Bertemu Mahasiswa Papua di Lampung, Menteri Yohana: Saya Merasa Pulang Kampung


MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise (baju merah pakai kacamata) tiba-tiba ikut bernyanyi dengan paduan suara mahasiswa Unila asal Papua di Ruang Pusiban Balai Keratun, kompleks Pemprov Lampung, Selasa, 17/10/2017. Yohana merasa pulang kampung saat bertemu mahasiswa asal Papua. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Yohana Yembise mengaku bahagia dan terharu ketika bertemu dengan puluhan mahasiswa Universitas Lampung (Unila) asal Papua. Yohana memang memberikan waktu untuk acara khusus bersama para mahasiswa asal papua tersebut di Ruang Pusiban Balai Keratun, kompleks Pemprov Lampung, Selasa, 17/10/2017.

Puluhan mahasiswa asal Papua itu tampak berbaris membentuk paduan suara. Mereka menyanyikan dua lagu berbahasa Papua. Lagu tersebut menceritakan kecintaan mereka terhadap tanah Papua, terhadap Indonesia. Ketika mereka sedang bernyanyi, tiba-tiba Yohana beranjak dari tempat duduknya. Dia bergabung dengan rombongan paduan suara dan ikut bernyanyi. Yohana terlihat didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Lampung Aprilani Yustin Ficardo dan Sekretaris Provinsi (Sekprov) Lampung Sutono.

Usai bernyanyi, Yohana mengatakan bahwa lagu yang dibawakan tadi kebetulan berbahasa Biak. Sebab, di Papua terdapat berbagai bahasa yang belum tentu bisa dipahami warga Papua lainnya. Yohana berasal dari Biak. “Saya terharu bisa bertemu mahasiswa asal Papua di Lampung. Saya merasa pulang kampung. Sebab, saya niatkan mau pulang ke Papua, tapi belum sempat,” kata dia.

Pada kesempatan tersebut, Yohana memotivasi mahasiswa asal Papua agar terus berjuang dan menuntut ilmu di Lampung. Dia berharap, mereka jangan sampai putus kuliah. Yohana juga mengharapkan mereka bisa membantu penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak di Papua. “Saya sudah buka pintu bahwa perempuan Papua bisa. Saya harap, anak-anak dari Papua bisa menjadi orang orang-orang hebat,” ujarnya.

Yohana menambahkan, angka kekerasan dalam rumah tangga di Papua menempati urutan pertama di Indonesia. Dia menilai, penyebabnya kemungkinan karena budaya patriarki yang masih sangat tinggi. Sebab, mayoritas pria merasa sudah bayar mahal ketika hendak menikah. Selain itu, masih banyak pria mengonsumsi minuman keras.

“Maka ibu harap kalian hapuskan mata rantai itu. Sebab, dampaknya terhadap anak-anak. Sekarang banyak anak pengisab aibon dan AIDS di mana-mana. Kita rugi kalau perempuan-perempuan mati karena AIDS. Sebab, merekalah yang akan melanjutkan masa depan,” ucap Yohana.(*)

Baca juga Kunjungan Kerja, Menteri Yohana: 50 Tahun Lalu Saya Pernah Petik Lada di Lampung

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Tangani Covid-19, Nanang Minta Dinas Kesehatan Lamsel Fokus 3 Kecamatan

KALIANDA, duajurai.co – Bupati Nanang Ermanto meminta Dinas Kesehatan Lampung Selatan untuk berkonsentrasi di tiga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *