Pelayanan Pengurusan e-KTP di Bandar Lampung Bikin Kesal (1)


KARYAWAN di Gedung Pelayanan Satu Atap Pemkot Bandar Lampung sedang melayani warga yang mengurus pembuatan e-KTP dan dokumen kependudukan lainnya, Senin, 21/8/2017. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Mendapatkan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) bak mencari jarum ditumpukan jerami. Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Bandar Lampung, baru sekitar 28 ribu e-KTP yang sudah tercetak, dan masih lebih dari 30 ribu e-KTP masyarakat Kota Tapis Berseri yang belum tercetak. 

Tak hanya itu, pelayanan pengurusan e-KTP juga memancing kekesalan. Warga mesti melalui sejumlah birokrasi untuk memperoleh e-KTP. Setidaknya hal itu terungkap dalam reportase wartawan duajurai.co Imelda Astari. Berikut hasil reportasenya yang dimuat secara berseri.

Jumat siang, 18/8/2017, Gedung Pelayanan Satu Atap Pemkot Bandar Lampung tampak ramai warga. Saya datang bersama DA, seorang warga yang hendak mengajukan surat pengambilan e-KTP ke loket III. Selang beberapa menit, petugas memanggil nama DA, dan memberi arahan agar yang bersangkutan ke loket pengaduan di Kantor Disdukcapil.

“Tanyakan ke bagian pengaduan di gedung seberang itu,” kata si petugas seraya menunjuk Kantor Disdukcapil. Ia menyerahkan kembali surat pengambilan e-KTP berikut fotokopi Kartu Keluarga DA.

DA dan beberapa warga yang kebetulan juga diarahkan ke pengaduan kemudian menuju lokasi yang ditunjuk. Ada tulisan “Pengaduan” disertai tanda panah yang menunjuk ke arah samping gedung. Kami mengikuti arah panah, namun sempat celingak-celinguk karena tak tampak tanda-tanda loket pengaduan. Setelah bertanya kepada orang yang ada di sana, rupanya bagian pengaduan berada di dalam gedung di bagian belakang.

Kami memasuki bangunan dengan melewati semacam lorong (batas antar bangunan) dengan pencahayaan yang kurang baik. Sampailah kami di depan sebuah ruangan dengan pintu terbuka. Aroma pengap dan bau keringat menyeruak dari dalam ruangan itu.

Rupanya di situlah bagian pengaduan. Sekilas tampak seperti sebuah gudang penyimpanan berkas. Ya, tumpukan berkas tersusun di lemari, yang berbaris mengelilingi dinding ruangan. Terlihat deretan bangku yang diduduki warga. Dua buah meja pengaduan tersedia, namun tampak hanya satu yang beroperasi. Sedangkan yang satunya tertulis “istirahat”. Saya mengernyitkan dahi, segera membuka handphone untuk memastikan pukul berapa saat itu. jarum jam menunjukkan angka 14.35 WIB.

Meski ada tulisan istirahat, namun seorang petugas laki-laki yang mengenakan masker tetap duduk di belakang mejanya. Ia hanya menyaksikan antrean di meja pengaduan di sebelahnya. Tempat berdiri antrean diberi pembatas tali. Sempit sekali. Sebab, di sebelah kanan terdapat sebuah kotak besar. Karena tak ada petugas yang mengarahkan, kami langsung ambil tempat di bagian antrean.

Satu persatu warga yang antre dilayani oleh petugas wanita. Bagi yang berkasnya sudah diserahkan dan menyampaikan pengaduannya diminta menunggu. Tibalah giliran sepasang suami istri di depan saya. Mereka menyampaikan pengaduannya tentang pencetakan e-KTP yang tak kunjung selesai. Namun, si petugas mengarahkan pasangan itu ke loket sebelahnya, yang tertulis istirahat itu. Petugas bermasker langsung menyambut dan mendengarkan aduan pasangan suami istri tersebut. Hal serupa juga terjadi kepada rekan saya. Setelah antre hampir 15 menit, rekan saya diminta ke meja sebelah.

DA menyerahkan berkasnya, satu lembar KK dan surat pengambilan e-KTP. Si petugas lalu memeriksa sebentar, namun ada seorang warga lainnya tiba-tiba bertanya tentang e-KTP-nya. Si petugas langsung menanggapi pertanyaan itu, dan menerima berkas serta langsung memeriksanya. Sementara, berkas milik DA belum juga ditindaklanjuti. Belum selesai meladeni dua warga, ada lagi warga yang menembak pertanyaan, dan ia meladeni pula.

Setelah selesai meladeni dua warga tadi, ia kemudian mengarahkan agar rekan saya menunggu. “Berkasnya mau diperiksa dahulu. Tunggu saja,” ujarnya sembari menaruh berkas ke meja belakang. Di meja itu terdapat sebuah komputer serta tumpukan berkas.

Mendapat arahan untuk menunggu, kami langsung mengambil tempat di deretan kursi bersama warga lainnya. Udara pengap dan aroma tak sedap semakin terasa. Namun, demi e-KTP, kami tetap bertahan menunggu di dalam ruangan itu.(bersambung)

 


Komentar

Komentar

Check Also

Pakai Kunci Inggris, Pemuda Ini Pecahkan Kaca Gedung Satu Atap Pemkot Bandar Lampung

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Suasana di Gedung Pelayanan Satu Atap Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung tiba-tiba gempar, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *