18 TAHUN UBL BERDARAH: Kesaksian Atas Dua Nyawa


SAIDATUL Fitriah terbaring koma dalam perawatan di RS Advent Bandar Lampung, 30 September 1999 | Teknokra Unila

28 September 1999. 15.10 WIB.

Kak, Atul harus dioperasi!” suara Yanti menyambutku setiba di koridor lantai bawah Rumah Sakit Advent. “Sekarang!” susulnya. Suaranya terdengar parau. Matanya merah. Entah menahan tangis, entah usai menangis. Jilbab hitam besar yang menutupi tubuh kecinya, tampak kusut di ujungnya yang meruncing.

Aku terhenyak. Apakah separah ini. Bukankah satu jam lalu, Atul masih bisa bicara. Bahkan masih duduk. Sejam lalu, aku memang putuskan pergi ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUAM) untuk memastikan adakah awak Teknokra lainnya yang ikut jadi korban.

Tertembaknya Reno dan cederanya Atul, bagiku, sudah cukup banyak. Jangan ada korban lagi. Syukurlah, manifest korban di rumah sakit pemerintah itu tak satu pun menulis nama awak Teknokra di sana.

Namun sejatinya ruang UGD kala itu adalah etalase sisa tragedi siang tadi. Puluhan korban luka, berat-ringan, sebagian masih tergolek di blankar-blankar hitam. Erang perih, raung kesakitan, menyayat hampir di setiap sudut. Darah di mana-mana. Ruang ini laiknya gedung opera dengan orkestra kematian.

Di ruang ujung kanan koridor, suasana hening. Kontras dengan suasana ruang utama. Seorang pria paruh baya, duduk di bangku bulat kecil dekat pintu. Rambutnya telah memutih oleh uban. Tubuhnya yang tinggi besar kadang membungkuk. Matanya menerawang. Sesekali meredup. Menyapu satu-satu orang yang datang, lalu menyalaminya. Ada perih yang berusaha disembunyikannya. Tapi dia tak mampu.

Di depannya, sebuah ranjang tengah berkisah. Di kolong, darah menggenang pada dua titik besar. Sesekali masih ditimpa tetes yang jatuh pelan dari sesosok tubuh yang diam di atas.

Muhammad Yusuf Rizal, sosok di atas ranjang itu, akan terus diam. Sebuah lubang seukuran spidol Snowman, menganga di dada kanannya, tembus hingga punggung kiri.

“Sabar ya, Pak! Saya ikut berduka. Anak Bapak pahlawan bagi kami!” Aku coba berempati.

Pria paruh baya itu hanya tersenyum kecil. Kecut. Mungkin aku orang kesekian puluh yang ucapkan hal itu kepadanya. Ucapan-ucapan yang sungguh tidak mengubah apa pun. Ucapan yang sama sekali tak kuasa kembalikan sehelai nyawa anaknya yang lepas siang tadi.

“Kak, kita harus sediakan uang tiga juta, baru Atul bisa dioperasi!” suara Yanti kembali menghenyakku dari lamunan.

***

SEJUMLAH aktivis SKM Teknokra Unila menggotong keranda Saidatul Fitriah menuju pemakaman umum Gadingrejo, Pringsewu, 3 Oktober 1999 | Teknokra Unila

Angin malam menari-nari di kawasan VIP RSUDAM. Dinginnya menusuk kulit. Tadi sore, Atul dipindahkan ke sini. Operasi di kepalanya empat hari lalu, bagai hanya menyisakan nafas sebagai penanda dia masih hidup. Kesadarannya melanglang entah kemana.

Balutan perban di kepala yang digunduli, enam selang di sekujur tubuh, serta satu pipa yang menembus lehernya, laksana tali-temali yang menjerat dan memaksanya diam.

Dalam gundah yang belum jua usai, cuplikan-cuplikan fragmen empat hari lewat, tiba-tiba kembali berkejaran, melintas dalam imaji. Teringat ketika kuperintahkan para reporter meliput aksi demonstrasi dan bentrokan di muka Koramil Kedaton.

“Saya ikut!” sergah Atul kala itu. Gegas disambarnya kamera Nikon dari loker redaksi. Padahal ia bukan termasuk yang disuruh berangkat.

Terbayang ketika aku menyusul ke lokasi, lalu berlari, hindari berondongan suara tembakan, batu, juga gas air mata dari arah ratusan manusia yang oleh para demonstran disebut anjing-anjing pemerintah. Teringat raungan sirene ambulans yang terus membawa korban ke ruang UGD Advent yang riuh laksana pasar malam.

“Saya memang sudah diincar, Kak!” kata Atul pelan kepadaku saat dokter Ronald Lisal, kepala rumah sakit baru usai menjahit luka di kening kirinya.

Ia merintih. Lalu menangis. Jilbabnya entah ke mana. Aku genggam tangannya. Erat. Coba beri sugesti dalam mata yang memerih karena terpaan gas air mata yang melekat di sekujur tubuh dara Gadingrejo ini.

Aku teringat, memaki dua polisi militer yang mendata para korban di Advent. “Ini peluru apa, Pak? Tajam atau karet?” cecarku sambil menunjuk dua benda hitam sebesar ujung jari di atas cawan. Dua benda itu baru saja dikeluarkan dari perut Reno.

Wah, kami tak bisa memastikan, Mas. Perlu uji balistik!” ujar salah satu PM itu dengan suara datar.

Lalu meletuslah murka itu. “Kenapa kawan-kawan saya kalian tembak!” Aku meradang. Nafasku memburu. “Mereka ini mahasiswa. Mereka tidak bersenjata!”

Orang-orang memperhatikanku. Aku tak peduli. Aku tahu, bukan dua tentara ini yang punya ulah siang tadi. Tapi, sungguh mereka sedang sial. Mereka datang kala aku butuh manusia untuk tumpahkan buncahan kemarahan atas polisi, atas tentara yang tak punya nurani.

3 Oktober 1999. 03.40 WIB.

“Saya ikhlaskan kepergian anak saya!” Suara Sucipto terdengar tegar. Tak sebutir pun air mata mengalir dari matanya. Memerah pun tidak. “Yang penting, saya ingin adik-adik melanjutkan perjuangannya. Saya tak ingin kematian anak saya menjadi sia-sia!”

Dadaku laksana ditindih batu. Sesak. Kenapa lelaki ini demikian tegar. Bahkan aku, juga teman-teman yang menunggui sejak semalam, yang sama sekali tak ada hubungan darah pun, sudah berurai tangis sejak tadi. Sejak sepuluh menit lalu, ketika dokter mengibas-ngibaskan kedua tangannya di bawah pinggang. Sebuah isyarat. Sebagaimana Muhammad Yusuf Rizal lima hari lalu, Saidatul Fitria, dia yang dua tahun lalu saya beri panggilan Atul, telah menyerah atas el maut yang datang dan tak pernah menunda tugasnya.***

Meruya, Januari 2004

Juwendra Asdiansyah | Pemimpin Umum Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung 1998-1999 | wartawan duajurai.co

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top