Pascakerusuhan, Kondisi di PT PPA Mesuji Lampung Kini Kondusif


MES di kawasan H3 Bendungan PT Perusahaan Prima Alumga (PPA), Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, terbakar, kemarin. Rumah tempat bersama menjadi amukan massa dalam kerusuhan. | ist

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Kondisi di kawasan H3 Bendungan PT Perusahaan Prima Alumga (PPA), Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung, kini kondusif. Sebelumnya, terjadi kerusuhan antarwarga di kawasan tersebut.

“Saat ini kondisi sudah kondusif, aman, dan terkendali,” kata Kabid Humas Polda Lampung Komisaris Besar Sulistyaningsih saat dihubungi di Bandar Lampung, Rabu, 2/8/2017.

Dia mengatakan, pada Selasa petang, 1/8/2017, terjadi pembakaran oleh kelompok Sungai Cambai di kawasan tersebut. Peristiwa itu dipicu tindakan PT PPA yang menindahkan portal dari kanal Riuh Tangih, dimajukan sekitar satu kilometer. “Diduga kelompok Cuwit Sungai Cambai tidak bisa masuk ke areal sawit PT PPA, dan memantik keributan antara kelompok Cuwit Sungai Cambai dengan petugas pamswakarsa PT PPA,” ujarnya.

Peristiwa pembakaran berawal saat Ketua Pamswakarsa Warman bersama Gendi (50), Jendrik (30), Kapri (adik Gendi), Werta (kakak Warman) melaksanakan tugas pengamanan di Riuh Tangis, sekitar pukul 16.00 WIB. Kemudian, datanglah kelompok Cuwit Sungai Cambai menerobos portal yang dijaga Warman. “Sehingga, terjadi keributan menggunakan senjata rakitan, dan mengakibatkan korban luka dari kedua belah pihak, serta pembakaran sejumlah bangunan di lokasi,” kata dia.

Adapun korban dari pihak pamswakarsa, yakni Gendi mengalami luka dibagian dada, Jendrik luka di kaki. Keduanya langsung dibawa ke Rumah Sakit Mutiara Bunda Unit 2. Sedangkan korban dari kelompok Cuwit Sungai Cambai, yaitu Ecan (35), warga Sungai Cambai mengalami luka di perut. Dia dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek, Bandar Lampung. “Sementara, bangunan yg terbakar, yaitu Kantor H3 dan pos jaga, tempat parkir, satu unit truk, tiga unit traktor, roda dua anggota pamswakarsa sebanyak lima unit, dan mes 12 unit,” ujar Sulistyaningsih.(*)

Laporan Imelda Astari


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top