“SETITIK AIR” AHMAD JAJULI: Setan dan Penebang Pohon


ILUSTRASI | Sejumlah anak-anak mengikuti pendidikan membaca Alquran di Masjid Al-Abror, Tanjungkarang Timur, Kota Bandar Lampung, | Rudi Sabli/duajurai.co

H Ahmad Jajuli SIP MSi | Anggota DPD RI asal Lampung

DAHULU ada seorang saleh dari kalangan Bani Israil yang hidupnya dihabiskan untuk beribadah kepada Allah SWT. Pada suatu ketika beberapa orang menghampirinya dan memberitahunya bahwa ada sebuah suku di sekitar tempat itu yang menyembah pohon yang mereka anggap keramat.

Kabar ini membuat si saleh gusar. Dengan menenteng kapak di pundaknya, orang saleh ini bertekad untuk menebang pohon itu. Dalam perjalanannya ke sana, setan menghampirinya dalam wujud seorang kakek tua. Setan bertanya kemana dia akan pergi. Orang saleh berkata akan menebang sebuah pohon yang dianggap keramat oleh penduduk setempat.

Setan berkata, “Kamu tidak perlu khawatir dengan pohon itu. Kamu lebih baik terus beribadah dan tidak perlu mengurusi sesuatu yang bukan menjadi urusanmu.”

Tapi orang saleh itu menyanggah, “Hal ini juga menjadi ibadah bagiku.”

Setan terus mencegahnya untuk menebang pohon itu. Dan pada akhirnya terjadilah perkelahian antara keduanya d imana orang saleh berhasil mengalahkan setan.

Setelah dikalahkan, setan memohon agar orang saleh mendengarkannya barang sejenak. Setelah orang saleh melepaskannya, dia berkata lagi, “Allah tidak mewajibkan kamu menebang pohon itu. Kamu tidak akan kehilangan apa-apa jika tidak menebangnya. Jika menebang pohon itu memang diwajibkan, maka Allah tentu telah memerintahkan salah satu dari nabi-nabi-Nya untuk melakukannya.”

Tapi orang saleh bersikeras untuk menebang pohon itu. Kemudian mereka berdua berkelahi lagi dan dengan mudah orang saleh mengalahkan setan untuk kedua kalinya.

“Kalau begitu dengarkan aku,” kata setan, “Aku ingin membuat penawaran yang akan menguntungkanmu.”

Lalu setan kembali berkata, “Aku tahu kamu adalah seorang miskin di mana hidupmu sehari-hari dipenuhi kesusahan. Jika kamu menjauh dari tekadmu untuk menebang pohon itu, aku akan membayarmu dengan tiga keping koin emas setiap harinya. Kamu akan menemukan koin emas itu di bawah bantalmu. Dengan uang ini kamu bisa memenuhi kebutuhanmu sehari-hari, dapat menolong saudara-saudaramu, menolong orang-orang miskin, dan melakukan banyak kebaikan lainnya. Menebang pohon hanya akan menjadi satu kebaikan, dan ini tidak ada gunanya karena penduduk setempat akan menanam pohon lainnya.”

Penawaran ini disukai oleh orang saleh dan dia pun setuju. Keesokan harinya setelah bangun tidur, dia mengecek di bawah bantalnya dan menemukan tiga keping koin emas seperti yang dijanjikan oleh setan. Dia merasa gembira dan wajahnya menjadi ceria.

Hari berikutnya dia kembali menemukan tiga keping koin emas di bawah bantalnya. Tapi pada hari ketiga tidak ada apa-apa di balik bantalnya. Koin emas yang dijanjikan setan tidak ditemukan di sana. Dia pun menjadi marah, mengambil kapaknya, dan tekadnya untuk menebang pohon itu kembali berkobar. Setan lagi-lagi dengan menyamar sebagai seorang kakek tua menghadangnya di jalan dan bertanya kemana dia akan pergi.

“Aku akan menebang pohon itu sekarang!” kata orang saleh.

“Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya,” setan.

Sebuah perkelahian kembali terjadi di antara keduanya tapi kali ini setan berhasil membuat orang saleh bertekuk lutut dan mengalahkannya. Orang saleh pun terkejut melihat dirinya dikalahkan setan. Dia pun bertanya kepada setan, “Kenapa pada saat pertama kali aku bertemu denganmu, kamu bisa kukalahkan dengan mudah? Namun kali ini berbalik kamu yang mengalahkanku dengan mudahnya?”

Setan menjawab, “Saat pertama kali, kemarahanmu tulus dan ikhlas karena ingin mencari rida Allah. Dengannya Allah pun membantumu untuk mengalahkanku, tapi kali ini kamu melakukannya hanya karena ingin mendapatkan koin emas itu dan maka dari itu kamu pun kalah.”.

Pesan moral dari kisah ini adalah ketika kita melakukan suatu amal kebaikan, niatkanlah hanya untuk mencari rida Allah. Kita juga bisa mengalahkan setan jika bertakwa kepada Allah.

Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wataala, “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabb-nya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” QS An Nahl: 100.(*)


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top