OPINI ANDI DESFIANDI: Saatnya Membangun Desa Wisata-Kreatif di Lampung (2-habis)


DESA wisata Wae Rebo, Manggarai Barat, Flores | Bobo – Grid.ID
Dr Andi Desfiandi | ist

BANYAK desa wisata/kreatif sukses dan berkembang yang bisa dijadikan contoh. Salah satunya Tembi Rumah Budaya, Bantul. Meski terletak di dekat jalan raya dengan lingkungan desa yang sudah modern tetapi Tembi adalah rumah yang nyaman bagi berbagai kegiatan seni dan budaya.

Desa ini laksana surga bagi para seniman beraktualisasi dan tempat bercengkerama para penyuka suasana unik ala desa. Tembi juga berkembang menjadi kampung seni yang mengembangkan homestay/penginapan ala desa yang laris. Restoran berarsitektur Jawa di Desa Timbulharjo ini juga banyak didatangi turis mancanegara untuk menikmati makanannya yang khas lokal.

Desa Panglipuran, Bali menjadi kondang karena menjaga keaslian tradisi kehidupan desa dan kebersihan lingkungannya yang luar biasa dan tak ada di tempat lain. Wae Rebo, kecamatan Satarlese, Kabupaten Manggarai Barat, Flores juga bisa menjadi contoh konsep desa wisata yang tak perlu banyak polesan.

Hanya karena pernah ‘nampang’ di sebuah kartu pos jepretan fotografer asal Jogjakarta pada 2008 lalu, Wae Rebo setelah itu dibanjiri wisatawan. Arsitektur rumah yang unik berfilosofi tinggi dipadu keunikan kehidupan warga desanya, bagaikan magnet bagi para wisatawan.

Saban hari wisatawan hilir mudik di Wae Rebo. Padahal desa ini jauh dari kota dan untuk mencapainya bukan perkara mudah. Para penacong bahkan rela mendaki bukit demi melihat kehidupan warga kampung ini yang unik dan lestari.

Masih banyak contoh desa wisata/kreatif lainnya yang bisa menjadi referensi. Namun selain syarat-syarat yang sudah disampaikan di atas, untuk menciptakan desa wisata syarat yang tak kalah penting adalah terus berinovasi dan berkreasi agar keunikan yang dimiliki terus bertambah nilainya.

Yang juga harus diperhatikan adalah tetap menjaga kearifan lokal agar budaya luar tidak menggerus budaya lokal. Pariwisata adalah industri jasa yang sangat dipengaruhi oleh need dari para wisatawan. Karena ingin mendapatkan uang sebanyaknya, seringkali kearifan lokal malah dilacurkan.

Tetap jaga kearifan lokal walaupun terkadang budaya, makanan, atau karya-khazanah seni yang ditawarkan harus diinovasi sedemikian rupa agar diminati wisatawan. Selamat datang konsep desa wisata/desa kreatif di Lampung. Apakah kita siap? Ayo mulai dari sekarang sebelum ketinggalan dengan daerah lain.(*/habis)

Dr Andi Desfiandi SE MA | Ketua Yayasan Alfian Husin | Mantan Rektor IBI Darmajaya


Komentar

Komentar

Check Also

OPINI ANDI DESFIANDI: Skandal Garuda, Momentum Bersih-Bersih BUMN

DR ANDI DESFIANDI SE MA | Ketua Bidang Ekonomi DPP Bravo Lima SKANDAL Direksi Garuda …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *