampung. Menurut saya, hal itu lebih baik ketimbang saya cari top dengan membuat buku-buku mengenai apa yang saya baca,” sambung Frieda.

Sejak 2010, kala menulis rubrik untuk Wartakota di Jakarta, Frieda pulang ke Indonesia satu kali dalam setahun. Biasanya, ia akan berkeliling sekitar 1-2 bulan. Selama berkeliling itu, Frieda menemui keluarga dan rekan-rekannya di Lampung dan Palembang. Terkadang, Frieda pulang sendiri, tanpa didampingi anak dan suami. Ia lebih suka berjalan sendiri ketika menjalankan kegiatannya, seperti berdiskusi dan lain-lain.

“Ini pekerjaan saya, menginspirasi orang, dan membuat orang bersemangat memikirkan jati diri kebudayaannya sendiri. Jadi, kalau anak dan suami saya ikut, pikiran saya jadi terpecah dan mengganggu konsentrasi. Jadi, saya berikan waktu khusus untuk keluarga terlebih dahulu, barulah saya fokus pada pekerjaan saya,” ucapnya.

Ibu empat anak itu berterus terang bahwa setelah banyak menyadur tulisan-tulisan tentang sejarah Lampung, dirinya menjadi benar-benar cinta pada Bumi Ruwa Jurai. Karena itu, Frieda terus menulis tentang sejarah Lampung. “Disamping itu, yang menyenangkan adalah anak-anak muda Lampung menjadi semakin aktif. Ada yang menceritakan minatnya terhadap tapis, purbakala, dan berbagai bidang sejarah lainnya di Lampung. Tugas saya, memotivasi mereka supaya mau menulis tentang itu,” kata Frieda.

Frieda akan tetap menulis dan menulis. Aa tak akan bosan menulis tentang sejarah, mengorek masa lalu. “Saya akan menulis sampai pikun. Saya akan tetap menulis sampai tak bisa menulis lagi, sampai otak saya tak bisa dipakai lagi,” ujarnya.(*)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Pindah Tugas, Mantan Sekda Lamsel Fredy Jadi Kepala Bappeda Lampung

KALIANDA, duajurai.co – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan (Lamsel) mengadakan acara pelepasan mantan Sekretaris Daerah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *