PUASA SANG DUAFA: Kisah Maman Si Pemulung Tahan Lapar karena Tak Punya Uang


Maman | Rudi Sabli/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sebagai pemulung, penghasilan Maman (53) tak menentu. Rerata hasil keringatnya sekitar Rp25 ribu-Rp40 ribu per hari. Bahkan, terkadang warga Jalan Sarijo, Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Telukbetung Utara, Bandar Lampung, itu sama sekali tidak memiliki uang.

Pernah suatu hari Maman menahan lapar lantaran tidak mengantongi uang. Kakek empat cucu itu memegang perut kosong yang terasa sakit. “Pernah tak makan seharian karena tidak punya uang. Saya sedih melihat istri yang kelaparan. Alhamdulillah entah dari mana ada orang yang memberikan uang Rp20 ribu pada malam hari. Barulah saya dan istri bisa makan,” ujar Maman dengan raut wajah sedih saat beristirahat di trotoar depan Hotel Amalia, Bandar Lampung, kemarin.

Ayah tiga anak itu mengatakan, bila memperoleh penghasilan Rp25 ribu-Rp40 ribu, dirinya menyetok mi instan. Persediaan itu sebagai bentuk antisipasi jika tidak mendapatkan hasil saat memulung. Sang istri juga menyisihkan Rp5.000 dari hasil keringat Maman. “Kalau sekarang masih cukup kok. Meski sering kekurangan, kami tidak ingin meminta kepada anak. Kami tak mau menyusahkan (mereka). Sebab, mereka pun belum tentu (punya uang),” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Selama Ramadan, Maman mengaku sulit memperoleh barang bekas. Selain banyak pemulung, masyarakat juga tidak banyak mengonsumsi saat bulan puasa seperti sekarang. “Sehari, penghasilan paling banyak Rp25 ribu. Tapi, ada saja orang yang memberi rezeki kepada saya,” kata Maman.(*)

Liputan ini merupakan kerja sama duajurai.co dengan NU Care dan LAZIS NU Provinsi Lampung. Setiap duafa yang menjadi narasumber mendapatkan santunan dari NU Care-LAZIS NU.

Baca juga PUASA SANG DUAFA: Berjalan Puluhan Kilo Tarik Gerobak, Penghasilan Maman Rp25 Ribu Sehari

Laporan Rudi Sabli


Komentar

Komentar

Check Also

Siap Jadi Kota ODF, 445 Rumah Tangga di Metro Masih BAB Sembarangan

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sebanyak 445 rumah tangga di 22 kelurahan di Kota Metro masih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *