18 TAHUN UBL BERDARAH: Ketika Air Mata Kami Menjadi Batu


RANGKAIAN foto yang dibidik wartawan Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung Saidatul Fitriah saat bentrokan di depan kampus UBL, Jalan ZA Pagaralam, 28 September 1999. Saidatul kemudian menjadi korban dalam bentrok tersebut dan meninggal dunia pada 3 Oktober 1999 | Teknokra Unila

Untuk kalian yang mati muda, Ijal dan Atul

Jangan pedulikan cinta / usah hiraukan sayang / sebab rembulan telah tumbang / dalam bayang malam (Rembulan Telah Tumbang, Saidatul Fitriah)

BUNG, entah sampai kapan kami harus menanti. Telah uzur kami menunggui tetes kebenaran itu. Ya, hanya setetes yang sesungguhnya kami inginkan–meski hanya setetes, kami berharap suatu saat ia akan mengalir ke ceruk-ceruk, terus ke lubuk, sampai akhirnya bermuara dan berkumpul dengan tetes-tetes lainnya di telaga kebenaran hakiki.

Namun pengharapan akan setetes kebenaran, memang bukan persoalan meneteskan telur di pagi buta. Ia adalah rangkaian penantian demi penantian, ketika rangkaian episode demi episode konspirasi haram pecah ketuban satu demi satu dalam rahim sang durjana, lalu mbrojol ke pangkuan supremasi kebohongan.

Kebenaran hanyalah ilusi belaka, manakala kepalsuan dan kemunafikan telah bersenyawa dengan nurani yang beku. Padahal, nurani yang telah beku takkan lagi menyisakan satu ceruk pun untuk disinggahi aliran kebenaran meski hanya satu tetes.

Karena itu lah, kadangkala sebuah kebenaran kerap menjelma oase yang diperebutkan banyak fakir di gurun kehidupan yang maha penuh tipu daya.

Bung, kebenaran bukanlah nilai yang harus dipaksakan. Ya, kami tahu, kalian memang telah terbiasa menciptakan kebenaran-kebenaran prematur yang terlahir sunsang. Padahal, Bung, mana ada kebenaran yang sunsang? Kebenaran hakiki meninggalkan rahim nurani secara wajar. Ikhlas menjumpai wajah-wajah semringah yang begitu rindu akan kehadirannya.

Kebenaran hakiki pun tak butuh kuda troya untuk melumat monarki kebatilan. Untuk apa? Bukankan ia adalah kebenaran yang dilegitimasi langsung oleh Sang Penguasa Kehidupan dan Kematian!

Di sana, di jalan-jalan kota, sekelompok anak muda berteriak, “Reformasi! Reformasi!”

Kalian berapologi, “Siapa bilang kami tidak reformis!”

Ini bukan soal reformasi saja, Bung. Lalu, titik. Reformasi tidak mengenal kata titik. Ini permufakatan yang harus kita terima. Ini takdir yang tak mampu kita elakkan. Kenapa? Karena, kalian telah mengacaukan skenario atas takdir sebelumnya, yang seharusnya tidak menyisakan gelembung ratap kedukaan.

Bung, tolong kalian tengok dua pusara di sana. Mereka begitu muda untuk mengakhiri pengembaraan dalam indahnya dunia. Padahal, kami masih teramat menikmati kebersamaan ini.

Memang benar, Bung. Kematian adalah kekuasaan tanpa batas milik Sang Pemilik Sejati, yang tak layak kita patut-patutkan dan pantas-pantaskan. Tapi Bung, bukankah setiap orang berhak menginginkan lagu kematian yang paling syahdu sekalipun?

Kini, kami persilakan kalian jilati air mata kami yang membasah, belai nafas-nafas kami yang terengah, dan ciumi wajah-wajah kami yang tercekat: menatap derita mereka saat meregang nyawa!

Jalinan cinta kami telah tergadai di ujung lars kekejamanmu. Maka, jangan salahkan kami jika kekejamanmu pula yang menyemaikan aroma kebencian di antara kita.

APARAT berjaga di depan kampus UBL saat bentrokan pada 28 September 1999 | Saidatul Fitriah

Di sudut lain, sekelompok mahasiswa lainnya berteriak, “Cabut dwifungsi! Cabut dwifungsi!”

Kalian jawab, “Tenang, tenang, sedang kami kaji!”

Ini juga bukan semata persoalan dwifungsi, Bung. Apalah artinya dwifungsi tercerabut, manakala nyawa-nyawa terus terceraikan dari jasadnya di ujung peluru-peluru para serdadu!

Dan, sayang seribu kali sayang, teriakan-teriakan itu kalian jawab hanya dengan apologi-apologi seribu tiga. Ketahuilah, Bung: dalil-dalil mentah kalian itu adalah jelaga yang akan menghitamkan wajah kalian, hitam, sehitam-hitamnya! Sehingga kemudian kami tak mampu lagi mengenali wajah manusia kalian. Karenanya, wajar jika nanti kita berjumpa, maka kami akan bertanya: Apakah kalian manusia?

Bung, pesanggrahan Indonesia baru yang katanya hendak kita bangun, tak pernah kujumpai hingga kini. Apakah ini hanya bualan-bualan kosong yang kalian jejal-jejalkan ke mulut-mulut kami yang ternganga karena lapar akan kebebasan; karena kami telah teramat bosan dipasung belenggu-belenggu yang telah kalian tautkan tanpa ujung?

Bung, sekali lagi, jangan tulis reformasi di buku kami; sementara jelas masih tertatap, jasad-jasad tanpa ruh terbujur kaku menghampar di atas altar reformasi yang kian tak jelas juntrungannya ini.

Reformasi bukan dongeng sebelum tidur, Bung. Kami bukan anak kecil yang baru bisa terlelap setelah mendengar dongeng-dongeng kalian yang tidak lucu sama sekali itu!

Bung, kami ini mahasiswa. Modal kami hanya semangat dan idealisme. Kami cuma butuh kejujuran kalian.

Ingat, Bung, di sana ada dua pusara, saksi kekejaman anak manusia. Kami, cuma mengingatkan: tatkala waktu tak mampu lagi menahan kesabarannya untuk sebentar saja menanti kepongahan bereinkarnasi dalam tawadlu, maka waktu pula yang akan menjadi saksi metamorfosa kelembutan menjadi sebuah kekejian dan kebencian yang membuncah.

Sungguh, kami telah mencoba mengalah, bersabar dalam penantian. Namun, harus sampai titik mana kesabaran ini dituntaskan.

Bung, kami tak butuh janjimu! Karena, air mata kami telah menjadi batu…..(*)

  • Gedongmeneng, Januari 2000
  • Pernah dipublikasikan di Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung
  • Juwendra Asdiansyah | Pemimpin Umum SKM Teknokra Universitas Lampung 1998-1999 | Kini wartawan duajurai.co

 

 

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top