Marak Alih Fungsi Lahan, Daerah Resapan Air di Lampung Sudah Rusak


KOORDINATOR Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Bambang Pujiatmoko, Kafe Juwe, Radio Andalas 102,7 FM, Kamis pagi, 21/9/2107 | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Berbicara krisis air, aktivis senior lingkungan hidup Bambang Pujiatmoko mengungkapkan penyebabnya. Menurutnya, tahun 2003 lalu, Uni Eropa mengadakan penelitian di Lampung. Hasilnya mengejutkan. Ternyata, daerah resapan air di Lampung sudah rusak.

“Kondisinya, debit minimal dan debit maksimal air sangat jauh perbedaannya. Padahal, normalnya harus stabil. Atau tipis saja perbedaannya,” kata Bambang, di Talkshow Kafe Juwe, Radio Andalas 102,7 FM, Kamis, 21/9/2017.

Padahal, Lampung memiliki anugerah alam yang luar biasa. Diantaranya, pantai, bukit, sungai besar, dan gunung. Sayangnya, hal tersebut  tidak dimanfaatkan dengan baik. Akibatnya, Bandar Lampung akan sangat cepat mengalami kekeringan, atau kebanjiran.

Bambang menambahkan, saat ini banyak sekali alih fungsi lahan yang tidak memperhatikan keseimbangan alam. Misalnya, lahan hutan yang banyak menjadi perkebunan sawit. Atau di perkotaan menjadi lahan perumahan, dan bangunan-bangunan lainnya.

“Betul memang pembangunan itu harus ada, tapi bagaimana kita menyikapinya. Rumah dan bangunan boleh dibangun, tapi pekarangan jangan dibeton semua. Dibuat sumur resapan misalnya, atau membuat area penyerapan air,” tambahnya.(*)

Laporan Imelda Astari

Baca juga Kafe Juwe Bicarakan Krisis Air, Bambang Pujiatmoko: Kita Abai Selama Ini


Komentar

Komentar

Check Also

Nanang Ermanto: Estimasi Anggaran Pendapatan Daerah Lamsel 2020 Rp 2,3 Triliun

KALIANDA, duajurai.co – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto menyampaikan nota keuangan Rancangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *