Terbentur Dana, Pengajuan Mr Gele Harun Jadi Pahlawan Nasional Mandek


Pahlawan Daerah Lampung Mr Gele Harun Nasution | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pengajuan gelar Pahlawan nasional Mr Gele Harun Nasution masih terbentur dengan persoalan anggaran. Karena itu, prosesnya mandek lantaran tak memiliki biaya untuk napak tilas perjuangan Gele Harun di Lampung.

“Sepertinya, tahun ini saya belum bisa janjikan. Sebab, prosesnya kan sangat panjang. Masih ada yang perlu dilengkapi. Tahun ini, tidak ada anggarannya. Begitu juga pada 2018, masih pesimis. Bila melihat kondisi keuangan daerah saat ini, sepertinya belum tentu bisa dianggarkan. Makanya, kami masih akan mempertimbangkan,” kata Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Lampung Sumarju Saeni kepada duajurai.co, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, setelah ada kajian dari Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD), masih ada kajian-kajian lain yang mesti dilengkapi. Itu membutuhkan biaya tak sedikit. “Penelusuran, atau napak tilas ke daerah perjuangan Pak Gele Harun, itu perlu dana besar,” ujarnya.

Mr Gele Harun dianugerahi gelar Pahlawan Daerah Lampung pada 10 November 2015. Namun, untuk menjadi pahlawan nasional terdapat beberapa syarat yang mesti dipenuhi. Syarat tersebut, antara lain rekomendasi gubernur Lampung, hasil sidang TP2GD, riwayat hidup calon pahlawan nasional, dan biografi calon pahlawan nasional. Kemudian, seminar usul pahlawan nasional, berbagai dokumen pendukung, serta buku-buku pendukung bagi calon pahlawan nasional.

Mr Gele Harun Nasution adalah acting resident semasa Pemerintahan Darurat Keresidenan Lampung di Way Tenong, Lampung Barat, pada 1949. Dia definitif menjadi Residen Lampung semasa kepemimpinan Presiden Sukarno pada 1950-1955. Selain Pahlawan Lampung, pria berdarah Batak itu juga diusulkan sebagai Pahlawan Nasional oleh KH Arief Makhya, sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) Lampung. Pengusulan itu pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012.(*)

Baca juga Kisah Baju Karung Gele Harun, Saksi Bisu Perjuangan Lawan Penjajah di Lampung (1)

Laporan Imelda Astari


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top