PUASA SANG DUAFA: Kisah Sujarno, Penarik Becak yang Teteskan Air Mata Beli Obat Kakaknya


Sujarno, penarik becak, memperlihatkan santunan dari NU Care-LAZIS NU Lampung, Sabtu, 27/5/2017. | Rudi Sabli/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Sujarno (65) mengawali puasa perdana tanpa sahur. Ia bangun kesiangan, sehingga tak sempat mengisi perut.

“Saya bangun jam setengah enam pagi tadi. Lalu, mandi dan bersiap menjalani aktivitas seperti biasa,” kata Sujarno saat menunggu penumpang di Jalan Hayam Wuruk, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung, Sabtu petang, 27/5/2017.

Pukul delapan pagi, warga Jalan Hanoman Nomor 43, Bandar Lampung, itu melangkah keluar dari rumah. Ia jalan kaki beberapa meter ke tempat temannya untuk menyewa becak. Kemudian, Sujarno mengayuh becak menuju tempatnya biasa memangkal di Jalan Hayam Wuruk. Jarak dari Jalan Hanoman ke Jalan Hayam Wuruk kira-kira tiga kilometer (km). Sujarno menempuh jarak sejauh itu dengan perut kosong dan menahan dahaga.

Selain tak sahur, pria yang masih lajang itu juga kurang sehat. Ia sudah satu pekan menderita batuk. Namun, tak menyurutkan semangat Sujarno untuk berpuasa dan mencari nafkah. “Saya sekitar 15 tahun jadi penarik becak. Tiap hari, saya bayar sewa becak sebesar Rp5.000,” ujarnya.

Hingga sore tadi, Sujarno baru mengantongi uang sekitar Rp15 ribu. Mulai pagi mencari rezeki, ia hanya mendapat dua penumpang. Pengakuan Sujarno, selama menarik becak, penghasilannya paling tinggi sekitar Rp40 ribu per hari. “Uang hasil menarik becak untuk biaya hidup sehari-hari. Ya dicukup-cukupkanlah,” kata Sujarno seraya menunduk.

Belakangan ini, Sujarno tidak fokus menarik becak. Ia sering melamun. Pikirannya tertuju kepada kakaknya yang menderita stroke. Ia mengkhawatirkan sang kakak di rumah. Sujarno dan kakaknya menempati rumah peninggalan orang tua yang berdinding geribik. “Ketika sedang menarik becak, saya sering memikirkan kakak di rumah. Apakah kondisinya baik-baik saja. Saya takut ia terjatuh,” ujarnya dengan suara bergetar.

Beberapa waktu lalu, lanjut Sujarno, sang kakak pernah meminta uang Rp10 ribu. Uang tersebut untuk membeli obat antinyeri. Namun, Sujarno hanya punya uang Rp5.000. “Saya meneteskan air mata waktu memberi uang tersebut. Saya berharap, pemerintah setempat dapat membantu biaya pengobatan kakak saya,” ucap Sujarno.(*)

Liputan ini merupakan kerja sama duajurai.co dengan NU Care dan LAZIS NU Provinsi Lampung. Setiap duafa yang menjadi narasumber mendapatkan santunan dari NU Care-LAZIS NU.

Laporan Rudi Sabli


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top