PUASA SANG DUAFA: Kisah Warni Pedagang Jamu Keliling, Setahun Sisihkan Uang Demi Mudik ke Jawa


Warni, Pedagang Jamu Keliling di Bandar Lampung | Rudi Sabli / duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Pagi-pagi sekali, seorang wanita paruh baya sudah sibuk meracik umbi-umbian dan berbagai jenis rempah-rempah menjadi jamu. Namanya Warni Sumiyem (50), dia seorang pedagang jamu gendong keliling, Warga Jalan Dempo, Kampung Sawah, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung. Setelah dagangannya siap, Warni bergegas menggendong bakulnya dan pergi menjajakan minuman kesehatan buatannya itu.

Warni sudah berjualan jamu selama 35 tahun, yakni sejak umurnya masih menginjak 15 tahun. Jamu yang dijualnya adalah olahan turun menurun dari orang tua terdahulu, sehingga kualitas racikan serta bahan bakunya selalu dipertahankan. Warni menjadikan Terminal Induk Rajabasa sebagai rumah keduanya. Sebab di sanalah tempat Warni mengais rejeki setiap harinya.

“Selama 35 tahun saya berjualan jamu disini. Makanya sudah jadi rumah kedua saya, karena saya banyak menghabiskan rutinitas saya di tempat ini setiap harinya,” Kata Warni saat ditemui duajurai.co di Terminal Induk Rajabasa Minggu sore, 18/6/2017.

Penghasilan ibu tiga anak itu dalam sehari berkisar Rp45 ribu hingga Rp60 ribu. Pengahasilannya itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ditabung untuk membayar rumah kontrakan. “Bayar kontrakannya setahun Rp3 juta. jadi saya harus menabung sedikit demi sedikit,” ujar Warni sembari menuangkan jamu ke gelas.

Sementara suami Warni, saat ini menetap di Pulau Jawa, bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu. Sehingga warni dan sang suami harus berpikir ekstra untuk mencukupi segala kebutuhan keluarganya.

“Saya dan suami harus bergotong-royong untuk mencukupi kebutuhan keluarga, karena ketiga anak saya masih belum menikah, jadi tanggungannya masih dari kami,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Dalam melakoni pekerjaannya itu, Warni selalu bersemangat dan berpikir positif. Sebab, selain untuk kebutuhan harian, selama satu tahun ia juga mesti menyisihkan uang pendapatannya untuk ditabung agar bisa pulang ke rumah keluarga besarnya Pulau Jawa setiap menjelang Idul Fitri.

“Sengaja saya menyisihkan uang penghasilan setiap hari, demi mudik ke Jawa. Saya ingin bertemu keluarga besar di sana. Kasihan juga suami saya kalau dia yang harus ke Lampung,” ujarnya sambil menundukkan kepala.(*)

Laporan Rudi Sabli


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top