Kisah Sastrawan Lampung AM Zulqarnain yang Tidak Ingin Dikenal Redaktur


SASTRAWAN Asaroeddin Malik Zulqarnain | FB

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Asaroeddin Malik (AM) Zulqarnain, sastrawan senior Lampung, meninggal dunia, Selasa, 17/10/2017 pukul 18.05 WIB. Ia wafat dalam usia 61 tahun pada Selasa, 17/10/2017 pukul 18.05 WIB.

Salah satu pendiri Dewan Kesenian Lampung (DKL) ini akan dikebumikan di TPU Sukamaju, Telukbetung Barat, Bandar Lampung, Rabu, 18/10/2017. Jenazah diberangkatkan dari rumah duka di Jalan RE Martadinata, Sukamaju, Telukbetung Barat, lepas zuhur.

“Sastrawan yang juga dikenal dengan nama Amzuch ini merupakan cerpenis produktif pada zamannya,’ ujar Hari Jayaningrat, koreografer yang juga Kasi Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung dalam siaran pers yang diterima duajurai.co.

Baca Kabar Duka, Sastrawan Lampung AM Zulqarnain Wafat

Kecintaan cucu pejuang Lampung Wan Abdurrahman kepada dunia sastra bermula saat dia duduk di bangku SMP. Kala itu ia mulai membaca karya-karya sastrawan terkenal seperti Chairil Anwar, WS Rendra, Iwan Simatupang, dan Asmaraman Kho Ping Hoo. Pada masa itu pula Zulqarnain mulai berhasrat menjadi seorang penulis.

Ketika bersekolah di SMA Negeri Telukbetung, hasrat menulisnya tersalurkan antara lain lewat majalah dinding sekolah. Karena sifatnya yang introvert, Zulqarnain tak menggunakan nama asli tetapi menggunakan nama samaran.

Ini terbawa sampai ia menulis di media massa umum. sastrawan kelahiran Jakarta, 15 November 1956 ini menggunakan nama pena antara lain AM Zulqornain Ch, Asroeddin MZ, dan Amzuch yang merupakan siingkatan namanya.

Pada awalnya, Zulqarnain menulis puisi hingga kemudian lebih intens menggeluti cerpen. Ratusan karya cerpen terlahir dari tangannya. Selain terserak dalam berbagai buku antologi bersama, cerpen terpilihnya terkumpul dalam buku bertajuk Semanda yang diterbitkan Jung Foundation, Bandar Lampung

Belajar menulis secara otodidak, cerpen bertajuk “Nomor 289 untuk 5 Menit” merupakan karya pertamanya yang dimuat di harian Pelita pada 20 Oktober 1978. Karya Zulqarnain berupa cerita pendek, cerita anak, puisi, artikel budaya, resensi puisi, esai, dan berbagai berita tersebar di banyak media massa Lampung dan luar Lampung.

Bersama seniman Lampung lainnya, ia membidani lahirnya DKL pada 17 September 1993 dan menjadi bendahara pertama DKL. Meskipun sudah menciptakan ratusan cerpen dan puluhan puisi dan sudah dipublikasikan, Zulqarnain memilih tidak dikenal oleh redaktur media mana pun.

“Penulis bukanlah sesuatu yang istimewa, karena yang dibutuhkan masyarakat karyanya, bukan orangnya,” ujarnya suatu kali.

Pada 1985, bersama penyair Isbedy Stiawan ZS dan Riswanto Umar, ia mendirikan Sanggar Cakrawala Ide Anak Muda (CIA) yang merupakan wadah sastra dan teater di Bandar Lampung. Bersama Achmad Rich, Syaiful Irba Tanpaka, dan Isbedy Stiawan ZS, pada 1984 ia melahirkan antologi puisi berjudul Nyanyian Tanah Putih untuk membangkitkan semangat para sastrawan muda.

Zulqarnain memiliki prinsip seperti sastrawan Cahiril Anwar. “Saya bukan siapa-siapa, tidak ada apa-apanya dan tak pernah jadi apa pun. Saya hanya ingin jadi diri sendiri yang memang hidup hanya untuk menunda kekalahan. Namun sebelum kalah, saya harus menikmatinya penuh rasa syukur,” ujarnya.(*)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top