AIMI Lampung Gelar Bincang Edukasi Gizi Perempuan dan Anak


BINCANG Edukasi AIMI Lampung | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Jejaring Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Lampung antusias mengikuti bincang edukasi tentang gizi seimbang pada perempuan dan anak. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 9/9/2017  di kantor PKK Provinsi Lampung ini menjawab persoalan gizi buruk yang terjadi di Indonesia, khususnya Provinsi Lampung.

Dalam rilis yang diterima duajurai.co disebukan, bincang edukasi menghadirkan pembicara Ahmad Sofiyan Hadi, Koordinator Program Lembaga Advokasi Perempuan Damar dan Anggun Rusyantia, pengurus AIMI Cabang Lampung juga dosen Jurusan Gizi di Poltekkes Tanjung Karang.

Ahmad Sofiyan Hadi mengungkapkan persoalan gizi anak di Lampung mengacu kepada Riskesdas 2013 melebihi rata-rata nasional yakni 42, 46 persen dari rerata nasional 37.26%. “Kami melakukan survey di dua wilayah yakni Lampung Tengah dan Bandar Lampung. Hasil survei di Bandar Lampung menyebutkan, penyebab kekurangan gizi pada perempuan dan anak karena tidak adanya petugas gizi di puskesmas,” katanya.

Gizi buruk anak dipengaruhi dari ibu yang sejak remaja kekurangan zat besi, sehingga ketika hamil berdampak kepada perkembangan bayi yang kurang maksimal. “Dan siklus ini terjadi secara terus-menerus,” ujarnya lagi.

Sementara Anggun Rusyantia mengatakan, permasalahan malnutrisi di Indonesia mengakar pada kekurangan asupan energi, defisiensi mikronutrien serta sindrom stunting dan kelebihan gizi. Periode sejak kehamilan sampai usia 2 tahun disebut periode kritis bagi anak. Apabila tidak ada perbaikan dalam periode ini maka gagal tumbuh berlangsung permanen dan tumbuh kembang tidak dapat optimal di tahapan selanjutnya.

“Kekurangan zat besi pada 1.000 hari pertama kehidupan manusia akan berdampak kepada kekurangan jangka panjang dari fungsi sosio emosional, motorik, kognitif dan fungsi fisiologis lainnya pada tubuh seorang anak,” kata Anggun.

Di sisi lain, ASI tidak lagi dapat menyuplai kebutuhan zat besi setelah bayi berusia 6 bulan. “Intinya, kalau ingin anak cerdas maka cukupi zat besinya sebelum usia 2 tahun dan kejar kecukupan gizinya sampai usia 5 tahun untuk tumbuh tinggi anak,” tuturnya.

Pada bincang edukasi tersebut, AIMI Cabang Lampung dan Damar sepakat untuk mendorong Pemerintah Provinsi Lampung agar bersinergi mengatasi persoalan gizi buruk di Lampung dengan berbagai pihak.(*)


Komentar

Komentar

Check Also

Kurangi Plastik, HokBen Bandar Lampung Izinkan Konsumen Bawa Kotak Nasi

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Hoka Hoka Bento (HokBen) turut ambil bagian dalam kampanye pengurangan sampah dan plastik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *