Anshori Djausal: Pak Yuskas Penggagas Festival Krakatau dan Sepakbola Gajah


BUDAYAWAN Anshori Djausal di rumah duka almarhum Idrus Dajendar Muda,kawasan Pahoman, Bandar Lampung, Rabu, 6/9/2017 | imelda astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Wafatnya tokoh pariwisata yang juga mantan Sekretaris Provinsi Lampung Idrus Djaendar Muda meninggalkan duka dan kesan mendalam bagi banyak orang yang mengenalnya. Salah satu yang merasa sangat kehilangan adalah budayawan Anshori Djausal, sahabat karib almarhum.

Menurut Anshori, terlalu banyak kenangan yang membekas di hatinya tentang sosok yang akrab disapa Yuskas tersebut. “Kami berteman lebih dari 30 tahun. Beliau sosok yang menyenangkan. Kami sering berdiskusi dan berdialog. Saya banyak kenangan dengan beliau. Kami merintis banyak hal bersama,” kata Anshori saat ditemui duajurai.co di rumah duka, Jalan Way Pengubuan nomor 25, Pahoman, Bandar Lampung. Rabu sore, 6/9/2017.

Anshori mengatakan, Yuskas merupakan inisiator Festival Krakatau. Dia juga merintis pengembangan Taman Nasional Way Kambas. “Beliau inisiator Festival Krakatau. Itu sekitar era 90-an. Waktu itu ada lomba lintas alam Krakatau yang diikuti ribuan peserta dari berbagai daerah, termasuk banyak dari Jawa juga. Beliau saat itu menjabat Kepala Dinas Pariwisata. Ada juga festival layangan yang digagas oleh beliau,” terang mantan dosen Universitas Lampung ini.

Bersama Yuskas, Anshori juga berkarib dengan Bambang Irawan yang saat ini berusia 85 tahun. “Saya usianya paling muda di antara kami bertiga. Saya 65 tahun sekarang. Tapi walau beda usia, kami sering bersama, banyak rintisan yang kami lakukan bersama. Biasanya, Pak Yuskas dan Pak Bambang konseptor, dan mereka minta saya yang jalankan konsepnya,” jelas Anshori.

Salah satu yang dirumuskan tiga sekawan ini adalah menentukan Way Kambas dan Krakatau sebagai ikon pariwisata di Lampung. Kemudian, merintis sepakbola gajah di Way Kambas. “Sepak bola gajah itu juga konsep dari Pak Yuskas. Maka, saat pelaksanaan MTQ nasional tahun 1988 di Lampung, itu pertama kali sepakbola gajah diperkenalkan,” terusnya.

Yuskas juga yang membuat konsep Kalianda Resort atau Krakatoa Nirwana Resort di Kalianda, Lampung Selatan. “Menara Siger pun, saya bersama beliau dan Fachrizal (eks Kepala Bappeda Lampung) yang menentukan titik pembangunannya,” jelas pemilik Taman Kupu-Kupu Gita Persada ini.

Yuskas tutup usia di Rumah Sakit Graha Husada, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung, Rabu siang sekitar pukul 12.10 WIB. Mantan Kepala Dinas Pariwisata Lampung dan Ketua Komite Pariwisata Lampung.tersebut meninggal dunia dalam usia 74 tahun.

Menurut Aiti Prihati, putri bungusnya, sang ayah memang sudah lama menderita penyakit kencing manis dan darah tinggi. Akan tetapi, sebelum meninggal dunia, Yuskas tak sedang dalam kondisi sakit.

“Kalau meninggal ini tak ada sakitnya, hanya sesak nafas. Dibawa ke RS Graha Husada jam 4 subuh, dan mulai kritis jam 10 pagi. Hingga akhirnya habis zuhur meninggal dunia, sekitar jam 12.10,” jelasnya.

Almarhum Yuskas meninggalkan istri, Hajjah Rosita Rahmat serta tiga orang anak yakni Kolonel Farid Jaendar Muda, Fadi Jaendar Muda (Direktur Rahmat and Family), serta Aiti Prihati yang bekerja sebagai PNS di Dinas PU-PR Provinsi Lampung.”Ayah juga meninggalkan tujuh orang cucu,” tuturnya.

Selain birokrat, pria yang lahir pada 30 September 1943 tersebut semasa hidupnya dikenal luas sebagai tokoh pariwisata di Lampung.(*)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Nanang Ermanto: Estimasi Anggaran Pendapatan Daerah Lamsel 2020 Rp 2,3 Triliun

KALIANDA, duajurai.co – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lampung Selatan Nanang Ermanto menyampaikan nota keuangan Rancangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *