Kafe Juwe Kupas Jurnalisme Lampung, Tiga Jurnalis Senior Ini Pembicaranya


Dari kiri ke kanan: Pemred duajurai.co Juwendra Asdiansyah, Budi Hutasuhut, Oyos Saroso HN, dan Hermansyah foto bersama usai mengisi Kafe Juwe di Studio Radio Andalas, Way Halim, Bandar Lampung, Jumat, 5/5/2017. Kali ini, Kafe Juwe yang dipandu Juwendra mengupas jurnalisme di Lampung. | Imelda Astari/duajurai.co

BANDAR LAMPUNG, duajurai.co – Kafe Juwe kembali mengudara di Radio Andalas 102,7 FM, Jumat, 5/5/2017. Kali ini, acara talkshow yang dipandu Pemimpin Redaksi (Pemred) duajurai.co Juwendra Asdiasnyah itu mengupas jurnalisme di Lampung.

Juwe mengatakan, tema itu dipilih karena masih hangat momen Hari Kebebasan Pers Internasional yang jatuh pada 3 Mei lalu. Untuk itu, Kafe Juwe menghadirkan tiga jurnalis senior di Lampung guna mendiskusikan hal tersebut. Ketiganya, Hermansyah (inilampung.com), Oyos Saroso HN (teraslampung.com), dan Budi Hutasuhut (periset bidang komunikasi-penulis lepas). Selain jurnalis senior dan kini sama-sama “bermain” di media online, sinonim ketiganya adalah pernah menggawangi Lampung Post, koran berpengaruh di Bumi Ruwa Jurai.

Dalam pengantarnya, Juwe menyampaikan perkembangan media di Lampung yang kini bergeser ke media online. Kini, hampir semua pembaca media cetak sudah mulai beralih ke media online untuk mendapatkan informasi terkini. Sejalan dengan itu, pertumbuhan media online di Lampung pun kian pesat, bahkan terbilang sangat pesat. “Kalau penulis sering menganalogikan sesuatu yang cepat itu bagai jamur pada musim hujan. Nah, kalau media online ini bahkan lebih cepat pertumbuhannya dari jamur pada musim hujan,” kata Juwendra.

Pada talkshow tersebut, dikupas pandangan Budi terhadap perkembangan media daring di Lampung. Bagaimana memanfaatkan media siber bukan hanya membagikan berita, tetapi juga mestinya bisa dimanfaatkan dalam segi bisnis.

Sementara, Oyos menceritakan kisahnya membuka media online di Lampung. Teraslampung.com yang dia dirikan adalah salah satu pioner media online serius di Lampung. Oyos menyampaikan bahwa awalnya cukup kesulitan beradaptasi dengan media online karena puluhan tahun bekerja di media cetak.

Sedangkan Hermansyah memberikan pandangan bahwa para pelaku termasuk juga pembaca masih gagap terjadap media online. Bahkan, masih ada pemerintah daerah yang alergi terhadap media online karena berpikir kuno.(*)

Laporan Imelda Astari


Komentar

Komentar

Check Also

Tangani Covid-19, Nanang Minta Dinas Kesehatan Lamsel Fokus 3 Kecamatan

KALIANDA, duajurai.co – Bupati Nanang Ermanto meminta Dinas Kesehatan Lampung Selatan untuk berkonsentrasi di tiga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *