Frieda Amran, Penulis Sejarah Lampung dari Bahasa Belanda (1)


Frieda Amran | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Bagi sebagian orang membahas sejarah sangat membosankan. Tapi, bagi sebagian lainnya, mengorek sejarah menjadi sebuah kebutuhan, hal yang membuat ketagihan, hingga merasa hidup di dalamnya.

Adalah Frieda Agnani Amran, atau yang akrab disapa Frieda Amran. Ia merupakan penulis kelahiran Palembang, 21 Agustus 1959. Frieda belajar Antropologi di Universitas Indonesia dan Rijksuniversiteit Leiden negeri Belanda. Ia putri Prof Dr Amran Halim, seorang tokoh pendidikan dan tokoh budaya, guru besar Bahasa Indonesia yang pernah menjabat Rektor Universitas Sriwijaya.

Ketika menyebut nama Frieda, maka akan identik dengan berbagai tulisan mengenai sejarah Lampung yang disadur dari bahasa Belanda. Sejak Januari 2014, ibu empat anak yang menetap di Belanda itu mengasuh rubrik Lampung Tumbai yang terbit setiap Minggu di Lampung Post. Belakangan, beralih ke Lappung Beni yang dimuat Fajar Sumatera.

Selain menulis untuk media cetak di Lampung, ia terlebih dahulu menjadi penulis tetap untuk rubrik “Wisata Kota Toea” untuk harian Warta Kota sejak 2010. Kemudian, Frieda juga menulis untuk salah satu media di Palembang, yakni Beritapagi dengan rubrik “Palembang Tempo Doeloe”.

“Sriwijaya itu mencakup empat daerah, yakni Palembang, Lampung, Jambi dan Bengkulu. Akan tetapi, para arkeolog ada yang meneliti tentang Palembang, Jambi, Bengkulu, Lampung, namun tak ada yang menyatukan. Termasuk orang-orang sejarah juga begitu. Tidak ada satu orangpun yang berusaha membaca tentang empat daerah ini,” kata Frieda kepada duajurai.co, beberapa waktu lalu.

Kemudian, Frieda berpikir untuk melakukan itu. Membuat sebuah tulisan yang bisa mengangkat sejarah keempat daerah itu, tak hanya Palembang. “Sebetulnya, terlalu optimis kalau saya sendiri berpikir bahwa bisa lakukan itu. Mungkin tidak bisa. Tapi, saya bisa berusaha. Makanya, ketika saya dapat kesempatan untuk mengolah dan membuka akses tentang Palembang, maka saya lakukan itu,” ujarnya.

Kala itu, Arman AZ, seorang penulis sejarah di Lampung, menghubungi dirinya. Arman mengatakan, perlu ada dokumentasi sejarah Lampung yang masih dalam bahasa belanda. Sehingga, Arman meminta tolong Frieda untuk terjemahkan. “Saya katakan kepada Arman, saya tak mau menerjemahkan secara pribadi. Tetapi, kalau kau mencarikan aku koran yang bersedia memberikan rubrik satu kali seminggu, maka aku tulis,” ucap Frieda.

Akhirnya, Arman AZ menghubungi Udo Z Karzi yang saat itu masih bekerja di Lampung Post. Gayung bersambut, Udo menyetujui untuk menghadirkan rubrik khusus di media cetak tertua di Lampung itu. Akhirnya, lahirlah rubrik “Lampung Tumbai” di Lampung Pos, dan kini “Lappung Beni” di Fajar Sumatera. “Insya Allah, Desember mendatang mulai juga menulis di media Jambi dengan judul rubrik jejak,” ujarnya.

Frieda menyadur berbagai tulisan berbahasa Belanda dari abad 18-20. Dahulu, data-data itu hanya ada di perpustakaan di Leiden. Tapi, sekarang data-data tersebut bisa diperoleh secara online. “Saya tak boleh menginterpretasikan sendiri. Jadi, tulisan-tulisan itu saya baca, lalu saya sadur. Kalau diterjemahkan kata per kata dalam bahasa Indonesia mungkin akan sangat membosankan dibaca, maka saya potong kalimatnya menjadi jauh lebih pendek,” kata Frieda.(bersambung)

Baca juga Frieda Amran Luncurkan Buku Meniti Jejak Tumbai di Lampung

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Tangani Covid-19, Nanang Minta Dinas Kesehatan Lamsel Fokus 3 Kecamatan

KALIANDA, duajurai.co – Bupati Nanang Ermanto meminta Dinas Kesehatan Lampung Selatan untuk berkonsentrasi di tiga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *